Senin, Mei 11, 2009

(Nggak) Ikut Pasangan.

Adisti niiiih! Kemarin katanya mau mempbulikasikan her latest 'love' story. Ditunggu-tunggu, mana? Mana? JJTJBMTM niiih.

Yang bisa nebak kepanjangan JJTJBMTM dapat hadiah! *deu, pada semangat deh*

Ya uwis, saya yang cerita deh...

Tanpa bermaksud cari gara-gara pada orang yang berdomisili di Bali, saya mau membuat pengakuan : saya nggak betah di Bali. Ini bulan ketiga saya pindah, dari Jakarta ke sini. Sering saya merasa kangen Jakarta dan teman-teman di sana. Bali itu enak buat liburan, tapi untuk hidup, buat saya pribadi, nggak cocok. 'Kecepatan'nya nggak sesuai dengan 'kecepatan' saya.

Makanya pas kemarin sakit, mendadak kangen Jakarta. Kangen rumah. Kangen teman-teman. Biasalah, kalau sakit kan suka mellow sumrellow nggak jelas. Hasilnya, begitu sembuh dikit, weekend kemarin saya nekat aja gitu cabut ke Jakarta. Gila, gaya bener ya...

"Weekend di mana,Lex?"
"Di Jakarta nih..."

Eh, tapi nggak deng, Bali - Jakarta - Bali, mah (mungkin) masih wajar. Yang nggak wajar kalau saya bilang weekend pas Sabtu di Madrid. Minggunya di Hongkong.

Heu ngelantur.

Di Jakarta, saya sempat ketemuan dengan beberapa teman, salah satunya Kiara, adik kelas saya jaman kuliah, yang mencekoki saya dengan dongeng bawang putih-bawang merah ibu mertuanya. Eh calon ding. Nggak sempat ketemuan Adisti, tapi sempat ngegosip lewat telepon.

It's good to be there again. Sekarang sudah kembali lagi deeeh.

Seriously, saya merasa tercerabut dari lingkungan pergaulan saya sejak pindah ke Bali. Bukan berarti di sini saya nggak punya teman. Ada kok. Tapi ya gitu-gitu aja. Yang lumayan 'deket', Cecil teman se-kost yang entah kenapa, kok saya ngerasa dia nggak suka saya. Ada Anna, teman sekantor. Ada Marco, si pacar, tentunya.

"Lex, manyun aja loooo. Makan siang yuk!" celetukan Anna mengagetkan saya.

Saya mendongak. Perempuan itu nongol dari bagian atas kubikel saya.

"Semacam homesick, ya?" Anna mengerling.
"Begitulah..."

....

"Kenapa dong, lo nekad pindah ke Bali?" tanya Anna, saat kami menikmati lunch di sebuah kafetaria dekat kantor.
"Mmm.. alasan dangkal. Biar deket pacar..." saya nyengir.
"Ah I see." Anna mengangguk-angguk bak burung kakaktua,"Lo tuh, kayak udah nikah aja, pake sok-sok-an ikut suami."
"Yaaa gimene doooong. Gue capek pacaran jarak jauh."
"Nekad juga lo ya, main pindah, tanpa survey-survey keadaan, nggak pakai mastiin lo bakal cocok apa enggak lebih dulu. Main pindah, aja... ninggalin semuanya." Anna menggelengkan kepala.
"Iya, kalau dipikir-pikir, gue nekad. Di Jakarta, gue udah punya klien ini-itu, di sini, gue harus bangun network dari awal lagi. Di Jakarta, gue punya teman-teman yang cocok, di sini, gue awalnya nggak kenal siapa-siapa kecuali pacar gue..."

Mendadak saya merasa..... bahwa saya nekad sekali!

"Duh, gue aja, yang udah married nggak apa-apa tuh, ngejalanin long distant marriage." kata Anna.

Iya, dia pernah cerita bahwa ia dan Donnie, suaminya, berkeluarga jarak jauh. Suaminya bekerja di salah satu LSM internasional, tadinya di Yogyakarta, sekarang pindah ke Makassar. Ia tetap di Bali, tinggal bersama orangtuanya dan putri cantiknya.

"Hebat lo. Gue sih mana tahaaan..."
"Yah, mau gimana lagi, dong? Di sini lapangan pekerjaan yang sesuai minat Donnie nggak ada. Lah kalau gue pindah di sana, lapangan kerja yang sesuai dengan gue, juga nggak ada. Jadi daripada saling menghalangi, ya jalan tengahnya begini."
"Mau sampai kapan?" tanya saya.
"Mmm, sampai kontrak kerja Donnie habis. Sekitar akhir tahun depan, lah. Udah gitu kita bahas lagi mau gimana-gimananya." Anna mengedikkan bahu.
"Gile, masih lama ajaa."
"Ya, iya siiih. Tapi kan nggak apa-apa juga, seenggaknya dalam sebulan, Donnie seenggaknya dua kali ke Bali."
"Tapi tetep ajaaa..."

