Selasa, April 21, 2009

Ketika Ujian Itu Datang

Tiga tahun yang lalu ketika Mario masih berusia empat tahun, Panji berselingkuh.

Saya yang begitu yakin dan percaya akan kesetiaannya, benar-benar terpuruk dan tersungkur.

Yang membuatnya terasa lebih buruk lagi, Panji menjalin affair tersebut dengan perempuan yang sama yang menjadi orang ketiga di antara kami waktu saya dan Panji masih bertunangan.

Saat pertama kali saya mengetahui Panji menjalin affair dulu itu, saya memaafkannya dengan kepercayaan penuh bahwa dia memang tidak akan mengulanginya. Karena saya mencintainya, dan cinta itu membuat saya memaafkan kesalahannya.

Tapi bukan melupakannya.

Memang, it takes two to tango. Sebuah hubungan tidak mungkin terjalin kalau tidak ada dua pihak yang menyetujuinya. Panji bukan "direbut" dari saya, tapi dengan sukarela menduakan saya. Tapi rasa cinta dan percaya yang demikian dalam membuat saya yakin bahwa yang paling bersalah adalah pihak ketiga tersebut, dan sampai sekarang pun masih ada rasa kebencian dalam hati saya buat perempuan itu.

Dan ketika hal ini terulang lagi, saya benar-benar hancur.

Berbulan-bulan saya menangis, mengemis kepada Panji agar kembali ke saya dan Mario. Saya menelepon perempuan itu, memintanya mengembalikan suami saya, yang direspon dengan tawa dan kritik mengenai kegagalan saya sebagai istri.

And things went to worse ketika Panji mulai terang-terangan menginap di rumah perempuan itu.

Saya hancur. Luluh lantak. dan jeleknya, saya sering melampiaskan emosi saya pada Mario, bocah kecil yang tidak tahu apa-apa. Kalau ingat itu saya sering menyesalinya.

Panji kemudian mulai menjadi-jadi dengan berani menelepon kekasihnya dari telepon rumah, berbincang mesra di depan saya dan Mario.

Ada satu titik di mana saya secara harafiah seolah terbelah menjadi dua kepribadian. Suatu malam saya seperti berkelahi dengan jiwa gelap saya. Tubuh saya memaksa saya untuk bangkit ke dapur, mengambil pisau daging dan membunuh suami saya. Sementara hati saya berjuang dan berteriak "Tidak! Jangan! Tuhan, tolong!" Untunglah Tuhan masih melindungi saya dan perjuangan itu berakhir dengan keringat dingin dan gigilan di sekujur tubuh saya.

Kemudian saya memutuskan untuk mengikuti sebuah retret religi di kawasan Puncak. Sepulang dari sana saya begitu diliputi rasa damai dan lega sehingga saya bahkan bisa tertawa lepas, bernyanyi-nyanyi, tersenyum pada Panji, dan terakhir chatting melalui YM dengan kekasihnya (yang syukurlah bisa saya hadapi dengan tenang segala cacian dan makiannya, kritik dan hinaannya terhadap kapasitas saya sebagai istri).

Saya mulai rajin berdoa. Saya mengikuti berbagai acara dan kegiatan di gereja. Saya serahkan semuanya kepada Tuhan, dan saya menjalani hidup saya sebaik yang saya bisa.

Saya juga mulai merawat diri. Kalau dulu saya paling males dandan dan pakai baju-baju cantik, maka saya ubah. Bukan karena saya ingin mengambil Panji kembali lewat fisik, tapi karena saya ingin merasa cantik. Dan ketika saya merasa cantik dan menarik, maka sikap saya berubah. saya jadi lebih ceria, lebih percaya diri, dan (menurut teman-teman) jadi cantik beneran :)

Sekarang Panji, saya, dan Mario sudah menjadi keluarga yang bahagia dan utuh kembali, dan saya mengetahui makna dari cobaan yang diberikan Tuhan kepada saya.

Setidaknya sebagian.

Bahwa saya jadi lebih tahu bagaimana cara menjadi istri yang baik, dan saya bisa membantu bila ada teman yang mengalami hal yang sama dengan saya, karena sebuah saran atau nasihat yang kita berikan akan jauh lebih mudah dijalankan bila kita pernah berada dalam situasi yang sama.

6 komentar:

Enno mengatakan...

pelajaran yang berharga. saya akan mengingatnya.

makasih sharingnya. semoga keluarga kamu tetap rukun selamanya :)

desty mengatakan...

weh..barusan baca soal "it takes two to tango" di blog sebelah...

salut,mbak.. "pelarian" mbak ke arah religi bisa mengembalikan semuanya...

adisti mengatakan...

semoga bisa jadi pelajaran buat semuanya yaa.. mendingan belajar dari pengalaman buruk orang lain deh sebelum ngalamin sendiri hehe

ceritaeka mengatakan...

Selalu ada hikmah...
Jadi lebih dekat sama Tuhan, jadi lbh cantik..

Pelajaran yang bagus

hachi mengatakan...

Great lesson :)
Thanks buat sharingnya

Anonim mengatakan...

it happens to me as well.
masalahnya waktu itu kita belum punya anak, jadi akhirnya I let him go.
He went back to his ex.
And I went back to religion.
This story meant a lot to me.
Thanks.
If only waktu itu kita punya anak, I'll do the same thing with you dear~

Blog Widget by LinkWithin