Bukan Mahmud K

by | | 9 komentar
Saya baru mengenal Tanti sekitar setahun belakangan ini. Gara-garanya kami ikut yoga di tempat yang sama dengan jadwal yang sama pula. Perempuan berusia tiga puluh tiga tahun,menikah dan punya anak dua itu menyenangkan. Kocak. Nggak bakal berhenti ketawa kalau jalan bareng dia. Biasanya seusai yoga kami sering hangout bersama, juga bareng dengan teman-teman lain. Cuma, setelah bareng-bareng empat bulan, jadi tinggal kami berdua saja yang sering nongkrong bareng, yang lain selalu punya acara lain, setiap saya ajak. Malah satu persatu tidak meneruskan lagi.

Satu yang bikin saya nggak sreg adalah, Tanti itu, dia doyan banget belanja! Ya ampun! Dan bukan belanja di pusat grosir (seperti saya! haha), tapi di gerai barang ber-merk di mall. Duh, dia ini semacam Mahmud K. Mamah Muda Kaya. High Maintenance habis. Kadang-kadang saya berpikir, jangan-jangan Tanti punya pohon duit di rumahnya. Tapi ya sudah-lah, saya maklum, menurutnya ia bekerja di perusahaan multinasional, pemasukannya pasti gede banget --- dimerger dengan penghasilan suaminya, yang juga sama-sama bekerja di perusahaan besar. Cocok sudah. Untung ia kadang-kadang menurunkan standar-nya, saat nongkrong dengan saya. Kadang-kadang, dia juga menraktir saya ('kadang-kadang' yang terakhir ini, selalu membuat saya senang!)

Cuma dengan kehidupan yang serbeberkelimpahan tersebut, ia masih juga mengeluh. Kadang-kadang bosan juga sih mendengarnya --- karena ia selalu mengulang keluhan yang sama. Katanya enak banget saya masih lajang.

Ada kali sejuta kali ia mengatakan betapa enaknya jadi saya yang masih lajang ini. Oke, salah, saya hiperbola, dia baru 999.999 x kok mengeluh demikian. Menurutnya, kalau masih lajang, saya tidak harus memikirkan pengeluaran-pengeluaran rumah tangga, macamnya bayar listrik, bayar air, belanja keperluan keluarga, tagihan ini dan tagihan itu. Endeswey, endeskoy. Jadi lajang, pemasukan yang buat diri sendiri.

Saya sih percaya bahwa dalam setiap fase kehidupan itu ada enaknya ada enggaknya. Jadi lajang itu, selain enak karena pemasukan hanya buat diri sendiri, ada kok, yang nggak enaknya : ditanya kapan kawin eh nikah, tuh satu contoh.

Terus...

terus....

eh, bentar-bentar. Apa lagi yang nggak enaknya jadi lajang? Kok saya nggak nemu ya? :D

Anyway, ya gitu deh, Tanti bolak-balik mengeluhkan tentang banyaknya pengeluaran yang harus dihabiskan untuk keluarga. "Aduh, susah deh itu, yang namanya belanja buat nyeneng-nyenengin diri sendiri..." cetusnya.

Saya meledek, sambil menunjuk BlackBerry Javelin-nya, laptop SONY Vaio VGN-TT46GG merahnya, sepatunya yang keluaran Christian Louboutin.

"Susah ya, Neik, belanja buat nyeneng-nyenengin diri sendiri?"

Dan ia pun membalas sambil tersenyum malu.

Well. Saya percaya bahwa setiap pilihan pasti ada risiko-nya. Dengan menikah, artinya seseorang itu ya dengan sadar memilih untuk hidup tidak sendiri; berbagi suka-duka-tanggung jawab-kewajiban dan lain-lain. Kalau seseorang secara sadar memilih untuk menikah, sudah tentu siap dong sama risiko untuk 'membagi' hidup-nya dengan pasangan dan anak - kalau sudah punya, termasuk urusan finansial. Tul nggak?

Dan, enak-nggak enak itu sebenarnya masalah bersyukur saja sih. (Ya ampun, terdengar sangat relijius sekali si saya ini!)

....

Sudah empat bulan ini, saya tidak pernah mendengar keluhan Tanti. Bukan karena ia sudah berhenti mengeluh, ini karena tiba-tiba ia menghilang tak tentu rimbanya. Entah kenapa. Tidak pernah datang di kelas yoga. Dihubungi via handphone-nya, eh nggak aktif.