Anna tersenyum simpul. Lalu kami terdiam dan menikmati makan siang kami masing-masing.

"Banyak yang menentang keputusan kami. Malah banyak yang menjudge saya sebagai istri yang nggak beres karena nggak mau ikut suami." Anna mencibir.
"Terus..."
"Ya mau gimana lagi? Mereka terlalu kuatir bakal terjadi apa-apa. Buat gue sih, kalau berhubungan jarak jauh dengan pasangan, jalanin aja dengan pikiran positif. Jangan mikir yang enggak-enggak..." katanya.
"Maksud pikiran yang enggak-enggak apa?"
"Ya itu, takut pasangan selingkuh, lah, atau nakal-nakal gitu deh."
"Oh. Hm. Gue nggak mikir ke sana kok." saya tersenyum.

Serius. Sekalipun saya nggak pernah berpikir ke sana.

"Jadi kenapa, lo sampai bela-belain tinggal dekat pacar lo, padahal lo nggak hepi-hepi amat di tempat itu?" kening Anna berkerut.
"Susah komunikasi..."
"Lah, ada hp, ada internet, ngobrol bisa pake webcam."
"Gue..." saya menunda kalimat sejenak,"... gue adalah orang yang selalu membutuhkan kehadiran pasangan. Gue suka melihat langsung pasangan gue saat komunikasi, gue suka frustasi kalau kangen hanya bisa dilampiaskan lewat telepon atau chatting. Gue suka sedih kalau pasangan dalam keadaan bad mood atau sakit, tapi gue nggak ada di sampingnya."
"Wow." Anna tersenyum.
"Ya gitu deh, gue mah nggak mikir soal selingkuh-selingkuhan."

Kami pun kembali menikmati makan siang kami yang hampir tandas.

Tiba-tiba, terlintas pikiran mengenai Si Mamah, yang dulu di'paksa' meninggalkan Jakarta, ke Papua, karena Si Papah tugas ke sana. Berdasarkan cerita, si Mamah baru saja merintis usaha katering-nya dengan Tante Allie, sahabatnya. Padahal setahu saja, itu adalah passion si Mamah, yang lulusan perhotelan tersebut. Si Mamah betah nggak ya, di Papua waktu itu? Merasa tercerabut juga nggak ya, dari lingkungannya? Merasa mimpinya di'mati'kan nggak ya?

Anyway, apa memang perempuan ditakdirkan untuk ngintil pasangan? Jarang sekali saya mendengar, perempuan yang diintili pasangan. Jika menikah, yang umum adalah istilah 'ikut suami.' --- Ada nih, sepupu saya, yang mengikuti istrinya ke Yogyakarta, karena istrinya PNS, dosen yang mengajar di salah satu universitas negeri. Istri sepupu saya ini, sangat mencintai pekerjaannya dan nggak rela meninggalkannya. Maka, sepupu saya lah yang mengalah, dari Jakarta, pindah ke Jogjakarta. Reaksi orang-orang begini : 'Lah, biasanya cewek yang ikut suami, lah kok ini kamu yang ikut istri. Ada-ada aja..."

Eh bentar...

Lah, saya kan belum menikah?

Benar juga kata Anna! Ngapain saya sok-sokan 'ikut suami'.

Doh!

Balik ke Jakarta aja gitu?

Ini kenapa pilihannya nggak ada yang enak gini sih. Ikut Marco tapi nggak betah, nggak ikut Marco, tapi saya.... ingin berdekatan dengannya, saat dia sakit, saat dia senang. Mengatakan langsung di depan mukanya bahwa saya sayang padanya. Memeluknya...

Ribet.

Sumber gambar : http://www.ridiculouslybadass.com

E-baby! Entri ini buat kamu... ;-) *LAAAAH Sempet curhat!!!!*

14 komentar:

Ade mengatakan...

Singkatan JJTJBMTM : Janji Janji Tinggal janji Bulan Madu Tinggal Mimpi

huff.. buru2 posting sebelum baca hehehehehehe.. berharap dapet hadiah notes yang keren ituh

alexa Van Lajangdanmenikah mengatakan...

yang bilang dapet notes siapa?
dapet ciuman kok... dari saya...
mwah...
hahahahah...

desty mengatakan...

