Jumat, November 20, 2009

Bukan Mahmud K

Saya baru mengenal Tanti sekitar setahun belakangan ini. Gara-garanya kami ikut yoga di tempat yang sama dengan jadwal yang sama pula. Perempuan berusia tiga puluh tiga tahun,menikah dan punya anak dua itu menyenangkan. Kocak. Nggak bakal berhenti ketawa kalau jalan bareng dia. Biasanya seusai yoga kami sering hangout bersama, juga bareng dengan teman-teman lain. Cuma, setelah bareng-bareng empat bulan, jadi tinggal kami berdua saja yang sering nongkrong bareng, yang lain selalu punya acara lain, setiap saya ajak. Malah satu persatu tidak meneruskan lagi.

Satu yang bikin saya nggak sreg adalah, Tanti itu, dia doyan banget belanja! Ya ampun! Dan bukan belanja di pusat grosir (seperti saya! haha), tapi di gerai barang ber-merk di mall. Duh, dia ini semacam Mahmud K. Mamah Muda Kaya. High Maintenance habis. Kadang-kadang saya berpikir, jangan-jangan Tanti punya pohon duit di rumahnya. Tapi ya sudah-lah, saya maklum, menurutnya ia bekerja di perusahaan multinasional, pemasukannya pasti gede banget --- dimerger dengan penghasilan suaminya, yang juga sama-sama bekerja di perusahaan besar. Cocok sudah. Untung ia kadang-kadang menurunkan standar-nya, saat nongkrong dengan saya. Kadang-kadang, dia juga menraktir saya ('kadang-kadang' yang terakhir ini, selalu membuat saya senang!)

Cuma dengan kehidupan yang serbeberkelimpahan tersebut, ia masih juga mengeluh. Kadang-kadang bosan juga sih mendengarnya --- karena ia selalu mengulang keluhan yang sama. Katanya enak banget saya masih lajang.

Ada kali sejuta kali ia mengatakan betapa enaknya jadi saya yang masih lajang ini. Oke, salah, saya hiperbola, dia baru 999.999 x kok mengeluh demikian. Menurutnya, kalau masih lajang, saya tidak harus memikirkan pengeluaran-pengeluaran rumah tangga, macamnya bayar listrik, bayar air, belanja keperluan keluarga, tagihan ini dan tagihan itu. Endeswey, endeskoy. Jadi lajang, pemasukan yang buat diri sendiri.

Saya sih percaya bahwa dalam setiap fase kehidupan itu ada enaknya ada enggaknya. Jadi lajang itu, selain enak karena pemasukan hanya buat diri sendiri, ada kok, yang nggak enaknya : ditanya kapan kawin eh nikah, tuh satu contoh.

Terus...

terus....

eh, bentar-bentar. Apa lagi yang nggak enaknya jadi lajang? Kok saya nggak nemu ya? :D

Anyway, ya gitu deh, Tanti bolak-balik mengeluhkan tentang banyaknya pengeluaran yang harus dihabiskan untuk keluarga. "Aduh, susah deh itu, yang namanya belanja buat nyeneng-nyenengin diri sendiri..." cetusnya.

Saya meledek, sambil menunjuk BlackBerry Javelin-nya, laptop SONY Vaio VGN-TT46GG merahnya, sepatunya yang keluaran Christian Louboutin.

"Susah ya, Neik, belanja buat nyeneng-nyenengin diri sendiri?"

Dan ia pun membalas sambil tersenyum malu.

Well. Saya percaya bahwa setiap pilihan pasti ada risiko-nya. Dengan menikah, artinya seseorang itu ya dengan sadar memilih untuk hidup tidak sendiri; berbagi suka-duka-tanggung jawab-kewajiban dan lain-lain. Kalau seseorang secara sadar memilih untuk menikah, sudah tentu siap dong sama risiko untuk 'membagi' hidup-nya dengan pasangan dan anak - kalau sudah punya, termasuk urusan finansial. Tul nggak?

Dan, enak-nggak enak itu sebenarnya masalah bersyukur saja sih. (Ya ampun, terdengar sangat relijius sekali si saya ini!)

