Keluarga besar heboh. Kanti, sepupu saya kabur dari rumah... ke Bali, dan lebih detil lagi, ke tempat saya. Baiklah, malesin banget nggak sih menampung yang sedang bermasalah? Bukan, bukan soal saya nggak suka membantu orang yang sedang membutuhkan, tapi itu bikin jadi serba salah saja. Saya nggak tau harus berbuat apa, ih sumpe deh, saya bingungjayaselaras... dotkom. *halah, nggak lucu yak? :D*.Saya merasa bersalah kalau merahasiakan kedatangannya ke tempat saya, sementara saya tahu bahwa di Jakarta sana, orangtuanya pasti khawatir. Tapi, memberitahukan orangtuanya bahwa ia ada di sini? Kasihan juga si Kanti, siapa tahu ia butuh waktu untuk menyendiri.
"Udah, biarin dulu aja, barang beberapa hari sepupu loe tinggal di tempat lo..." itu usul Marco, si pacar. Hm, iya sih, tapi saya tetap berpikir, harus ada anggota keluarga yang tahu bahwa Kanti aman-aman saja di sini.
(Ehm, walaupun kayaknya nih ya, di mata keluarga besar saya, status keberadaan 'dengan-saya' itu nggak bisa disebut aman juga. Nggak tau kenapa. Emang saya bandel-bandel amat gitu? hihi)
Pikir punya pikir, akhirnya saya memutuskan untuk menelepon Bang Leo, si abang yang selalu rela memakai baju serimbit dengan anak istri saat reuni keluarga (ingat?), soalnya, he knows really well how to tell things to my mom, without giving her panic attack. ;-)
Jadi urusan keluarga, Bang Leo yang atur. Sekarang, tinggal urusanKanti dan membujuknya buat pulang, untuk menghadapi masalah, bukan menghindari seperti ini. Ehm, sekaligus supaya dia pulang aja, sejujurnya saya agak nggak demen kalau ada orang lain --- kecuali Marco, hihi--- di dalam kamar saya, nggak bebas.
"I hate my mom." cetus Kanti. Dan air matanya mulai menggenang.
ARRRGH! Please, jangan nangis! Saya sering mati gaya menghadapi orang menangis! Arggh.
"Kenapa?"
"Kita brantem hebat beberapa hari yang lalu..." air matanya semakin menggenang. Baiklah. Buru-buru saya mengambil box tissue dan menyodorkannya pada Kanti.
"Tukeran nyokap aja yuk, Mbak Alex?"
"Ih ogah!" spontan saya menjawab,"Nyokap situ kan mengerikan...!" Terbayang di benak saya, ibunya Kanti yang otoriter. NGGAK MAU!
Dan saya melihat sedikit senyum terbersit di bibir Kanti. Dan lucunya, air mata yang saya kira bakal segera tumpah, mendadak menghilang,"Mbak Alex, lo tuh kalo ngomong sembarangan banget yah."
Saya terkekeh, sambil menghela napas lega karena dia tidak jadi menangis.
"Ya itu dia. Nyokap lo enak, nyantai. Nyokap gue duuuuh...." imbuhnya.
"Emang kenapa?"
"Gue disuruh nikah...."
Dan saya pun ngakak,"Yah, gitu doang. Gue kira lo brantem karena apa. Lebay ah!" kata saya sambil mengibaskan tangan begitu tawa saya usai.
"Nggak, Mbak, gue nggak lebay. Ini masalah pelik buat gue. Gue dipaksa nikah. Karena umur gue tahun depan 29. Gue harus, catet nih ya Mbak, harus menikah paling lambat di umur 30. " Kanti berkata dengan gusar.
"Gile, ada deadlinenya yak? Kayak gawean aja. Terus, lo bilang apa?"
"Gue bilang, emang belum ada yang cocok, yang nyambung, masak mau dipaksain?"
"Dan, reaksi nyokap lo?"