Sampai dua minggu yang lalu, mendadak ada sebuah nomor asing menghubungi saya. Ternyata itu nomor barunya. Ia bilang ia punya masalah; dan ingin bertemu dengan saya. Agak khawatir juga mendengar suaranya yang terdengar sangat sedih. Kami pun mengatur jadwal pertemuan; hari Jumat dua minggu yang lalu, dinner di sebua resto. Saya agak heran dengan penampilannya yang tidak sekinclong biasanya.

Sambil menikmati makan malam kami, ia pun menceritakan masalahnya. Katanya rumahnya akan disita sebentar lagi.

Eh lho? Kok Mahmud K sepertinya bisa bermasalah seperti ini ya? Saya mendengarkan ceritanya dengan seksama. Sambil menangis, ia menceritakan permasalahannya. Katanya suaminya diajak berbisnis oleh seorang perempuan cantik. Untuk modal, sang suami meminjam dari bank, dengan agunan sertifikat rumah. Lalu cerita belum berhenti sampai sana, akhirnya suaminya terpikat pada perempuan tersebut, berpacaranlah mereka. Suaminya menggunakan kartu kredit untuk membiayai kencan-kencan mereka sampai over limit. Lalu empat bulan kemudian, si perempuan ini kabur tak tentu rimbanya, meninggalkan hutang untuk keluarga Tanti. Gara-gara itu mereka sibuk menjual-jual seluruh aset berharga yang mereka miliki untuk melepaskan belitan maut hutang-hutang tersebut. Duh, ribet ya book. Pokoknya gitu deh ceritanya sepenangkapan saya, saya sih nggak mengerti soal hutang-hutangan.

Elahdhalah.Saya pikir cerita seperti ini cuma ada di sinetron. Lho kok ya ada di dunia nyata. Yang mengalami ada di depan saya pula!

Maksud ia bertemu dengan saya adalah untuk meminjam uang. Bukan untuk membayar hutang, tapi untuk biaya hidup mereka sehari-hari.

Miris saya mendengarnya. Jumlah yang ia pinjam memang tidak seberapa... eh lumayan seberapa deng buat saya, tapi kalau dibandingkan dengan jumlah hutangnya ke bank ya emang nggak seberapa.

Akhirnya, hari itu, saya meminjamkan sejumlah uang padanya. Saya bilang lunasi kalau memang dia bisa, boleh dicicil. Pusing lah ya bo, kalau saya juga memaksanya untuk membayar dengan tenggat waktu tertentu. Nggak apa-apa lah, biar nggak seberapa, gaji saya masi cukup kok untuk memuaskan kebutuhan saya --- kan saya semacam low maintenance girl. Sudah begitu lajang pula - dan parasit pula, di rumah orangtua; nggak kudu mikir pengeluaran rumah tangga.

Saya dapat satu pelajaran : jangan ngutang!

....

Anehnya, setelah transaksi peminjaman tersebut, mendadak ia menghilang lagi. Susah dihubungi. Seminggu pertama saya berusaha berpikir positif. Tapi memasuki minggu ke-dua, saya mendadak merasa nggak enak.

Akhirnya saya menghubungi beberapa teman yoga kami. Semuanya tampak malas begitu mendegar nama 'Tanti.' --- "Bermasalah parah itu orang!" hanya itu kata mereka.

Yang bersedia menceritakan lebih detil hanya Lila, setelah dia menanyakan,"Dia pinjem duit ke elo?"

"AH! I should've warned you!" kata Lila,begitu saya mengangguk.

Ternyata mereka juga mengalami masalah yang sama. Tanti meminjam uang dari mereka juga.

Dan Tanti menghilang begitu saja. Tapi dasar Lila, yang mungkin sewaktu kecil bercita-cita jadi detektif, ia menyelidiki keberadaan Tanti.

"Kayaknya elu musti ngerelain uang yang lo pinjemin deh." ujar Ida.
"Karena?"
"Er, dia itu nggak seperti yang dia ceritakan..."
"Maksud?"
"Dia nggak kerja di perusahaan multinasional, suaminya juga nggak."

Saya semakin mengerutkan kening.

"Tapi, dia... punya penyakit nggak bisa kontrol belanja. Makanya terlibat utang gede-gedean. Ceritanya tentang suaminya minjem duit di bank untuk modal bisnis, suaminya yang selingkuh dan lain-lain... er... sebenernya nggak bener. Dia kebelit utang credit card-nya. Ya gara-gara nafsu belanjanya itu."
"Sial." tiba-tiba saya geram.
"Bok, kita nggak bisa deh nagihnya. Soalnya... "
"Tapi utang kan utang?" potong saya.
"Ya, ngeliat keadaan aslinya dia mau bayar pake aja, coba?"

