Minggu, Agustus 16, 2009

Si Menikah Cecil : Chopper dan Onion Slicer.

Gue lagi di rumah Mami. Ibunya Chris, suami gue. Gara-garanya satu saat sekitar dua mingguan yang lalu, Mami nelepon dan katanya ngerasa kesepian. Emang kelamaan juga sih, gue dan Chris nggak sowan ke Mami. Sementara Mami cuma tinggal bedua dengan Grahito, cucunya, anak kakak pertama Chris yang kuliah, sebagai pria muda jaman sekarang, Grahito jarang banget ya di rumah. Sementara anak-anaknya bertebaran di seluruh penjuru , dan yang paling memungkinkan untuk lebih sering berkunjung adalah Chris. Jakarta - Bali mah nggak jauh kalau dibandingkan Papua - Jakarta, Makassar-Jakarta, Singapore-Jakarta dan Los Angeles - Jakarta.

Jadi atas usul gue, kami berdua mengambil cuti dalam waktu yang nyaris berbarengan.

Wih, Mami senang banget lho, waktu kedatangan kami berdua, dengan cerianya dia langsung mengatur menu harian buat kami. FYI, Mami jago masak banget. Semua makanan yang dimasaknya, selalu enak. Pokoknya most likely, berat badan gue dan Chris nambah aja kalau seminggu di rumah Mami.

Anyway, walaupun Mami nggak minta, gue selalu dengan sukarela mengajukan diri untuk membantunya masak, walaupu kalau dipikir-pikir lagi, bantuan gue seringnya sungguh kecil :)

Kalau sudah di dapur , gue sering takjub dengan tenaga Mami. She cooks in 'jadul way.

Beliau ngiris bawang merah pakai pisau sambil berurai air mata. Kalau sudah begini gue nggak tega, jadinya aja gue-lah yang menawarkan diri untuk memotong-motong (dan sambil menangis berurai air mata bak tokoh protagonis dalam sinetron yang dizhalimi, gue kepikir, betapa enaknya kalau memotong pakai onion slicer, masuk-masukin bawangnya dan putar tuasnya. Voila! Jadilah potongan tipis bawang.)

Beliau ngulek bumbu pakai cobek dan ulekan. Kalau sudah begini, dengan berat hati (jujur gue bok!) gue bantuin beliau ngulek (dan sambil merasa pegal, gue berpikir; she needs a chopper, masukan semua bahan dan tekan tombolnya. Tadaa... bahan-bahan pun halus.)

Beliau memeras santan dengan tangan sendiri (dan gue mikir, kenapa nggak beli santan instan aja sih?)

Caranya memasak benar-benar buang waktu.
....

Dan being a good daughter in law, tanpa mengajak Chris, gue pun berinisiatif membelikan Mami dua alat yang gue pikir Mami butuhkan : chopper dan onion slicer.

"Ini buat mami," gue membuka kotak onion slicer,"....buat ngiris bawang. Jadi Mami nggak usah nangis-nangis lagi, tinggal kupas bawang, masukin, terus puter tuasnya. Udah deh jadi..."

Mami tersenyum.

Dan gue pun melanjutkan,"Kalo yang ini, macem-macem, bisa ngehalusin bumbu, cincang daging dan macem-macem."

"Makasih ya Cil,"Mami masih tersenyum. Dia memandang dua alat tersebut.

Gue menoleh sejenak pada Chris yang tersenyum dikulum. Sementara gue ngerasa bangga karena merasa bahwa gue telah membuat Mami senang.

"Sini deh, aku kasih liat cara pakenya." kata gue, sambil menggandeng lengan Mami.
"Mami pernah punya dua-duanya, Sil."
"Oh..." gue terduduk kembali,"... terus kenapa nggak dipake?"
"Mami ngerasa nggak afdol masak pake alat-alat ini. Berasa nggak masak. Lagian, kata Mami sih, kalau pake alat listrik gini buat ngalusin bumbu, masakannya jadi nggak enak. Kamu tau nggak, cobek dan ulekan itu bisa ngasih rasa sendiri di makanan."

Errr....

Gue menoleh pada Chris. Senyumnya semakin dikulum.

