Hey Grandma, Let's Do It Mother's Way

by | | 0 komentar


Sebelumnya saya bilang dulu, entri ini bakal terdengar saat 'ibu-ibu' sekali Ya, bahkan untuk saya yang memang ibu-ibu. Mau sharing soal cerita mendidik anak. Sejak awal menikah dan punya anak, saya sudah mengukuhkan diri sebagai ibu-ibu yang jauh dari cerewet. Hal ini makin mantap saat saya melihat seorang tante saya yang super cerewet, segala macem dikomentarin, segala macem ga boleh, ini itu dibikin susah. Alhasil, anaknya yang 2 orang seperti udah kebal aja denger ibunya ngomong. Abis ngomongnya kebanyakan dan saat ngomongnya memang yang penting, malah ga didenger sama sekali.

Satu hal juga, saya paling benci liat anak yang cengeng. Pernah nih ya, saya makan di Yoghurt Cisangkuy, di meja sebelah ada stau keluarga yang bawa anak kecil umur 5 taunan gitu. Si anak minta minum ceritanya. "aaaa, aku mau minuuummmm". si ibu belum bereaksi. Anaknya teriak lagi, "mamaaaaaaa, aku mau minuuuummm". Teriakan kali ini dibarengi dengan gebrak-gebrak meja dan kaki yang disentak-sentak. Saya udah langung otomatis kerut kening. Adegan itu diulangi beberapa saat sampe membuat saya berasa pengen teriak, "kasih aja minumnya KENAPA SIH???"

Begitulah, dalam rangka mengajar anak tidak cengeng, saya jadi berusaha mengajar Freiya lebih keras daripada ibu-ibu pada umumnya. Tapi kenyataan bahwa Freiya lebih banyak menghabiskan banyak waktu sama oma nya daripada sama saya membuat metode saya ini belum bisa dibilang berhasil rupanya. Dan tau dong, oma-oma? selalu manjain cucunya, tipikal banget. Makanya anak-anak yang suka diasuh sama omanya, emang suka ekstra manja, segala-gala dibelain, segala-gala boleh. Saya cukup kaget waktu di rumah pagi-pagi sama Freiya, eh dia pengen baso Cuankie, ampuuun deh.

Mengasuh anak berdua dengan oma nya (kadang jadi berTIGA dengan opanya sekalian) memang bukan perkara mudah. Ada banyak metode yang tercampur-campur, bahkan seringkali bertentangan satu sama lain. Dalam kasus saya, jujur saja semuanya terasa lebih mudah. Pasalnya mama saya orangnya cukup modern untuk kelas oma-oma. Dan lagi, asyiknya mama saya itu selalu ngalah setiap kita punya persepsi yang berbeda soal ngurus anak. Iya, ngalah saat saya ada. tapi kalo saya lagi pergi kerja, ya... mana tau? hehe.

Satu kali saya pernah pergi makan dengan seorang teman yang membawa serta ibunya dan anak bayinya. Pas tengah-tengah ngobrol, si nenek mengeluarkan mangkok bekal sang bayi. Teman saya protes, "nanti aja Mam, dia baru minum susu". Si nenek ngotot merasa bener, "ya gapapa, mumpung makanannya masih panas". Mereka berdebat sebentar dan cukup membuat saya pengen bilang sama ibunya, "udah dong Tante, ini kan anaknya". Mama saya, alhamdulilah, tidak pernah mau repot-repot berdebat soal hal-hal begituan. Atau mungkin saya juga yang ngga terlalu banyak aturan, kasih makan ya kasih makan ajalah, kalo masih kenyang ya anaknya juga pasti ga mau. As simple as that. Kenapa
harus berdebat?

Sepupu saya yang nasibnya harus bekerja seperti saya, terpaksa menitipkan anak perempuannya pada ibu mertuanya, malah selalu berdebat soal hal yang lumayan prinsip. Dia ngga mau kalo anaknya pake diaper setiap hari. Sementara si mertua males aja kali ya kalo harus ngepel-ngepel. Jadilah mereka kucing-kucingan. Saat sepupu saya pulang kerja, si anak dilepas diapernya, tapi kalo si sepupu lagi kerja, there you go, a little girl with her diaper, all day long, haha.