....

Sudah empat bulan ini, saya tidak pernah mendengar keluhan Tanti. Bukan karena ia sudah berhenti mengeluh, ini karena tiba-tiba ia menghilang tak tentu rimbanya. Entah kenapa. Tidak pernah datang di kelas yoga. Dihubungi via handphone-nya, eh nggak aktif.

Sampai dua minggu yang lalu, mendadak ada sebuah nomor asing menghubungi saya. Ternyata itu nomor barunya. Ia bilang ia punya masalah; dan ingin bertemu dengan saya. Agak khawatir juga mendengar suaranya yang terdengar sangat sedih. Kami pun mengatur jadwal pertemuan; hari Jumat dua minggu yang lalu, dinner di sebua resto. Saya agak heran dengan penampilannya yang tidak sekinclong biasanya.

Sambil menikmati makan malam kami, ia pun menceritakan masalahnya. Katanya rumahnya akan disita sebentar lagi.

Eh lho? Kok Mahmud K sepertinya bisa bermasalah seperti ini ya? Saya mendengarkan ceritanya dengan seksama. Sambil menangis, ia menceritakan permasalahannya. Katanya suaminya diajak berbisnis oleh seorang perempuan cantik. Untuk modal, sang suami meminjam dari bank, dengan agunan sertifikat rumah. Lalu cerita belum berhenti sampai sana, akhirnya suaminya terpikat pada perempuan tersebut, berpacaranlah mereka. Suaminya menggunakan kartu kredit untuk membiayai kencan-kencan mereka sampai over limit. Lalu empat bulan kemudian, si perempuan ini kabur tak tentu rimbanya, meninggalkan hutang untuk keluarga Tanti. Gara-gara itu mereka sibuk menjual-jual seluruh aset berharga yang mereka miliki untuk melepaskan belitan maut hutang-hutang tersebut. Duh, ribet ya book. Pokoknya gitu deh ceritanya sepenangkapan saya, saya sih nggak mengerti soal hutang-hutangan.

Elahdhalah.Saya pikir cerita seperti ini cuma ada di sinetron. Lho kok ya ada di dunia nyata. Yang mengalami ada di depan saya pula!

Maksud ia bertemu dengan saya adalah untuk meminjam uang. Bukan untuk membayar hutang, tapi untuk biaya hidup mereka sehari-hari.

Miris saya mendengarnya. Jumlah yang ia pinjam memang tidak seberapa... eh lumayan seberapa deng buat saya, tapi kalau dibandingkan dengan jumlah hutangnya ke bank ya emang nggak seberapa.

Akhirnya, hari itu, saya meminjamkan sejumlah uang padanya. Saya bilang lunasi kalau memang dia bisa, boleh dicicil. Pusing lah ya bo, kalau saya juga memaksanya untuk membayar dengan tenggat waktu tertentu. Nggak apa-apa lah, biar nggak seberapa, gaji saya masi cukup kok untuk memuaskan kebutuhan saya --- kan saya semacam low maintenance girl. Sudah begitu lajang pula - dan parasit pula, di rumah orangtua; nggak kudu mikir pengeluaran rumah tangga.

Saya dapat satu pelajaran : jangan ngutang!

....

Anehnya, setelah transaksi peminjaman tersebut, mendadak ia menghilang lagi. Susah dihubungi. Seminggu pertama saya berusaha berpikir positif. Tapi memasuki minggu ke-dua, saya mendadak merasa nggak enak.

Akhirnya saya menghubungi beberapa teman yoga kami. Semuanya tampak malas begitu mendegar nama 'Tanti.' --- "Bermasalah parah itu orang!" hanya itu kata mereka.

Yang bersedia menceritakan lebih detil hanya Lila, setelah dia menanyakan,"Dia pinjem duit ke elo?"

"AH! I should've warned you!" kata Lila,begitu saya mengangguk.

Ternyata mereka juga mengalami masalah yang sama. Tanti meminjam uang dari mereka juga.