"Tapi, terima kasih, Sil, atas perhatiannya." Mami menepuk bahu gue, mungkin beliau melihat gurat kecewa di wajah gue.

.....

Iya, gue memang nggak segitu kenalnya dengan Mami. :) Dari sini gue sadar, bahwa Mami itu berbeda banget dengan gue. Mami itu semacam ibu-ibu konvensional jaman dulu, tipikal ibu-ibu yang membaktikan diri sepenuhnya pada (kebutuhan) keluarga. Dan sungguh sangat total dalam melakukan itu, dia bilang, pekerjaan rumah tangga itu memiliki seni tersendiri dan harus dilakukan dengan cara khusus.

Totalitas Mami tercermin dari cara Mami masak. Mami punya kecenderungan untuk mengabaikan keberadaan alat-alat dan benda-benda yang selayaknya bisa membuat cara kerja rumah tangga menjadi lebih praktis. nggak pol, nggak afdol-menurutnya . (BTW, gue baru tau, semua hadiah chopper, blender, bahkan onion slice bahkan rice cooker hadiah dari anak-anaknya, lewat --- nggak ada yang kepake.

Sementara gue, sebisa mungkin memilih semua alternatif cara yang sekiranya bisa menghemat waktu gue. Bahkan, kalau sedang nggak sempat, gue beli makanan. Maklum, gue kan kerja *ngeles*

Yah, pepatah 'Progress means simplifying, not complicating' dari Bruno Munari, mentah bo, di Mami.

Nggak apa-apalah, yang penting Mami senang. Dan kami tetap makan enak. *loh?*

Hail, Mami aja lah pokoknya!

Sumber : sxc.hu

7 komentar:

Anonim mengatakan...

sampai skrg aja ibu gw gak mau dan takut pake kompor gas;) n nyambel ttp ngulek..dgn alasan..beda rasanya;)

HM

Monique mengatakan...

Untung mama saya udah bisa dihasut :))

Sekarang ga ada lagi acara nangis bombay atau tangan pegal, pake alat dehhh mending, praktis dan bersih....

Tapi ada satu hal yang masih amat sangat di pegang sama nyokap kalo masak : NO VETSIN!

nyonyakecil mengatakan...

eeh kok aku baru tau ya ada alat onion slicer n chopper.. *gubrag*
Aku juga gak kepikiran buat pake alat2 canggih pas masak sih. Soalnya aku paling suka bagian ngiris bawang putih *aneh ya?*. Aku suka bau bawang putih di tanganku yang nempel ber jam2 kemudian *malah aku suka cium2 tanganku yg bau bawang kok, rasanya engg gimanaaaa gituhh :P

Kalo ngulek... gasuka. suka pegel tangannya

Ade mengatakan...

Jadi teringat jaman dahulu, bantuin Mama mengkukur dan memeras kelapa buat bikin santen.. hehehe.. Eh, bener ga ya kosa katanya, itu loo bikin kelapa menjadi butiran halus dengan alat kukuran kelapa.
Tapi, untunglah Mama saya lebih mementingkan kepraktisan jadi selamat tinggal kukuran kelapa :-D

lajangdanmenikah mengatakan...

anonim:
aduh,musti ketemu sama mertua gue tuh,pasti kompak :D

monique:
iya, vetsin emang ga baek buat kesehatan, katanya.Tp kenapa ya makanan yang mengandung vetsin/MSG itu enaaak :)

nyonyakecil:
nah, kalo nggak suka ngulek, pakailah chopper! hehehe

ade:
eh, gw baru tau lho kalo aktivitas itu namanya mengkukur :)

-Cecil-

nYam mengatakan...

ahem, konon, keringet yang netes waktu ngulek bumbu itulah yang bikin rasa masakan jadi dahsyat.

*mungkin hal yang sama berlaku juga buat tetesan air mata saat ngiris bawang merah :D*

satu hal yang sampe sekarang gw ogah: marut kelapa. no way. mending ngulek bumbu sebakul ketimbang marut kelapa separo.

ranny mengatakan...

wah wahh sayah setipee ma mamihh mending pake konvensionall biar enak masakannya...lebiihh poll hhihihih

Blog Widget by LinkWithin