Tampilkan postingan dengan label Si Lajang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Si Lajang. Tampilkan semua postingan

Kamis, April 12, 2012

Di-i VS Me-i

icha rahmanti ( @cintapuccino)

sumber : gettyimages.com
Beberapa waktu yang lalu saya sempat nge-twit begini: “Dicintai vs mencintai. Saat gak bisa saling, pilih yg mana?” 

Ya, saat saling tidak bersanding dengan cinta sehingga kadarnya nggak seimbang, pilihannya hanya pada dua pasangan imbuhan-akhiran ini: di-i vs me-i

Kebanyakan perempuan memilih di-i  karena kata mereka:  @deedinadee "Meskipun sensasinya lebih 'dapet' yg mencintai. Milih dicintai *inget cinta matinya Rahmi ke Nimo*”, lalu Neng @dhilaibtida pun memilih dicintai karena, “Mencintai kalau ga saling, cuma bikin capek” dan @anovita "Teh,milih dicintai, setelah itu biasanya bisa belajar 'mencintai'. Jenis cinta karena terbiasa tea geuning jenisnya”.
Ada seorang perempuan yang punya opini berbeda dari kebanyakan mojang yang memilih dicintai saja walau masih sambil berharap bisa dapat pasangan dengan kadar cinta yang saling. Kata @sihesty ,"effort besar menunjukkan bahwa mencintai ditujukan bukan ke sembarang orang. Memang nggak selalu mencintai dibalas dgn dicintai, seringnya malah dilewatkan begitu saja, tapi banyak orang yang belajar member setelah menerima,” argumennya.

Sementara itu, di sisi kaum bujang, kebanyakan ingin mencintai. Kata 
@oenank “Mencintai, soalnya kalo dicintai doank suka serasa punya utang”. Nah tapi seperti tembang dangdut A.Rafik – Tidak Semua Laki-laki.... *sambil nyanyi hehehe*  ada juga cowok yang berkomentar sebaliknya. @rezaFRoDiSCo “Dicintai dong, kalo mencintai banyakan sakitnya”.

So it’s safe to say that the choice, even one sex in general prefer being loved compare to majority of the opposite sex, generally it’s just us: human being in  battlefield of mighty love.

Tetapi baru-baru ini saya sempat ngobrol-ngobrol dengan seorang psikolog perempuan yang usianya jauh di atas saya. Ibu Psikolog ini bercerita teori menarik versinya. Katanya, untuk urusan mencari jodoh alias pasangan (yang niatnya) akan sehidup semati dalam pernikahan, sebaiknya perempuan kalau tidak bisa mendapatkan cinta yang seimbang, memilih laki-laki yang paling menggilainya *putar Shanty – Menggilaimu J *, yang paling mengejarnya sehingga sang perempuan berada di posisi dicintai. 

Kenapa?

Karena semodern apapun, menurut beliau perempuan punya dorongan domestik, ada tali rahim sebagai pengikat dengan rumah dan anak sehingga lagi-lagi, semodern dan sesibuk apapun karirnya di  luar, ikatan ini akan tetap membawanya pulang.

Sementara lelaki, tidak punya ikatan ini sehingga bisa “bebas” semau-maunya. Usaha, pengorbanan saat mengejar sang calon istri dululah yang akan membawanya selalu kembali ke rumah. Tanpa itu, akan terlalu mudah bagi laki-laki untuk cabut begitu saja ketika kehidupan pernikahan mengambil yang terbaik dari sayang diantara pasangan.  Akan terlalu mudah juga buat laki-laki untuk menyepelekan istri yang ibaratnya didapatnya dengan “mudah”. 

Kata Ibu Psikolog ini,  ada suatu kualitas yang “laki banget” untuk mempertahankan kepunyaan/ properti, dan ini akan berbanding lurus dengan tingkat kesulitan. Makin sulit makin dipertahankan. 

Tapi setelah selesai mengobrol dengan beliau, saya tiba-tiba terpikir sesuatu. Hati perempuan itu adalah kunci dari segalanya. Dalamnya bisa mengalahkan palung terdalam sekalipun dan dengan lika-liku yang rumitnya seperti birokrasi di negara kita –diperlukan trik khusus untuk bisa menanganinya.  Dan perempuan, biasanya, punya hati hanya untuk satu nama, seumur hidup.