Oh ada lagi tuh temen saya yang kerjaannya berantem sama ibu mertuanya perihal ngasuh anak, si nenek maunya anak kecil itu ya main aja yang seneng sementara anak saya yang lumayan terobsesi anaknya masuk sekolah unggulan (oh sungguh tipikal ibu-ibu seumur saya), menuntut anak umur satu tahunnya belajar baca setiap hari, minimal 20 menit, dibagi dalam 2 sesi, pagi dan sore.

Diantara banyak cerita mengasuh ini, satu hal yang selalu merekat di kepala saya adalah, "come on Grandma, do it Mother's way". Dengan dasar bahwa ngga ada ibu yang mau hal jelek buat anaknya, dan juga ngga ada nenek yang mau hal jelek buat cucunya. semua pasti dengan alasan masing-masing. Tapi juga oenting sekali untuk memperhatikan apa yang seorang ibu mau untuk anaknya. Toh si nenek sudah PUAS sendiri mengasuh anak-anaknya dulu kan ? Eh apa jangan-jangan nenek-nenek jaman sekarang ini dulu juga direcokin ibunya sendiri ya? atau mertuanya? hehehe.... Ya, meskipun kalo boleh, saya mau komentar "yaiyalah enak pake diaper" pada sepupu saya :) Hari gini gitu lho. Juga pada teman saya yang terobesi anaknya jadi genius itu lho, pengen deh komentar "trus kalo anak lu genius lu mau apa sih?". Tapi hak untuk menetapkan metode apa yang akan dipakai dalam mengurus anak, tetap ada di tangan ibunya.

Satu cerita dari saya, sewaktu 2 bulan pertama saya melahirkan, saya sempat tinggal di rumah nenek saya. Tidak seperti mama saya, si oma saya ini orangnya hobby ngatur, makanya sekeluarga manggil beliau "Sang Sutradara". Semua hal jadi bahan debat antara kami. Dan puncaknya adalah soal jemur bayi pagi2. Freiya itu kan kebluk alias suka banget tidur, alhasil tiap pagi dia kelewatan matahari pagi dong. Oma saya komplen habis, katanya bayi itu harus dibangunin dan dijemur pagi-pagi, supaya nanti terbiasa bangun pagi katanya. Sementara menurut saya, mau ngapain bangun pagi2? kan ngga musti sekolah? Yah, supaya saya juga ngga usah bangun pagi-pagi, hehe. Di puncak perdebatan kami, saya udah ngga tahan lagi, saat itujuga saya panggil taxi dan barang-barang Freiya yang seabruk itu saya bungkus ke dalam beberapa dus dan plastik, pergilah saya dari rumah si Oma, pindah!

Makanya saya bersyukur sekali karena mama saya nggak pernah-pernahnya ngomel ngajak debat soal ngasuh Freiya. Tapi minggu lalu, rupanya terjadi juga perdebatan itu. Saya di kamar berdua Freiya, mama saya waktu itu kebetulan masih di rumah, belum pulang. Di dalam kamar, Freiya nangis karena abis saya marahin. Dia nangis, saya diamkan. Lama kelamaan nangis nya makin keras. Saya tambah diamkan. Mama saya di luar kamar rupanya sudah resah. Freiya merasa ngga nyaman bareng saya di kamar, dia ribut minta keluar mau ke omanya. Saya bersikeras menutup pintu kamar bahkan lalu menguncinya. Ngga tahan, mama saya menggedor kamar minta Freiya dikeluarin. Seketika rusaklah sudah metode saya mengajar Freiya supaya ngga cengeng, seketika pula mama saya berubah menjadi peri baik hati, dan saya menjadi penyihir jahat :)

Saya sebetulnya sempat nggak terima dengan keadaan seperti itu, Freiya seperti lebih nyaman bersama omanya daripada sama saya, ibunya. Tapi adanya mama saya yang selalu bisa jagain Freiya kan anugerah luar biasa ya, kebayang aja kalo mama saya serese ibunya temen-temen saya tadi, heuuu males atuh tiap hari berdebat :)

Seks itu susah....

by | | 13 komentar

"Hadoooooh....." kawan saya menepuk jidatnya seusai bercerita tentang kelakuan adik bungsunya yang cowok. Umurnya (-nya, adiknya, bukan kawan saya) kurang lebih lima belas tahun. Menurutnya barusan, sang adik kepergok sedang melihat video klip bokep di salah satu situs serupa youtube, tapi kheuseus untuk jenis film porno. (And, no, I won't mention the URL here, ntar pada doyan :D).