"Kata nyokap gue? Gue nggak boleh terlalu pemilih, karena gue juga nggak sempurna, bla...bla..bla. Dan ini yang parah! Gue nggak perlu cinta-cintaan sama pasangan gue, ntar cinta bakal tumbuh belakangan! Ya ampuun, Mbak Alex, ngeri banget nggak sih? Kalo beneran cinta tumbuh belakangan ya oke-lah. Tapi kalo ternyata dari yang tadinya sama sekali nggak ada feeling terus malah jadi ilfeel kan ngeri. Gue seumur hidup harus bareng dengan orang yang bahkan untuk ngeliat pun males!"
Saya tercenung lama. Selama ini saya berpikir bahwa karena zaman sudah berubah, bukan zamannya kuda gigit besi lagi, sikap semua orangtua pasti sama dengan sikap orangtua saya yang super nyantai soal pasangan hidup pasangan anaknya. Tapi ternyata masih ada juga orangtua yang begitu terinspirasi oleh kisah Siti Nurbaya. Ampun.
"Nyokap lo.... serem amat sih?" saya berkata perlahan.
"EMANG!" ia menyahut dengan semangat,"Dan pertengkaran karena ini bukan baru sekarang doang... tapi sudah lama. DAN GUE MUAK!"
....
Seminggu kemudian.
Setelah melalui kesepakatan yang dibuat oleh Bang Leo dan si Mamah dengan Ibu-nya Kanti; dan setelah melalui proses panjang membujuk Kanti yang saya dan Marco lakukan, akhirnya, pagi tadi Kanti pulang, naik pesawat paling pagi.Malamnya, si Mamah nelepon. Katanya barusan ada pertemuan keluarga di rumah, untuk merekonsiliasi antara Kanti dan ibunya. Deu.
"Udah damai?" tanya saya tanpa basa-basi.
"Keliatannya sih udah. Tadi waktu pertemuan keluarga mereka saling terbuka dan saling nangis-nangisan gitu deh."
"Kayak sinetron..." celetuk saya.
"Emmang. Tapi baguslah hasilnya begitu, walaupun mamah nggak tau, sekarang mereka gimana di rumahnya. Itu sih bukan urusan kita lagi, yah?"
"Iya."
"Padahal tadinya Mamah pikir bakal terjadi peperangan lagi begitu Kanti sampe Jakarta. Soalnya Tante Vie tuh emosinya tinggi banget dari semalam. Kudu ditenangin sama Mamah, papah dan bang Leo."
"Terus bisa tenang karena apa?" tanya saya penasaran.
"Yah, mamah bilang aja ke dia 'Emangnya kamu Tuhan, mau ngatur-ngatur kehidupan anakmu?'"
"Serius mamah bilang gitu?"
"Iya, jodoh orang kan di tangan Tuhan, nggak akan ada yang bisa maksain. Lah siapa dia, maksa-maksain anaknya untuk menikah, padahal ya emang belum aja."
Saya terdiam. Lama. Apa ini juga yang menyebabkan si mamah, sama sekali tidak pernah ngomongin masalah menikah ya?
"Halo?" suara Mamah di seberang sana mengejutkan saya,"Kamu masih di sana?"
"Eh, i-iya Mah.?"
"Masih mau denger gosipnya nggak?"
"Iya, mau." saya menyeringai.
"Iya, terus Mamah bilang, memangnya menikah itu penyelesaian masalah? Lah, menikah kan sama saja bersiap berperang menghadapi masalah baru. Untuk itu, kesiapan diri dan pasangan kudu gila-gilaan. Pasti bakal ribet, kalau menikah cuma karena deadline umur thok....."
Dan si mamah pun terus menyerocos, menceritakan tentang kisah tante Vie.
"....akhirnya mamah bilang, bahwa anak kita itu bukan miliki kita, kita cuma kebetulan aja dititipin untuk ngerawat dan membesarkannya dengan baik. Anak kita itu adalah individu tersendiri, yang punya jalan hidup sendiri, kita nggak punya hak penuh pada kehidupan anak kita, yang bisa kita lakukan hanyalah ngasih tau dan ngedoain yang terbaik. Itu saja."
Sekarang, yang ada dalam pikiran saya adalah, betapa beruntungnya saya memiliki ibu seperti beliau; yang bukan soal jodoh saja membebaskan saya, tapi soal segala hal.
Yes, mom. I love you.
sumber gambar : sxc.hu


