Sabtu, Mei 02, 2009

Sup (Calon) Mertua Reseh

Ra, ntar jadi kan ketemuan di Brew & Co?
Sender: Alexa

Aku membaca pesan itu sekilas, lalu mengetikkan sebaris singkat:

Jd dong. Jam 6 kan?

Message sent.


Aku mematut diri di depan cermin.

T-shirt ketat warna kuning muda dengan logo Starbucks hijau cerah, jins hipster hitam, pump shoes hitam.

Aku mencemplungkan ponsel dan sebungkus tisu ke dalam tas, lalu memeriksa isinya untuk memastika tidak ada yang ketinggalan: kunci mobil, dompet, ikat rambut, cermin kecil. Semua lengkap. Komplet. Beres sudah.

Aku baru saja hendak mematikan lampu kamar ketika ponselku berbunyi. Ring tone yang sangat khas, yang sengaja kupasang khusus untuk satu orang penelepon.

“Ya, Ky?”

Rizky Maulana. Mantan pacarku.

…uhm, belum resmi juga, sih.

Tunangan, lebih tepatnya. Yang akan segera resmi menjadi suamiku –dan melekatkan nama belakangnya pada namaku—dalam hitungan bulan.

“Sekali-sekali manggil ‘Sayang’ kenapa, sih?” suara di seberang merajuk seperti anak kecil. Aku tidak bisa menahan senyum lebarku.

“Dih, gitu aja ngambek.”

Rizky tergelak. “Kamu jadi nemenin Mama ke Mangga Dua?”

“Jadi, dong. Ini baru kelar dandan. Sebentar lagi aku jalan. Kan janjiannya jam 1…” aku melirik jam tangan, “Masih setengah jam lagi.”

“OK,” Rizky menanggapi dengan riang, tapi entah kenapa, di telingaku respon simpel itu lebih terdengar seperti helaan nafas lega. “Sip kalau gitu. Hati-hati di jalan, ya. Nyetirnya, maksudku.”

“Pastinya, dong,” aku menyahut ringan. Apalagi kalau perginya sama Mama kamu. Kecepatan di bawah delapanpuluh. Dan hindari segala jenis kendaraan raksasa-siap-menelan-nyawa seperti Metromini, truk gandeng, dan kawan-kawannya. Got it.

“Habis nemenin Mama, ada acara lain?”

“Ada janji sama Alexa. Ngopi bareng.”

"Alexa?" Terbersit nada heran di suara Rizky. "Bukannya dia di Bali?"

"Iya, tapi sekarang lagi di Jakarta. Makanya aku nggak mau nyia-nyiain kesempatan buat ketemuan. Abis tu' anak sibuk banget, janjian aja susah," aku menarik retsluiting tasku dan menekan tombol lampu. “Ky, aku udah siap nih. Jalan dulu, ya?”

"OK. Love you, Sweetie.”

"Love you too.”

Percakapan itu berakhir dengan manis. Seperti biasa.

Yah, setidaknya untuk saat ini.

***

“Halo, Tante,” aku menyambut salam hangat yang dilontarkan Tante Wini -ibunya Rizky- dengan sumringah, dan mendaratkan dua ciuman di pipinya.

Beliau tampak rapi seperti biasa, dengan tas tangan merah manyala dan pakaian yang lebih cocok digunakan untuk arisan ibu-ibu pejabat atau resepsi pernikahan dibanding berbelanja ke Mangga Dua. Atasan semi-blazer dan rok bahan hitam, plus sepatu berhak yang tingginya pasti minimal lima senti. Make-up tebal yang jelas-jelas bertujuan untuk memanipulasi umur. Dan rambutnya disasak tinggi, seperti… hmm, singa.

“Cantik banget, Tante.”

Tante Wini mengibaskan tangan, dan terciumlah semerbak parfum beraroma floral. “Ah, biasa.”

Kini pandangan beliau terarah padaku. Pada penampilanku, tepatnya. Men-scan pakaian yang kukenakan dari atas sampai bawah. Lalu tatapannya berhenti selama dua detik di wajahku yang hanya tersaput foundation, bedak tipis dan lip gloss pink transparan.