"Terus, terus, lo apain?" tanya saya.

"Ya gue marahin lah bok! Mau diapain lagi coba?" jawabnya,"Gue bilang dosa liat begituan..."

"Basi ah lu." saya tertawa.

"Ih, elu yeeee...." ia pun mendelik.

"Lu nggak sekalian bilang bakal masuk neraka kalo liat bokep?" saya meledeknya lagi.

"Er, gue bilang gitu sih. Supaya dia nggak liat-liat lagi."

"Halaaaah..." saya tertawa lagi,"Dan elo pasti ngomongnya sambil marah-marah dan panik-panik."

"YA IYALAH! Anak umur lima belas tahun liat bokep! Adik gue sendiri boook! Pokoknya gue ga mau dia liat bokep lagi!!!"

Saya mendadak teringat dengan kawan perempuan saya di masa kuliah dulu. Ceritanya, waktu itu, tanpa sengaja ia menemukan laser disc bokep di laci oom-nya, maka menontonlah ia. Dan sialnya ketahuan oleh -nggak tanggung-tanggung- ibunya. Yah, kena marah lah ia katanya, menonton film porno itu dosa besar, apalagi melakukannya. Seks adalah dosa. Dan puncaknya adalah, seluruh LD bokep oomnya dibakar. (oh kasihan sekali oomnya, secara LD itu mahal ya bok)

Terus, apakah kawan saya jadi takut 'dosa' setelah itu? Nggak ya bok. Dia-lah yang pertama kali memberi usul untuk iseng menonton bokep pada kawan-kawan se-gengnya di masa kuliah, termasuk saya.

"Ngng, nggak tau ya, emangnya kalo ditakut-takutin itu dosa, dia bakal berhenti?" tanya saya,"Siapa yang jamin dia nggak nonton diem-diem lagi, di tempat lain?"
"Itu diaa.. ngeri gue." kawan saya menghela napas.
"Ngng, emang apa salahnya sih nonton bokep?" iseng saya bertanya.
"AH GILA LO!" kawan saya mendelik lagi,"Kalo gara-gara itu dia jadi terdorong buat melakukan hubungan seksual, apa kabar hidupnya?"

Iya sih. Apa kabar ya, kalau ternyata, dengan pengetahuan minim dan konsep yang salah tentang seks --- hanya bersumber dari tayangan klip porno, yang mostly sama sekali nggak edukatif, kecuali untuk gaya-gaya berhubungan seksnya :P --- gawat saja, kalau adiknya kawan saya jadi terdorong untuk 'mencoba'nya.

Harus nikah karena menghamili anak orang. Doh, pipis aja belum lempeng, kerjaan nggak punya, berkeluarga? Yasalam.

Atau ditangkap polisi karena melakukan sexual harrasment. Atau karena mendadak narsis merekam aktivitas dan tersebar di internet.

Atau terkena penyakit menular seksual.

Gawat beneran. Banyak banget kemungkinannya. Bukan sang anak saja yang masa depannya hancur, tapi keluarganya.

"Ehm, lo nggak ngejelasin tentang apa yang diliatnya?" tanya saya.
"Maksud lo?"
"Ya jelasin aja, itu lagi ngapain, risikonya gimana kalo dia nekat ngelakuinnya, siapa yang boleh ngelakuinnya etc."
"Doh, manalah gue kepikir buat ngasih sex education, keburu panik duluan gue..."
"Sebelumnya, pernah ga adik lo diceritain soal seks?"

Kawan saya menggeleng.

Ah, orang dewasa ini. Kalau soal seks, aja, pasti menutup-nutupi, mentabukan. Begitu si anak tau dari luar, eh, panik jaya.

Jujur saja, waktu kecil saya tidak pernah sekalipun mendapat proper sex education. Yang sering saya dengar dari mulut orangtua saya adalah mitos : adik bayi dikirim lewat langit-langit rumah. Bahkan untuk menyebut kelamin pun, harus pake metafora.