Saya terdiam.

"Lihat deh, nanti kalau kamu tagih excuse-nya pasti banyak. Dipecat dari kantorlah.kanker serviks stadium satu dan harus membiayai pengobatan dirinya seminggu sekali lah, keguguran. Sampai pada akhirnya memutus kontak dengan elu, ganti nomer, ngeremove elo dari facebook. Gitu deh."

Saya menghela napas.

Kenapa sih orang itu nggak bisa berpijak pada kenyataan saja? Nerima kemampuan dirinya apa adanya? Apa enak hidup bermasalah dengan banyak orang dan dibelit hutang? Masa hanya gara-gara keinginan untuk hidup bergaya high-maintenance, harus merugikan orang lain? Bukannya dengan bergaya hidup grosiran, kita juga nggak mati?


sumber gambar : gettyimages.com

There are plenty of ways to get ahead.
The first is so basic I'm almost embarrassed to say it:
spend less than you earn.
~Paul Clitheroe

Hey Grandma, Let's Do It Mother's Way

by | | 4 komentar


Sebelumnya saya bilang dulu, entri ini bakal terdengar saat 'ibu-ibu' sekali Ya, bahkan untuk saya yang memang ibu-ibu. Mau sharing soal cerita mendidik anak. Sejak awal menikah dan punya anak, saya sudah mengukuhkan diri sebagai ibu-ibu yang jauh dari cerewet. Hal ini makin mantap saat saya melihat seorang tante saya yang super cerewet, segala macem dikomentarin, segala macem ga boleh, ini itu dibikin susah. Alhasil, anaknya yang 2 orang seperti udah kebal aja denger ibunya ngomong. Abis ngomongnya kebanyakan dan saat ngomongnya memang yang penting, malah ga didenger sama sekali.

Satu hal juga, saya paling benci liat anak yang cengeng. Pernah nih ya, saya makan di Yoghurt Cisangkuy, di meja sebelah ada stau keluarga yang bawa anak kecil umur 5 taunan gitu. Si anak minta minum ceritanya. "aaaa, aku mau minuuummmm". si ibu belum bereaksi. Anaknya teriak lagi, "mamaaaaaaa, aku mau minuuuummm". Teriakan kali ini dibarengi dengan gebrak-gebrak meja dan kaki yang disentak-sentak. Saya udah langung otomatis kerut kening. Adegan itu diulangi beberapa saat sampe membuat saya berasa pengen teriak, "kasih aja minumnya KENAPA SIH???"

Begitulah, dalam rangka mengajar anak tidak cengeng, saya jadi berusaha mengajar Freiya lebih keras daripada ibu-ibu pada umumnya. Tapi kenyataan bahwa Freiya lebih banyak menghabiskan banyak waktu sama oma nya daripada sama saya membuat metode saya ini belum bisa dibilang berhasil rupanya. Dan tau dong, oma-oma? selalu manjain cucunya, tipikal banget. Makanya anak-anak yang suka diasuh sama omanya, emang suka ekstra manja, segala-gala dibelain, segala-gala boleh. Saya cukup kaget waktu di rumah pagi-pagi sama Freiya, eh dia pengen baso Cuankie, ampuuun deh.

Mengasuh anak berdua dengan oma nya (kadang jadi berTIGA dengan opanya sekalian) memang bukan perkara mudah. Ada banyak metode yang tercampur-campur, bahkan seringkali bertentangan satu sama lain. Dalam kasus saya, jujur saja semuanya terasa lebih mudah. Pasalnya mama saya orangnya cukup modern untuk kelas oma-oma. Dan lagi, asyiknya mama saya itu selalu ngalah setiap kita punya persepsi yang berbeda soal ngurus anak. Iya, ngalah saat saya ada. tapi kalo saya lagi pergi kerja, ya... mana tau? hehe.

