Kamis, April 09, 2009

Why Dendong?


Walaupun gue males banget mengakuinya, tapi apa boleh buat, penampilan Alexa tuh, selalu asyik dilihat. Etnik dan unik. Itu bikin dia kelihatan semakin eksotis. Eh, dia bukan pedandan heboh, biasa aja, malah cenderung casual. Make upnya natural. Cuma gue berani jamin, sebelum keluar kamar, dia pasti mempertimbangkan dengan seksama outfit hari tersebut. Dan gue juga yakin, dia rajin melakukan perawatan tubuh.

Alexa masih single sih.

Seinget gue, jaman-jamannya gue masih lajang, sama aja kayak dia, yang namanya penampilan tuh gue jaga banget. Apalagi zaman-zaman pacaran dengan Chris, setiap kencan gue niat lho, dendong (dandan), yah --- nggak menor-menor amat, sampai bedak setebel dosa sih. Pokoknya gue selalu berusaha berpenampilan layak di depan mantan pacar gue ini.

Bahkan waktu awal-awal jadian nih ya, heboh bener. Bayangin, budget untuk beli outfit membengkak, gara-gara, setidaknya dua minggu satu kali gue beli baju, yang bakal gue pakai kalau kencan. Gue rajin ngetrim rambut, facial etc.

Silly. Sillysillyme.

Mbak Yustin, kakak gue yang pas gue masih pacaran, sudah menikah dengan Mas Arga selama tiga tahun dan beranak satu bilang : 'Lihat aja, ntar pas lo udah kawin keinginan ngelenong lo bakal menyusut berkali-kali lipat.'

Dan setelah dua tahun pernikahan gue, beneran kejadian, gue nggak begitu peduli dengan appearance gue. Jangankan ngetrim rambut, ke salon aja, terakhir kali mungkin setahun yang lalu. Gue pikir, ngapain juga gue sibuk-sibuk dandan, tokh gue nggak berniat tebar pesona ke mana-mana. Dan, Mas Chris, yah, dia sih sudah ngeliat gue polos sepolos-polosnya.

So, why harus dendong? :)

....

"Neng Siiiil..." suara kenes Alexa terdengar dari luar pintu paviliun gue. Dengan terseok-seok, gue yang baru aja ganti t-shirt dan celana selutut rumah sepulang kerja menghampiri pintu.
"Apaan, Lex?"
"Gue ditelpon Marco, dia ngajak makan malem bareng di Hard Rock. Ikut yuk." ajaknya.
"Mmm... Mas Chris belum pulang..." gue menjawab ragu.
"Lah, justru itu, Mas Chris tuh udah sama Marco, jadi kita tinggal nyusul ke sana."

Sumpah, sebenarnya gue males banget keluar rumah. Saat ini yang gue inginkan cuma leyeh-leyeh di sofa kami sambil nonton TV di saluran favorit gue dan Chris.

"Ayo dooong. The more, the merrier niiih." ajak Alexa lagi.

Akhirnya gue menyetujui. Dengan malas, gue memakai sandal crocs gue dan langsung keluar dari paviliun.

"Lah? Lu nggak ganti baju dulu?" tanya Alexa.
"Nggak lah, gini aja..."
"Serius lo?"
"Iya, kenapa?"
"Ngngng..." sesaat Alexa terlihat ragu.
"Dekil ya?" tanya gue.
"Ngng... mendingan ganti deh..."
"Ah cuek aja lah. Ngapain juga gue dandan, kan gue udah laku. Gak perlu susah-susah lagi untuk mempesona kaum Adam." kata gue.

Jauh di dalam hati gue, sebenernya ini juga sekalian nyepet Alexa yang malam itu tampak niat. Dengan tanktop putih, rok batik cokelatnya, serta kalung-kalung bronze dan sandal tali temali kulitnya. Oh, God. Gue tahu Alexa nggak punya salah ke gue, tapi... ntah kenapa, gue kok sebel ya sama dia?

"Iya deh, yang udah lakuuuu..." Alexa menjawab cuek. Ni anak lempeng banget kayaknya, mau dicela, disindir, disepet dan diapa-apain, lempeng,".. dandan kok buat orang lain, dandan buat menyenangkan diri sendiri aja kaleee..." lanjutnya. Masih dengan nada lempeng.

IH!

...