Saya baru tahu perkara seks ini dari guru biologi SMP. Plus waktu SMU, dua kali ada 'acara' nonton film dokumenter sebagai bagian dari program sex education --- saya lupa judul-judul filmnya, tapi yang satu menceritakan tentang apa akibat (buruk)nya jika kita melakukan hubungan seksual secara tidak bertanggung jawab --- yang jelas akibat buruknya ekstrim banget lah. Sedangkan film yang lain, menceritakan tentang proses aborsi. Ya ampuuun, itu sih ditunjukan bagaimana proses aborsi, yang nonton jadi mual dan sedih. Yang ada begitu selesai menonton film kedua, mata kami memerah karena semua menangis. :)

Tapi kedua film tersebut --- walaupun tanpa peringatan yang berhubungan dengan dosa--- mengena dan membekas sekali, pokoknya tertanam dalam benak bahwa tidak bertanggung jawab ujung-ujungnya sengsara. Yang jelas setelah SMU, biar pun sempat mengalami nakal-nakal remaja, semacam nonton bokep bareng (haha!), tapi ujung-ujungnya nggak babar-blas, ya gara-gara dua film itu. Nggak ada satu pun dari kami yang terjerat hal-hal buruk gara-gara urusan seks tak bertanggung jawab.

"Eh, kalo soal seksual dibilang dosa dan kotor, mungkin ga ujung-ujungnya adik lo punya konsep yang salah tentang seks, bahkan sampai waktunya nanti?" tanya saya, sebenarnya untuk diri saya sendiri.
"Nah lo. Iya ya?"

Akhirnya kami sampai pada satu kesimpulan, bahwa sex education itu penting ditanamkan sejak dini. supaya tidak terjadi hal-hal yang berbahaya yang berhubungan dengan 'salah menggunakan' perkara seks. Juga supaya tidak menimbulkan kesalahan konsep seks.

.....

Beberapa hari kemudian, saya mendapat 'tugas' untuk menjaga anak kawan saya yang terkenal kritis. Umurnya enam tahun. Saya membawanya ke sebuah tempat bermain dan kebetulan di sana ada seorang ibu hamil. Eh, nggak dinyana, mendadak anak kawan saya ini bertanya...

"Dedek bayi itu gimana bisa masuk ke perut mamahnya sih, Tante?"

Arrgh! Why me, why oh why?

Oke, baiklah, tentu saja saja saya tidak boleh bilang bahwa ada burung bangau diam-diam menyelinap ke dalam kamar bapak dan ibunya dan meletakkan adik bayi di sana. Tapi gimana coba menjelaskan proses 'penyerbukan' manusia dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna oleh anak berumur enam tahun.

Arrgh! Sekali lai : Why me, why oh why?

"Yang masukin ya papanya. Setelah menikah, karena papanya cinta, jadi dikasih hadiah adek bayi ke dalam perut mamanya" jawab saya setelah berpikir keras. Euh, jawaban yang terdengar konyol.

"Papanya masukin pake apa? dimasukin lewat apa? Perut mamanya dibuka?"

Yaolooooo. Tolong sayaaaa.

"Er, gimana kalo nanti kamu tanya mama dan papa kamu?" akhirnya saya menyerah dan melempar tanggung jawab pada kawan saya --- papa dan mamanya.

Lho iya dong, sex education itu selayaknya diberikan oleh orangtua dari anak kan? Dan saya bukan orangtua gadis cilik kritis ini.

Ya toh? Ya toh?

*hela nafas*

Seks itu, ternyata susah ya.... untuk dijelaskan :D


Mungkin harus ada kursusnya nih :)



"Young people need real sex education that provides them with all the information they need to stay safe and make healthy choices." (Angus McQuilken quotes)


Sumber gambar : sxc.hu

Si Lajang/Si Menikah : Monster Tukang Larang.

by | | 7 komentar
"Eh, Maia, nggak boleh buka-buka rok kayak gitu ah!" Icha mengerutkan kening, ketika putrinya yang berusia (kalau tidak salah) lima tahun mengangkat-angkat roknya. Maia mendelik pada Icha tanpa mengatakan satu patah kata pun, lalu berlalu dari hadapan kami,menghilang ke dalam kamarnya,"Hhhh, lagi demen-demennya ngelawan dia." desah Icha.
"Cha, Maia cantik ya?" kata saya tulus.
"Oh." Icha tersenyum sumringah. Ibu mana sih, yang tidak suka jika putrinya dipuji.
"Cepet gede aja, berasa lahir baru kemarin..."
"Iya, time flies..."
"Tau-tau udah remaja aja..."
"Duuh, ga kebayang..." Icha menggelengkan kepala.