uuh..baru mau nulis kepanjangan dari JJTJBMTM, tapi liat hadiahnya..ga usah ah..saya komen lain aja
menurut saya Anna bener juga (itu yang saya alami). Berhubung kerjaan kamu fleksibel dan di Bali peluang bekerja seperti itu ada, jadinya kamu bisa dengan mudahnya pindah ke Bali. Tentu saja alasan yang kamu pake ya tetap Marco.
Coba kalo situasinya kayak Anna...pasti berpikir panjang deh buat ikut (calon) suami...
Kok sekarang jadi situasi yang mengatur jalannya suatu hubungan ya, Lex?

ike mengatakan...

mbak alex, mampir2 ke blog saia juga yah... biar tau gmn kehidupan lajang di kota kecil... hehe THX!!!

enno mengatakan...

yg penting jd diri sendiri aja lex... mana yg lbh enjoy buat kamu, itu yg dijalanin :)

astried&benget mengatakan...

aku dr pacaran sampe skarang udh kawin (baru 6 bulan) masih juga jarak jauh, tapi yaa hampir setiap minggu sih ktemunya.. berat di ongkos, tapi mo gimana lagi.. heheehehe

mel@ mengatakan...

salam kenal ya mbak...

sekarang siy lagi LD sama misua... maklum anak pertama umur 1 tahun... truss lagi hamil muda 1 bulan... jadii ngungsi dulu ke ortu... minta bantuan ngurus... kalo dipaksain kasian yang didalem... hehehe...

terpaksa de misua bolak-balik jakarta-malang... seminggu sekali naik bisnis... buat menghemat ongkos... hehehe...

alexa Van Lajangdanmenikah mengatakan...

desty:
kenapa? kenapa ga jadi nebak? ;-) BTW, iya ih, kenapa jadi kondisi yang menentukan. Hmpf.

ike :
sipp. meluncuuuur! ;-)

enno:
nah, yang mana, masalahnya? hehehe

astried:
iya berat diongkos dan berat di kangen. *curcoool mulu neh gw*

mela:
mela di jakarta atau di malang?

vanillablue mengatakan...

jangankan pacar...
saya aja baru punya kecengan di luar sono pengen banget nengok die di sana...
sampe bela2in nabung biar akhir taun ini bisa ke negeri singa itu...hehe...

denny mengatakan...

ikut mana yg lebih bikin tenang buat kita aja...

cahaya mengatakan...

uuhh...ini yang saat ini terjadi pada saya. Bukan hanya masalah kerjaan, tapi masalah hati. Sebagai anak yg tak pernah pisah dari ortu rasanya berat harus ngintil suami...tapi gimana lagi. Itu harus!!! Aku setuju sama mbak Alexa, bukan karena ada rasa curiga kita ikut tapi karena rasa sayang kita...uhmm...aku rasa sich mbak alexa isa menghadapi ini semua kok, karena mbak udah siap dan niat, masalah teman saya rasa mbak alexa bukan orang yang gak gampang mendapat teman :D semangat ya mbak...Mbak pasti isa kok bertahan di Bali
salam kenal nya lupa :D salam kenal mbak alexa oya untuk mbak adisti dan mbak cecil juga :D
GBU

Arman mengatakan...

hmmm kalo menurut saya, emang pasangan menikah (apalagi kalo udah anak) ya sebaiknya gak tinggal terpisah. namanya juga keluarga, harus bersama2 dong...

nah trus siapa mesti ikut siapa?

gimana kalo gak perlu ada yang ikut siapa2?

jadi didiskusikan aja bareng2 untuk menentukan mau tinggal dimana. jadi bukan siapa ikut siapa lagi. kalo kebetulan diputuskan untuk tinggal di kota tempat suami tinggal ya karena emang keputusan berdua mau tinggal disitu, begitu juga kalo emang diputuskan mau tinggal di kota tempat istri tinggal. kalo perlu... cari kota lain aja untuk tinggal... selama tetep bisa bareng2, gak ada salahnya mencoba kan... :)

jadi balik lagi kalo menurut saya, gak perlu ada istilah siapa ikut siapa, ntar kesannya ada yang lebih berkorban untuk pasangannya, ada yang lebih merasa perlu dikasihani, yang akhirnya jadi timpang...

soRella mengatakan...

ah senangnya punya suami yang fleksibel, kalo memang karir dan masa depan saya lebih bagus, dia bersedia ikut saya... emang sih omongan orang suka miring, tapi biarin aja..kita yang ngerasain hidup kita sendiri kok :D

Esa mengatakan...

Hai, baru nemu blog ini, asik banget isinya. Salam kenal ya. Sejak pacaran sampe sekarang menikah kurang dari setahun, saya masih LD. Waktu kemudian suami saya memutuskan untuk pindah ke kota tempat saya bekerja, semua langsung ribut. Klise, kenapa suami yang ikut istri. Tapi suami saya bilang: kalo semua omongan orang didengerin, bisa-bisa kita ga bisa keluar pintu rumah sendiri hehehe.

Blog Widget by LinkWithin