 Jadi, terpikir oleh saya, akankah berada di posisi mencintai membuat perempuan mengeluarkan kualitas tabah cenderung bodoh dalam menjalani segala macam prahara rumah tangga termasuk pasangan yang menyepelekannya atau hal-hal lainnya? Kabarnya, jangan pernah meremehkan kekuatan perempuan yang mencinta, betulkah?

Ceritakan opini atau pengalaman kamu ya, Lajang-ers / Menikah-ers!


Jumat, November 19, 2010

'Ibuku Bilang Aku Harus Kawin eh Nikah!'

Tibanya undangan pernikahan sepupuku, Senny, yang berumur 24 tahun, tadi siang benar-benar menjadi perusak moodku! Gara-gara undangan itu, mendadak Ibu-ku jadi ingat obsesinya menikahkan putri tunggalnya --- alias aku --- saat umurku 25.

Yang mana..... sudah blas lewat empat tahun ya bok. Umurku 29 sekarang, 29 lewat 3 bulan.

"Tuh, Rae, Neng Senny aja udah nikah. Kamu teh gimana sih? Cepetan atuh, nikah. Kamu tuh udah kelewat nikah berapa banyak sepupu coba?" itu adalah preambule dari Ibu, saat ia menerima undangan tersebut. Sialnya, aku nggak sempat kabur.

"Udah atuh lah, Mamah. Bosen. Tsk." aku berusaha memaksimalkan rengutan di wajahku, berharap dengan ini, ibuku malas meneruskan konversasi.

"Ya abis, kamu nih gimana, sih? Santai banget. Umur kamu teh udah nggak muda lagi, Raenina. Mau nikah umur berapa siih?"

"Udah! Ya ampun, mamah! Capek dengernya."

"Tah, anak muda jaman sekarang, mah, dibilangin baik-baik malah marah-marah sama ibunya. Kumaha sih? Ini mamah teh maksudnya baik, Rae. Mamah teh udah tua, si papah udah nggak ada, gimana coba kalau misalnya sebentar lagi mamah meninggal, dan kamu masih sendiri? Nggak ada yang ngejagain?" suara ibuku bergetar.

Ya ampyuuun. Nggak suka deh sama drama 'ntar-kalau-mamah-meninggal'. Iiiih. Ibuku tau banget bahwa kalimat 'kalau-mamah-meninggal' itu selalu berhasil menyodok ulu hatiku. Membuatku merasa super bersalah --- karena nggak becus cari suami.

"Mamah, atuh gimana lagi coba? Jangan dikira aku belum usaha, tapi ya emang jalannya belum aja. Kan kata orang juga, jodoh itu bakal datang?" suaraku melunak. Iya memang aku sudah usaha, tapi cowok-cowok itu selalu kabur setiap aku menyatakan keseriusanku, dan bilang bahwa aku sudah malas pacar-pacaran. Aku nyari suami.

"Ya, tapi kamu teh udah ampir 30 tahun! Mau punya anak umur berapa coba? Mamah teh pengen gendong cucu juga." ibu berkaca-kaca.

Ibuku memang drama queen. Pandai membuat aku merasa terpojok.

"Arrgh, itu lagiiiiii. Ibu tuh, cuma pengen aku nikah supaya keinginan ibu punya cucu tercapai! Ingin aku membahagiakan ibu dengan ngasih cucu, tapi ibu terus menekanku dan bikin aku nggak bahagia. " aku menepuk jidatku dengan dramatis, lalu menggeleng-gelengkan kepalaku. Eh aku sudah bilang belum, kalau aku juga drama queen? Genetis. Tapi aku tidak sepiawai ibu, buktinya, aku selalu merasa terpojok dalam setiap drama episode 'ayo-kawin-eh-nikah-nak!'

"Raenina," ibu menghela napas," Bukan gitu, justru ibu yang pengin kamu bahagia, Nak. Punya suami, punya keluarga yang harmonis, punya anak-anak yang lucu-lucu. Kalau kamu udah punya itu semua, ibu bakal tenang deh ninggalin kamu."

Jah, dianya, ngebajay, ngeles.