....

Saya bersahabat dengan Icha sejak kami masuk ke SMA yang sama. And she hated her parents, khususnya ibunya. Soalnya, ibunya itu memang basi banget, banyak peraturan dan tukang ngatur. Emang sih, ibu-nya Icha kolot banget. Sori, sori aja ya, rada basi. Setiap hari harus sudah ada di rumah jam dua siang. Kalau weekend boleh sampai jam lima sore (Cuma kalau main ke rumah saya, boleh sampai jam tujuh atau delapan malam). Keluar rumah nggak boleh pakai celana pendek/rok mini. Harus pakai baju yang dibelikan ibunya (padahal aduh, baju-baju pilihan ibunya itu... enggakbanget! kalau nekad pakai baju itu keluar rumah, kau bakal jadi bulan-bulanan). Ke mana-mana harus antar jemput. Nggak boleh nginep-nginep. Nggak boleh pergi sama cowok (apalagi pacaran). Lalala.. Lilili.... pokoknya masih banyak lah, hal-hal yang membuat saya merasa beruntung, karena Ibunya Icha bukan Ibu saya.

Tapi Icha bukanlah anak penurut. Akibatnya saya sering jadi bumper ya, bok. Icha sudah pacaran sejak kelas satu SMA --- dan setiap ia hendak berkencan, ia akan meminta supirnya untuk mengantar sampai ke rumah saya. Dari rumah, ia meminta izin untuk main ke rumah. Begitu sampai di rumah saya, ia selalu mewanti-wanti saya

"Gue bilang, gue ke rumah lo. Jadi kalo lo ditelepon nyokap gue, jangan bilang nggak tau..."
"Lah terus gue kudu bilang apa dong, kalo nyokap lo nelpon...?"
"Apa kek..."

Daaan,akhirnya setiap ibunya Icha menelepon saat Icha sedang berkencan, saya harus menjawab "Ada tante, tapi lagi di toilet, ntar saya bilang kalo tante nelpon...". Untung saja, Icha selalu sudah ada di rumah saya sebelum supirnya menjemput, kalau nggak berabe, aja.

Kalau pergi dari rumah,tentu saja Icha memakai pakaian layak-pakai menurut standar ibunya, tapi tentu saja ia akan sangat niat segera mengganti bajunya dengan tanktop dan rok mini di toilet mall yang kami kunjungi.

Kalau saya disuruh membuat daftar kebadungan Icha (dan ehm.. saya.. juga sih), pasti bakal panjang sekali!

Saya masih ingat banget, suatu hari, saat kami mengobrol ngalor-ngidul di kamar saya sambil menonton film dan memamah popcorn, Icha sempat bertanya-tanya, kenapa orangtua itu hobi sekali melarang-larang.

Waktu itu saya hanya mengangkat bahu --- walaupun orangtua saya juga suka melarang ini dan itu, dan kadang saya bete juga; tapi saya sih nggak segitunya memberontak, nggak kayak Icha. Pada dasarnya, saya sebangsa orang yang malas berfriksi. Cinta damai, bok. Lagipula,orangtua saya tidak se-strict orangtua Icha. Segala larangan masih bisa lah, ditoleransi (walaupun nggak jarang juga saya menabrak larangan-larangan tersebut kecil-kecilan--- gimana ya, rules are meant to be broken, aren't they?)

Icha sempat memberi label Ibunya sebagai 'monster tukang larang' dan 'monster curigaan'. Menurut Icha, orangtua macam ibunya ini-lah yang membuat masa remaja jadi tidak indah.