Satu kali saya pernah pergi makan dengan seorang teman yang membawa serta ibunya dan anak bayinya. Pas tengah-tengah ngobrol, si nenek mengeluarkan mangkok bekal sang bayi. Teman saya protes, "nanti aja Mam, dia baru minum susu". Si nenek ngotot merasa bener, "ya gapapa, mumpung makanannya masih panas". Mereka berdebat sebentar dan cukup membuat saya pengen bilang sama ibunya, "udah dong Tante, ini kan anaknya". Mama saya, alhamdulilah, tidak pernah mau repot-repot berdebat soal hal-hal begituan. Atau mungkin saya juga yang ngga terlalu banyak aturan, kasih makan ya kasih makan ajalah, kalo masih kenyang ya anaknya juga pasti ga mau. As simple as that. Kenapa
harus berdebat?

Sepupu saya yang nasibnya harus bekerja seperti saya, terpaksa menitipkan anak perempuannya pada ibu mertuanya, malah selalu berdebat soal hal yang lumayan prinsip. Dia ngga mau kalo anaknya pake diaper setiap hari. Sementara si mertua males aja kali ya kalo harus ngepel-ngepel. Jadilah mereka kucing-kucingan. Saat sepupu saya pulang kerja, si anak dilepas diapernya, tapi kalo si sepupu lagi kerja, there you go, a little girl with her diaper, all day long, haha.

Oh ada lagi tuh temen saya yang kerjaannya berantem sama ibu mertuanya perihal ngasuh anak, si nenek maunya anak kecil itu ya main aja yang seneng sementara anak saya yang lumayan terobsesi anaknya masuk sekolah unggulan (oh sungguh tipikal ibu-ibu seumur saya), menuntut anak umur satu tahunnya belajar baca setiap hari, minimal 20 menit, dibagi dalam 2 sesi, pagi dan sore.

Diantara banyak cerita mengasuh ini, satu hal yang selalu merekat di kepala saya adalah, "come on Grandma, do it Mother's way". Dengan dasar bahwa ngga ada ibu yang mau hal jelek buat anaknya, dan juga ngga ada nenek yang mau hal jelek buat cucunya. semua pasti dengan alasan masing-masing. Tapi juga oenting sekali untuk memperhatikan apa yang seorang ibu mau untuk anaknya. Toh si nenek sudah PUAS sendiri mengasuh anak-anaknya dulu kan ? Eh apa jangan-jangan nenek-nenek jaman sekarang ini dulu juga direcokin ibunya sendiri ya? atau mertuanya? hehehe.... Ya, meskipun kalo boleh, saya mau komentar "yaiyalah enak pake diaper" pada sepupu saya :) Hari gini gitu lho. Juga pada teman saya yang terobesi anaknya jadi genius itu lho, pengen deh komentar "trus kalo anak lu genius lu mau apa sih?". Tapi hak untuk menetapkan metode apa yang akan dipakai dalam mengurus anak, tetap ada di tangan ibunya.

Satu cerita dari saya, sewaktu 2 bulan pertama saya melahirkan, saya sempat tinggal di rumah nenek saya. Tidak seperti mama saya, si oma saya ini orangnya hobby ngatur, makanya sekeluarga manggil beliau "Sang Sutradara". Semua hal jadi bahan debat antara kami. Dan puncaknya adalah soal jemur bayi pagi2. Freiya itu kan kebluk alias suka banget tidur, alhasil tiap pagi dia kelewatan matahari pagi dong. Oma saya komplen habis, katanya bayi itu harus dibangunin dan dijemur pagi-pagi, supaya nanti terbiasa bangun pagi katanya. Sementara menurut saya, mau ngapain bangun pagi2? kan ngga musti sekolah? Yah, supaya saya juga ngga usah bangun pagi-pagi, hehe. Di puncak perdebatan kami, saya udah ngga tahan lagi, saat itujuga saya panggil taxi dan barang-barang Freiya yang seabruk itu saya bungkus ke dalam beberapa dus dan plastik, pergilah saya dari rumah si Oma, pindah!

Makanya saya bersyukur sekali karena mama saya nggak pernah-pernahnya ngomel ngajak debat soal ngasuh Freiya. Tapi minggu lalu, rupanya terjadi juga perdebatan itu. Saya di kamar berdua Freiya, mama saya waktu itu kebetulan masih di rumah, belum pulang. Di dalam kamar, Freiya nangis karena abis saya marahin. Dia nangis, saya diamkan. Lama kelamaan nangis nya makin keras. Saya tambah diamkan. Mama saya di luar kamar rupanya sudah resah. Freiya merasa ngga nyaman bareng saya di kamar, dia ribut minta keluar mau ke omanya. Saya bersikeras menutup pintu kamar bahkan lalu menguncinya. Ngga tahan, mama saya menggedor kamar minta Freiya dikeluarin. Seketika rusaklah sudah metode saya mengajar Freiya supaya ngga cengeng, seketika pula mama saya berubah menjadi peri baik hati, dan saya menjadi penyihir jahat :)