“Kamu perginya begini aja, Ra?”

Seketika, aku merasa jengah.

“Iya, Tante. Emang kenapa?”

“Nggak terlalu simpel?”

Here we go.

“Mmm… kita cuma ke Mangga Dua kan, Tante?” aku memberi penekanan pada kata ‘cuma’.

“Iya, tapi baju kamu kok kayak baju rumahan gini, apa nggak kelewat sederhana?”

Rumahan apa murahan
? Aku hampir saja menampilkan senyum nyolot terbaikku, ketika otakku memberi peringatan bahwa sosok elegan yang sedang berdiri di depanku dan men-scan tubuhku dari ujung rambut sampai ujung kaki ini adalah Wini Astuti, perempuan yang melahirkan Rizky Maulana dan tercatat secara sah di akte kelahiran tunanganku sebagai ibu kandungnya.

Mendebatnya jelas bukan tindakan bijaksana.

“Mmm… iya sih, Tante. Abis tadi perginya buru-buru, nggak keburu milih-milih baju.”

Tante Wini menghembuskan nafas panjang. Entah apa artinya. Antara prihatin atau meremehkan, sepertinya. Bagiku, yang kedua terdengar lebih masuk akal.

“Ya sudah. Yuk, kita jalan.”

“Ya, Tan.”

“Kamu yang nyetir, atau mau suruh Pak Darmo bawa mobil kamu?”

“Kiara aja yang nyetir, Tan.” Sori ya, mobilku memang cuma Kijang keluaran lama, tapi nggak berarti aku rela menyerahkan kuncinya pada orang lain, meski kelihatannya keren: disupirin.

“Terserah.” Sekali lagi beliau menghela nafas panjang sebelum berjalan ke pintu depan. I swear, I saw the old witch rolled her eyes.

Aku menggenggam kunci mobil erat-erat.

Demi Rizky.
Demi Rizky.

Demi Rizky.
$@$%#%$%#@#$!!!

***

Brew & Co, lima jam kemudian

“Gitu deh, Lex,” aku mengakhiri curhat panjangku dengan dramatis, menghela nafas panjang persis seperti yang begitu sering dilakukan Wini Astuti di depanku -- kalau nggak ada anaknya, tentu saja. Di depan Rizky, Tante Wini jarang menunjukkan sikap antipati, sebaliknya, ramah dan penuh perhatian.

“Kadang, kalo lagi sebeeel banget, gue suka ngebayangin motong-motong calon mertua gue, digodok pelan-pelan setengah jam di air mendidih, ditambahin wortel sama kol, sampe jadi sup. Kalo perlu masak di kuali gede, kayak di film-film. Biar mampus tu’ nenek sihir.”

Kalau dipikir-pikir, hidupku memang tidak jauh beda dengan sinetron-sinetron garapan Rama Punjab, si sutradara kawakan asal India yang jadi ngetop setelah film layar lebarnya yang berjudul ‘Buruan Masukin Gue’ memenangkan AFI tahun lalu (Anugerah Film Indonesia, bukan Akademi Fantasi Indosiar – coba, ya). Bedanya, tokoh utama di sinetron-sinetron itu adalah perempuan-perempuan welas asih yang selalu tunduk dan pasrah terhadap nasib, sedangkan aku membenci calon mertuaku. Sama seperti beliau membenciku.

Pffffftt.

Disayang calon suami, dibenci calon mertua. Padahal, nikah aja belum.

OK, mungkin aku memang berlebihan. Tapi aku sungguh-sungguh merasa Tante Wini tidak suka padaku. Sangat berbeda dengan Oom Bayu yang sikapnya selalu hangat dan bersahabat, yang mana semua itu dilakukan dengan tulus.

Alexa tertawa terbahak-bahak. Sialan.

“Ketawa aja sepuasnya. Ntar juga lo kena batunya,” umpatku gemas.