"Pokoknya, kalo gue udah jadi ibu-ibu, gue mau bebasin anak gue kalo udah remaja, mau pulang malem kek, mau ngapain kek. Anak gue bakal gue kasih kepercayaan sepenuhnya. Gak deh, gue gak mau jadi monster tukang larang dan monster tukang curigaan. Biar anak gue menikmati masa remajanya.'

"Lagian,bukannya kalo semakin dilarang, anaknya bakal semakin memberontak? Siapa bilang anak di depan iya-iya, tapi di belakang nggak nakal-nakal? Daripada gitu, mending dilepas aja kali, ya nggak?" katanya lagi.

"Iya kali..."

....

Segala aturan dan segala curfew ala Ibu-nya Icha itu masih eksis, bahkan sampai ia lulus kuliah. Iya sih, agak melonggar, tapi tetap aja masih bisa dimasukkan dalam kategori kuno. Saya sempat ketawa-ketawa saat jam tujuh malam, di satu malam minggu, di umur Icha yang ke-23, mendadak sang Ibu meneleponnya dan menyuruhnya pulang. Ya ampun, dua puluh tiga tahun dan masih disuruh pulang! Dan saya tambah geli, karena melihat Icha ngomong "Iya bu, ntar lagi aku pulang." di telepon dengan suara ala anak manis sedunia, padahal ia memberot-berotkan mukanya tanda sebal.

"Gue pengen kawin aja deh, biar bebas dari aturan nyokap." kata Icha setelah telepon ditutup, sambil buru-buru menyeruput minumannya dan bersiap-siap untuk pulang.

Anyway, Icha menikah di usia dua puluh empat. Saya nggak tau dia menikah karena memang merasa sudah waktunya menikah, atau karena ingin bebas dari aturan ibunya.;-) Setahun kemudian, lahirlah Maia.

.....

"Kebayang ga sih lo, sepuluh taun lagi dia tau-tau bawa cowok, terus bilang 'Kenalin, ini pacar aku, Mama...'" seloroh saya.
"Hhh, iya euy, gue suka serem aja mikir gitu. Pengennya sih Maia nggak usah gede-gede lah, terus gue pingit di rumah."

Saya tertawa geli mendengarnya.

"Eh, gue masih inget lu dulu pengen ngebebasin anak lu mau ngapain aja..." cetus saya.
"Er, gue tarik deh perkataan gue. Seriusan, gue nggak mau ngebebasin blas anak gue ngapain aja, takut dia ngelakuin yang ga bener!"
"Emm, mungkin itu juga yang ditakutin nyokap lo sampe lo dilarang-larang segitunya."

Icha terdiam.....

"Iya sih, bisa jadi. Setelah punya Maia, gue jadi tau gimana perasaan nyokap gue dulu." katanya sambil menghela napas.
"Artinya lo mau mengekang Maia seperti nyokap lo mengekang lo?" ledek saya.
"Oh, tentu enggak. Gue nggak bakal deh terlalu kayak nyokap gue. Gue bakal mendidik Maia bebas tapi terkendali. Gue berusaha jadi sahabat Maia, supaya ntar kalo udah gede, dia bisa ngelakuin segala sesuatu tanpa harus sembunyi-sembunyi."
"Ah teooriiii..."
"Hu, liat ajaaa..."
"Baiklah. So, ntar kalo mendadak anak lo jujur sama lo dan bilang "Mama, tadi aku ciuman dong sama pacar aku. French Kiss, lho."
"IIIIH! GA MAAU..." Icha mendelik.
"Atau mendadak kalo dia bilang 'Mama, tadi toket aku dipegang-pegang sama pacar aku, kok rasanya gitu ya?"
"Ga mauuuu..." Icha mendelik sambil menggelengkan kepala.
"Atau..."
"Udah cukup! Jangan bikin gue pengen ngurung anak gue yaaaaaa..."

Dan saya pun ketawa-ketawa mendengar protes Icha.

Ehm, mendadak kepikir, jangan-jangan, begitu punya anak, memang seorang perempuan akan selalu menjadi monster tukang larang, karena kuatir pada anaknya?

If you've never been hated by your child, you've never been a parent.

Bette Davis

Thank you, Gaby, atas quotation pagi-paginya di twitter yang mendadak menginspirasi :)

sumber gambar : sxc.hu
Blog Widget by LinkWithin

QR

QR Code