Saya sebetulnya sempat nggak terima dengan keadaan seperti itu, Freiya seperti lebih nyaman bersama omanya daripada sama saya, ibunya. Tapi adanya mama saya yang selalu bisa jagain Freiya kan anugerah luar biasa ya, kebayang aja kalo mama saya serese ibunya temen-temen saya tadi, heuuu males atuh tiap hari berdebat :)

Seks itu susah....

by | | 13 komentar

"Hadoooooh....." kawan saya menepuk jidatnya seusai bercerita tentang kelakuan adik bungsunya yang cowok. Umurnya (-nya, adiknya, bukan kawan saya) kurang lebih lima belas tahun. Menurutnya barusan, sang adik kepergok sedang melihat video klip bokep di salah satu situs serupa youtube, tapi kheuseus untuk jenis film porno. (And, no, I won't mention the URL here, ntar pada doyan :D).

"Terus, terus, lo apain?" tanya saya.

"Ya gue marahin lah bok! Mau diapain lagi coba?" jawabnya,"Gue bilang dosa liat begituan..."

"Basi ah lu." saya tertawa.

"Ih, elu yeeee...." ia pun mendelik.

"Lu nggak sekalian bilang bakal masuk neraka kalo liat bokep?" saya meledeknya lagi.

"Er, gue bilang gitu sih. Supaya dia nggak liat-liat lagi."

"Halaaaah..." saya tertawa lagi,"Dan elo pasti ngomongnya sambil marah-marah dan panik-panik."

"YA IYALAH! Anak umur lima belas tahun liat bokep! Adik gue sendiri boook! Pokoknya gue ga mau dia liat bokep lagi!!!"

Saya mendadak teringat dengan kawan perempuan saya di masa kuliah dulu. Ceritanya, waktu itu, tanpa sengaja ia menemukan laser disc bokep di laci oom-nya, maka menontonlah ia. Dan sialnya ketahuan oleh -nggak tanggung-tanggung- ibunya. Yah, kena marah lah ia katanya, menonton film porno itu dosa besar, apalagi melakukannya. Seks adalah dosa. Dan puncaknya adalah, seluruh LD bokep oomnya dibakar. (oh kasihan sekali oomnya, secara LD itu mahal ya bok)

Terus, apakah kawan saya jadi takut 'dosa' setelah itu? Nggak ya bok. Dia-lah yang pertama kali memberi usul untuk iseng menonton bokep pada kawan-kawan se-gengnya di masa kuliah, termasuk saya.

"Ngng, nggak tau ya, emangnya kalo ditakut-takutin itu dosa, dia bakal berhenti?" tanya saya,"Siapa yang jamin dia nggak nonton diem-diem lagi, di tempat lain?"
"Itu diaa.. ngeri gue." kawan saya menghela napas.
"Ngng, emang apa salahnya sih nonton bokep?" iseng saya bertanya.
"AH GILA LO!" kawan saya mendelik lagi,"Kalo gara-gara itu dia jadi terdorong buat melakukan hubungan seksual, apa kabar hidupnya?"

Iya sih. Apa kabar ya, kalau ternyata, dengan pengetahuan minim dan konsep yang salah tentang seks --- hanya bersumber dari tayangan klip porno, yang mostly sama sekali nggak edukatif, kecuali untuk gaya-gaya berhubungan seksnya :P --- gawat saja, kalau adiknya kawan saya jadi terdorong untuk 'mencoba'nya.

Harus nikah karena menghamili anak orang. Doh, pipis aja belum lempeng, kerjaan nggak punya, berkeluarga? Yasalam.

Atau ditangkap polisi karena melakukan sexual harrasment. Atau karena mendadak narsis merekam aktivitas dan tersebar di internet.

Atau terkena penyakit menular seksual.

Gawat beneran. Banyak banget kemungkinannya. Bukan sang anak saja yang masa depannya hancur, tapi keluarganya.

"Ehm, lo nggak ngejelasin tentang apa yang diliatnya?" tanya saya.
"Maksud lo?"
"Ya jelasin aja, itu lagi ngapain, risikonya gimana kalo dia nekat ngelakuinnya, siapa yang boleh ngelakuinnya etc."
"Doh, manalah gue kepikir buat ngasih sex education, keburu panik duluan gue..."
"Sebelumnya, pernah ga adik lo diceritain soal seks?"