Alexa masih terpingkal-pingkal, tapi tidak berkomentar lebih jauh. “Turut bersimpati ya, Kiara darling.”

"Thanks, Lex. Kalau suatu saat nanti lo ngalamin kejadian kayak gue, I’m all ears.”

"I won’t.” Alexa mengedipkan mata kocak. Dasar.

"Sekarang, gantian. Lo yang cerita. Gimana brondong-brondong Bali?" Aku menggeser cangkir kopiku.

Ya sudahlah. Yang sudah berlalu, ya sudah. Aku mau menghabiskan sisa hari ini untuk bersenang-senang. Dan besok aku masih punya waktu luang setengah hari penuh, sebelum menemani Tante Wini nyalon dan menghadiri resepsi pernikahan anak sahabatnya.

Duh
, Oom Bayu! Kenapa harus ada acara lain, sih? Kan jadi aku yang diseret-seret. Rizky juga. Kenapa harus meeting sama klien di hari Minggu segala?

Udah deh, Kiara
! Aku memaki diriku sendiri. Gak usah cengeng. Jangan ngeluh melulu. Anggap aja ini latihan…

…karena sebentar lagi, kehidupan model gini akan jadi bagian dari keseharian lo. Selamanya.


Sumber gambar, ya darimana lagi kalau bukan sxc.hu. *Maaf nyolot, masih sebel*

UPDATE!
Kalau ada yang pingin ngirimin cerita tentang kelajangan dan kehidupan menikah ke blog ini, silahkan aja lho. Kirim ke lajangdanmenikah@gmail.com. Ceritanya bakal dipilih dan dimuat di akhir setiap bulannya. Monggoo :)

10 komentar:

senny mengatakan...

kenapa ya di Indonesia ini married sama seseorang berarti married sama keluarga besarnya juga...

yup, gue lagi ngomongin kasus 'harus bermesraan dengan ibu mertua yang nyebelin'

Antiek mengatakan...

hahahaha..
* ketawa miris...

Mertua..oh..mertua..

Anonim mengatakan...

hal yg bikin gw kelabakan kalo diajakin ketemu nyokapnya pacar gw.. arghh.. ngeri

Enno mengatakan...

oh Tuhan, plis... plis.. plis... jangan sampe saya dapet mertua yang nyebelin...

:-P

Kiara Van LajangdanMenikah mengatakan...

Nikah itu kayak makan di Mc Donald's. Beli paket, dapet hadiah. Kita nggak pernah tahu hadiah yang kita terima kondisinya kayak apa. Bedanya, kalau makan di McD dan gak suka sama hadiahnya, boleh tuker. Kalau nikah, gak suka sama paketnya, gak bisa ngapa2in. Kalo orang Jawa bilang: Wis kadung.

;-D

mel@ mengatakan...

hmmm... aku ga pernah kena marah mertua kandung cewe...

bukannya aku baik... maniss... lucu... menggemaskan... en bikin disayang orang... halah... hahaha...

tapiii... karena ibunya misua udah meninggal waktu SMP...
sekarang yang ada ibu tirinya misua...

jadi... malah sekarang gimana caranya lebih mendekatkan ibu sama misua...

isma mengatakan...

hahaha,.
emang susah2 gampang nurutin mamah mertua ini..

yoese mariam mengatakan...

jahat gak seh...gw malah berharap punya suami yg udah gak ada mamanya :D

Anonim mengatakan...

saya jg punya masalah sama camer yg galak, superdominan, and klo ngomong masya 4JJI..nyolot&nylekitnya minta ampuun
sampe2 plan nikah jd musti direfresh lg, siap gak saya dapet paket combo yg hadiahnya saya benci bgt..
ikutan berharap punya suami yg dah ga ada mamanya
*)evil mode on..;D

Mahara mengatakan...

ya ampunn calon mertua ku juga gitu ampun banget deh..
gak bisa apa ya nyikapin kita-kita tuh biasa aja ga usa lebay hehehehe..
sebel

Blog Widget by LinkWithin