"Udah ah Bu. Aku capek." aku pun bangkit.
"Mau ke mana kamu?" tanya Ibu.
"Mau ketemu Alexa."
"Aduh, Alexa? Kamu nih, jangan kebanyakan bergaul dengan dia, nanti nggak kawin-kawin."
"Tsk, apaan sih Bu?"
"Ya itu, Alexa kelewat cuek, kemarin pas dia ke sini, masak ditanya kapan nikah, dia jawab,'ntar lah tante, menopause masih jauh ini.' Ibu nggak suka, dia tuh pengaruh buruk buat kamu karena dia seolah merendahkan pentingnya menikah."
"Udah ah. Pamit bu." aku memutuskan untuk cabut, kalau diterusin kagak beres-beres. Aku pun meraih lengan kanan ibu dan menciumnya.
"Ya sudah, hati-hati Nak, pulangnya jangan malem-malem."

...

"Sembilan bulan cari suami? Itu bukan memotivasi diri, itu... lu sintiiing." Alexa terkekeh. Mukanya tampak geli setelah mendengar cerita bahwa aku ingin menikah sebelum tiga puluh. Beneran deh, konversasi dengan Ibu membuatku nggak nyante.

"Mbok ya elu, sebagai temen, dukung dong. Cariin calon suami kek." Balasku.

"Raenina, bilang elu nggak serius." muka Alexa masih tampak geli.

"Serius nggak serius sih. Serius nggak serius dengan bonus desperate. Ga tau ah."

"Kenapa sih lo? Yang bener aja lo mo buru-buru nikah gara-gara pengen punya anak. Tolong laaah."

Aku terdiam. Iya barusan aku bilang, aku ingin menikah, karena ingin punya anak. Ih, alasan yang tolol, aku tahu itu. Beneran deh drama episode 'Kamu harus kawin,Nak' memengaruhiku banget hari ini.

"I sound stupid, ya?" tanyaku.

"Banget." jawab Alexa,"Pasti gara-gara dipaksa nikah sama nyokap lo ya?"

"Bijitulah, Lex." aku mengerutkan bibir.

"Cuekin aja napa sih?"

"Jaaah, gimana cara mau nyuekin nyokap? Empat tahunan, Lex, gue diteror nikah sama nyokap."

"Atau bilang sama nyokap lo, santai aja, ntar kalo waktunya, ya terjadi juga. Kalau emang belum mungkin menikah, ya masa dipaksain? Masa sih lo kudu mungut calon suami dari pinggir-pinggir jalan demi cepat menikah? Nikah kan seumur hidup. Nggak bisa buru-buru, nggak bisa instan." Kata Alexa. Ia benar, tapi aku bosan.

"bosen ah sama teori lo!" aku makin merengut.

"Ih dibantuin mecahin masalah malah gitu, jawabnya. Nyebelin lu." Alexa --- si cewek yang opininya nggak boleh dibantah --- merengut. Ia tampak tersinggung.

"Ya, karena itu nggak ngebantu, Lex. Elu pernah diteror nikah segitu rupa sama ortu lo?"

"Nggngng... nggak."

"Nah, berarti lo nggak tau gimana rasanya jadi gue. Semua teori lo cuma applicable sama kehidupan lo, nggak di kehidupan gue. Ortu lo membebaskan lo soal nikah-menikah, nyokap gue nggak --- segala teori nyantai aja itu nggak berlaku buat nyokap gue."

"Emang lu udah nyoba?"

"udah. Empat tahun itu. Nggak ngaruh, Cooong."


Alexa terdiam. Tampak ia juga kehabisan kata-kata. Aku menghempaskan punggungku ke sandaran kursi.

"Tapi, serius. Lo emang beneran mau kawin sebelum umur tiga puluh, which is 9 bulan lagi? Atau lo cuma emang lagi kesel aja?" tanya Alexa.
"Ntah."

Marriage is not about age; it's about finding the right person.
(Sophia Bush)


Sumber gambar : Gettyimages.com
By the way, ini mencoba cerita bersambung dengan label : Raenina Mencari Suami, kalau mendadak bosen pengen ganti cerita, jangan protes yah. Protes Mbayar :))

Kamis, November 11, 2010

Raenina Mencari Suami : Target Menikah.