Dan Tanti menghilang begitu saja. Tapi dasar Lila, yang mungkin sewaktu kecil bercita-cita jadi detektif, ia menyelidiki keberadaan Tanti.

"Kayaknya elu musti ngerelain uang yang lo pinjemin deh." ujar Ida.
"Karena?"
"Er, dia itu nggak seperti yang dia ceritakan..."
"Maksud?"
"Dia nggak kerja di perusahaan multinasional, suaminya juga nggak."

Saya semakin mengerutkan kening.

"Tapi, dia... punya penyakit nggak bisa kontrol belanja. Makanya terlibat utang gede-gedean. Ceritanya tentang suaminya minjem duit di bank untuk modal bisnis, suaminya yang selingkuh dan lain-lain... er... sebenernya nggak bener. Dia kebelit utang credit card-nya. Ya gara-gara nafsu belanjanya itu."
"Sial." tiba-tiba saya geram.
"Bok, kita nggak bisa deh nagihnya. Soalnya... "
"Tapi utang kan utang?" potong saya.
"Ya, ngeliat keadaan aslinya dia mau bayar pake aja, coba?"

Saya terdiam.

"Lihat deh, nanti kalau kamu tagih excuse-nya pasti banyak. Dipecat dari kantorlah.kanker serviks stadium satu dan harus membiayai pengobatan dirinya seminggu sekali lah, keguguran. Sampai pada akhirnya memutus kontak dengan elu, ganti nomer, ngeremove elo dari facebook. Gitu deh."

Saya menghela napas.

Kenapa sih orang itu nggak bisa berpijak pada kenyataan saja? Nerima kemampuan dirinya apa adanya? Apa enak hidup bermasalah dengan banyak orang dan dibelit hutang? Masa hanya gara-gara keinginan untuk hidup bergaya high-maintenance, harus merugikan orang lain? Bukannya dengan bergaya hidup grosiran, kita juga nggak mati?


sumber gambar : gettyimages.com

There are plenty of ways to get ahead.
The first is so basic I'm almost embarrassed to say it:
spend less than you earn.
~Paul Clitheroe

10 komentar:

wongiseng mengatakan...

Grosiran mending, yang mulungan barang di pinggir jalan juga ada yang masih bisa mencoba merasa bahagia :))

nYam mengatakan...

jadi gimana kalo bikin petisi untuk mengubah istilah kartu kredit menjadi kartu utang?

Pinkwin mengatakan...

mending kalah aksi dari pada kalah nasi.. eh, mending gak ada yang kalah deh :p

dinda mengatakan...

duh... credit card lagi, credit card lagi... kapan ya orang2 pada belajar *sigh*.

bener jeung, bergaya hidup grosiran juga nggak bakal mati kok...

bisnis online mengatakan...

banyak orang menganggap begitu punya kartu kredit dengan limit 5 juta dia berfikir punya uang tambahan 5 juta padahal itu adalah kita punya utang 5 juta

Ade mengatakan...

Miris deh bacanya.. soalnya banyak nih yang begini.. high maintenance tapi ga punya pemasukan yang sesuai :-(

bulan mengatakan...

kayak gini mah banyak banget ya orangnya... mulai dari temen kuliah sampai temen kerja.

Paling males deh ketemu ama orang begini ya :D

pashatama mengatakan...

nah kalo boleh kasih saran, memasuki kehidupan pernikahan memang sebaiknya punya hutang itu NOL. bukan apa-apa, menikah dan punya anak itu mahal harganya.
kalo memang harus meng-kredit sesuatu, ya setidaknya barang yang primer, misalnya rumah. atau uang tunai untuk modal usaha. kalo nyicil nya baju ya repot yah :)

mirna mengatakan...

betul! kartu kredit untuk keperluan darurat, bukan nambah pembelanjaan.

btw, labelnya mestinya si lajang, bukan?

rafasa mengatakan...

untung dari dulu saya anti kartu kredit, kalau kartu debet sih oke lah, itu kan uang saya sendiri.

untuk gaya itu nggak perlu mahal, biar murah yang penting gaya, daripada ngutang. ya nggak? ;-)

Blog Widget by LinkWithin