Kawan saya menggeleng.

Ah, orang dewasa ini. Kalau soal seks, aja, pasti menutup-nutupi, mentabukan. Begitu si anak tau dari luar, eh, panik jaya.

Jujur saja, waktu kecil saya tidak pernah sekalipun mendapat proper sex education. Yang sering saya dengar dari mulut orangtua saya adalah mitos : adik bayi dikirim lewat langit-langit rumah. Bahkan untuk menyebut kelamin pun, harus pake metafora.

Saya baru tahu perkara seks ini dari guru biologi SMP. Plus waktu SMU, dua kali ada 'acara' nonton film dokumenter sebagai bagian dari program sex education --- saya lupa judul-judul filmnya, tapi yang satu menceritakan tentang apa akibat (buruk)nya jika kita melakukan hubungan seksual secara tidak bertanggung jawab --- yang jelas akibat buruknya ekstrim banget lah. Sedangkan film yang lain, menceritakan tentang proses aborsi. Ya ampuuun, itu sih ditunjukan bagaimana proses aborsi, yang nonton jadi mual dan sedih. Yang ada begitu selesai menonton film kedua, mata kami memerah karena semua menangis. :)

Tapi kedua film tersebut --- walaupun tanpa peringatan yang berhubungan dengan dosa--- mengena dan membekas sekali, pokoknya tertanam dalam benak bahwa tidak bertanggung jawab ujung-ujungnya sengsara. Yang jelas setelah SMU, biar pun sempat mengalami nakal-nakal remaja, semacam nonton bokep bareng (haha!), tapi ujung-ujungnya nggak babar-blas, ya gara-gara dua film itu. Nggak ada satu pun dari kami yang terjerat hal-hal buruk gara-gara urusan seks tak bertanggung jawab.

"Eh, kalo soal seksual dibilang dosa dan kotor, mungkin ga ujung-ujungnya adik lo punya konsep yang salah tentang seks, bahkan sampai waktunya nanti?" tanya saya, sebenarnya untuk diri saya sendiri.
"Nah lo. Iya ya?"

Akhirnya kami sampai pada satu kesimpulan, bahwa sex education itu penting ditanamkan sejak dini. supaya tidak terjadi hal-hal yang berbahaya yang berhubungan dengan 'salah menggunakan' perkara seks. Juga supaya tidak menimbulkan kesalahan konsep seks.

.....

Beberapa hari kemudian, saya mendapat 'tugas' untuk menjaga anak kawan saya yang terkenal kritis. Umurnya enam tahun. Saya membawanya ke sebuah tempat bermain dan kebetulan di sana ada seorang ibu hamil. Eh, nggak dinyana, mendadak anak kawan saya ini bertanya...

"Dedek bayi itu gimana bisa masuk ke perut mamahnya sih, Tante?"

Arrgh! Why me, why oh why?

Oke, baiklah, tentu saja saja saya tidak boleh bilang bahwa ada burung bangau diam-diam menyelinap ke dalam kamar bapak dan ibunya dan meletakkan adik bayi di sana. Tapi gimana coba menjelaskan proses 'penyerbukan' manusia dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna oleh anak berumur enam tahun.

Arrgh! Sekali lai : Why me, why oh why?

"Yang masukin ya papanya. Setelah menikah, karena papanya cinta, jadi dikasih hadiah adek bayi ke dalam perut mamanya" jawab saya setelah berpikir keras. Euh, jawaban yang terdengar konyol.

"Papanya masukin pake apa? dimasukin lewat apa? Perut mamanya dibuka?"

Yaolooooo. Tolong sayaaaa.

"Er, gimana kalo nanti kamu tanya mama dan papa kamu?" akhirnya saya menyerah dan melempar tanggung jawab pada kawan saya --- papa dan mamanya.

Lho iya dong, sex education itu selayaknya diberikan oleh orangtua dari anak kan? Dan saya bukan orangtua gadis cilik kritis ini.

Ya toh? Ya toh?

*hela nafas*

Seks itu, ternyata susah ya.... untuk dijelaskan :D


Mungkin harus ada kursusnya nih :)



"Young people need real sex education that provides them with all the information they need to stay safe and make healthy choices." (Angus McQuilken quotes)


Sumber gambar : sxc.hu
Blog Widget by LinkWithin

QR

QR Code