"Gue pengen nikah sebelum umur 30!" Kata Raenina tak berujung pangkal, saat kami sedang makan siang bareng di foodcourt sebuah pusat perbelanjaan.
"Deuh, kemarin katanya umur 27." jawabku.
"Kali ini beneran 30, nggak boleh mulur lagi!" perempuan manis berambut lurus panjang itu menjawab tegas.
"Dan sekarang lu umur?" tanyaku dan ini sudah jelas aku sekedar meledek, aku tahu kok umurnya.
"Dua sembilan." jawabnya lirih, matanya yang bulat meredup.
"Berapa lama lagi 30?" tanyaku, masih dalam rangka meledek.
"Ehm, sembilan bulan lagi." suaranya semakin melirih.
"Baiklaaaah.Calonnya?" aku tertawa geli.
"Itu dia!"

Aku ngakak, sudah setahun ini Raenina menjomblo, beberapa kali ia memang tampak dekat dengan beberapa orang cowok, tapi ya dekat secara kasual aja, sekali, dua kali, paling pol tiga kali kencan. Setelah itu nggak ada kelanjutan. Dan masalahnya selalu sama, cowok-cowok itu kabur, gara-gara Raenina terlalu grasa-grusu, baru aja dekat, sudah main todong : aku nggak nyari cowok, aku nyari suami. Ya panik lah para lekong itu. :D

Dan seperti biasa, kalau sudah ngomongin target menikah, wajah Raenina tampak gelisah. Dan dari kapan tau, aku nggak ngerti, kenapa Raenina selalu bikin target menikah, yang sering bikin dia stress.

"Udah lah, cong, santai aja." cetusku.
"Santai gimana cara? Umur kan nggak brenti. Keburu ketuaan gue ntar!" sergahnya.
"Emang kenapa kalau 'ketuaan'?'
"Susah punya anak!"

Selalu 'umur tidak berhenti', 'waktu biologis' yang jadi alasan kenapa ia bikin target menikah.

Dan aku tetap tidak mengerti.

Apakah 'punya anak' itu satu-satunya tujuan menikah? (Dan apakah punya anak itu harus menikah? Kan bisa..... adopsi, gitu. :P)

Sejujurnya sampai sekarang 'bayangan ideal'-ku tentang menikah adalah meleburkan diri dengan pasangan plus menghabiskan sisa hidup dengannya, dan untuk lebur dan menghabiskan sisa waktu dengan orang yang itu-itu saja, tentunya adalah satu keputusan yang berat, yang nggak bisa diambil secara instan. Setidaknya aku harus yakin, bahwa aku dan pasanganku 'tidak apa-apa' kalau jalan bareng sampai salah satu atau dua-duanya mati.

Punya anak? Nggak pernah terlintas kalau ngomongin soal nikah. Kejauhan. Itu sih, gimana ntar aja kali ya, yang penting, partner-nya dulu.

Yup, menikah dan punya anak tidak pernah menjadi satu paket dalam benakku. Atau, atau.. mungkin emang aku saja yang aneh?

Dan sekarang, menghadapi Raenina yang ingin menikah karena ketakutan akan 'jam biologis'-nya yang terus bergerak, ketakutan nggak bisa punya anak, sungguh membuatku bingung. Aku menangkap kesan bahwa Raenina ini, tidak peduli partner menikahnya siapa, yang jelas ia harus punya anak sebelum alat reproduksinya layu.

"Tekat gue udah bulat. Dalam sembilan bulan ini, gue harus udah menikah." katanya, dengan tegas dan pasti.
"Halah, udahlah, Nin. Serem gue denger lo."
"Ini namanya memotivasi diri." katanya.
"Sembilan bulan cari suami? Itu bukan memotivasi diri, itu... lu sintiiing." aku terkekeh.
"Mbok ya elu, sebagai temen, dukung dong. Cariin calon suami kek."

Dan aku tetap takjub dengan Raenina. Mau gimana caranya coba, dalam sembilan cari suami?


“Marriage is like a cage; one sees the birds outside desperate to get in, and those inside equally desperate to get out.” (Michel de Montaigne, French Philosopher and Writer, 1533 - 1592)


Sumber gambar : gettyimages

Selasa, November 03, 2009

Seks itu susah....