Serius, gue salah kostum banget. Ternyata kami nggak cuma makan malam berempat, tapi ada beberapa murid Marco yang lain juga. Cewek-cewek gitu deh. Kalau dari obrolan mereka sih, tampaknya mereka masih single. Mereka cantik-cantik, dan obviously caper. Mereka dari Jakarta --- dan entah ya, kali karena memang keadaan di Jakarta yang judging a book by its cover, gue diliatin melulu.

Argh. Gue yang sewaktu dalam perjalanan merasa bahwa gue hanya berpenampilan 'seadanya', tapi bersama-sama dengan mereka, gue merasa bagaikan... buntelan kentut! Gue sama sekali nggak menikmati suasana makan malam itu!

...

Alexa nggak pulang ke kost. Mungkin dia nginep di Marco. Maka gue dan Chris pulang berdua saja. Selama perjalanan gue diem melulu. Apalagi kalau bukan karena gue merasa bete sebete-betenya.

"Diem aja, Non." tegur Chris ketika kami berjalan dari pintu gerbang menuju paviliun kami,"Kenapa?"
"Nggak apa-apa."
"Boong ah."

Ah, gue lupa. dua tahun menikah, membuat Chris hafal bagaimana suasana hati gue, hanya dengan melihat tingkah laku gue.

"Mmm... gue dekil banget yah?" tanya gue.
"Mmm.. nggak dekil banget sih, Sil." jawab Chris.
"Tapi?"
"Oh God, ini nih yang gue benci. Kalau gue ngomong jujur, ntar gue didiemin sama lo semaleman, tapi kalo nggak, gue nggak suka boong..." Chris berkata dengan nada kocak.
"Bilang aja dekil..."
"Iya. Tapi nggak boleh ngambek." Chris merangkul gue.

Lalu kami melanjutkan langkah.

"Mas... kamu sayang aku apa adanya kan?" tanya gue mendadak.

Chris menghentikan langkahnya, lalu menatap gue dengan tatapan yang menunjukkan campuran rasa heran dan geli.

"Ya iyalah, Sil. Aneh-aneh aja kamu..." kata Chris.
"Biar pun aku dekil sekali pun?" tanya gue.
"Biar pun kamu dekil sekali pun."

Gue menghela nafas lega. Beberapa meter lagi kami sampai di pintu paviliun kami.

"Tapi, Sil." Chris berhenti.
"Apa?"
"Kadang-kadang gue kangen ngeliat lo dandan cantik, kayak zaman pacaran dulu..."

Gue terdiam. Menunduk sambil melanjutkan langkah. Gue pun membuka pintu, tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Sumber gambar : http://sxc.hu

9 komentar:

Ade mengatakan...

Aduuh sama euy.. kenapa yaa.. keinginan dandan dan modis hilang setelah menikah? :-((

cecil mengatakan...

ade:
iya iih..
ternyata bukan gue doang ya?

Enno mengatakan...

wah wah... pelajaran buat gue nih hehe...

dandan lagi dong mbak... buat menyenangkan suami, itu berpahala lho ;)

awi mengatakan...

hehe ternyata dandan itu perlu ya
biarpun terhadap orang yg sudah merried

desty mengatakan...

gw sih dari sejak pacaran emang malas dandan. yang berubah "hanya" berat badan saja..sekarang makin banyak "tumpukan ga jelas" di mana-mana.
kemarin ikutan reuni ama teman2 suami..ngelihat para wanitanya masih segar dan ga kelihatan gemuk. modis lagi... jadi gimana gitu perasaannya selama acara reuni..hehe

ceritaeka mengatakan...

Belum setahun menikah, jadi keinginan untuk dandan masih tinggi. Atau memang dasarnya centil ya :p

Lagian dandan cantik itu bukan cuma buat suami tapi kalo gue feel preety biasanya juga jadi happy :)

Soooo mari yuuuks ke salon rame2 :)

alexa mengatakan...

to all:
iya, ini lagi mencoba melawan kemalasan berdandan :)

lenje mengatakan...

loh, saya masih single tapi kok udah males dandan ya, hihihi...

unil mengatakan...

hahaha...salam kenal semuaaa

gue satu club ama lenje! masih single tapi males banget dandan...:D

ada untungnya juga! jadi ntar kalo married, cowok gue ngga nuntut nyuruh dandan kaya waktu pacaran hahahaha

Blog Widget by LinkWithin