"Hadoooooh....." kawan saya menepuk jidatnya seusai bercerita tentang kelakuan adik bungsunya yang cowok. Umurnya (-nya, adiknya, bukan kawan saya) kurang lebih lima belas tahun. Menurutnya barusan, sang adik kepergok sedang melihat video klip bokep di salah satu situs serupa youtube, tapi kheuseus untuk jenis film porno. (And, no, I won't mention the URL here, ntar pada doyan :D).

"Terus, terus, lo apain?" tanya saya.

"Ya gue marahin lah bok! Mau diapain lagi coba?" jawabnya,"Gue bilang dosa liat begituan..."

"Basi ah lu." saya tertawa.

"Ih, elu yeeee...." ia pun mendelik.

"Lu nggak sekalian bilang bakal masuk neraka kalo liat bokep?" saya meledeknya lagi.

"Er, gue bilang gitu sih. Supaya dia nggak liat-liat lagi."

"Halaaaah..." saya tertawa lagi,"Dan elo pasti ngomongnya sambil marah-marah dan panik-panik."

"YA IYALAH! Anak umur lima belas tahun liat bokep! Adik gue sendiri boook! Pokoknya gue ga mau dia liat bokep lagi!!!"

Saya mendadak teringat dengan kawan perempuan saya di masa kuliah dulu. Ceritanya, waktu itu, tanpa sengaja ia menemukan laser disc bokep di laci oom-nya, maka menontonlah ia. Dan sialnya ketahuan oleh -nggak tanggung-tanggung- ibunya. Yah, kena marah lah ia katanya, menonton film porno itu dosa besar, apalagi melakukannya. Seks adalah dosa. Dan puncaknya adalah, seluruh LD bokep oomnya dibakar. (oh kasihan sekali oomnya, secara LD itu mahal ya bok)

Terus, apakah kawan saya jadi takut 'dosa' setelah itu? Nggak ya bok. Dia-lah yang pertama kali memberi usul untuk iseng menonton bokep pada kawan-kawan se-gengnya di masa kuliah, termasuk saya.

"Ngng, nggak tau ya, emangnya kalo ditakut-takutin itu dosa, dia bakal berhenti?" tanya saya,"Siapa yang jamin dia nggak nonton diem-diem lagi, di tempat lain?"
"Itu diaa.. ngeri gue." kawan saya menghela napas.
"Ngng, emang apa salahnya sih nonton bokep?" iseng saya bertanya.
"AH GILA LO!" kawan saya mendelik lagi,"Kalo gara-gara itu dia jadi terdorong buat melakukan hubungan seksual, apa kabar hidupnya?"

Iya sih. Apa kabar ya, kalau ternyata, dengan pengetahuan minim dan konsep yang salah tentang seks --- hanya bersumber dari tayangan klip porno, yang mostly sama sekali nggak edukatif, kecuali untuk gaya-gaya berhubungan seksnya :P --- gawat saja, kalau adiknya kawan saya jadi terdorong untuk 'mencoba'nya.

Harus nikah karena menghamili anak orang. Doh, pipis aja belum lempeng, kerjaan nggak punya, berkeluarga? Yasalam.

Atau ditangkap polisi karena melakukan sexual harrasment. Atau karena mendadak narsis merekam aktivitas dan tersebar di internet.

Atau terkena penyakit menular seksual.

Gawat beneran. Banyak banget kemungkinannya. Bukan sang anak saja yang masa depannya hancur, tapi keluarganya.

"Ehm, lo nggak ngejelasin tentang apa yang diliatnya?" tanya saya.
"Maksud lo?"
"Ya jelasin aja, itu lagi ngapain, risikonya gimana kalo dia nekat ngelakuinnya, siapa yang boleh ngelakuinnya etc."
"Doh, manalah gue kepikir buat ngasih sex education, keburu panik duluan gue..."
"Sebelumnya, pernah ga adik lo diceritain soal seks?"

Kawan saya menggeleng.

Ah, orang dewasa ini. Kalau soal seks, aja, pasti menutup-nutupi, mentabukan. Begitu si anak tau dari luar, eh, panik jaya.

Jujur saja, waktu kecil saya tidak pernah sekalipun mendapat proper sex education. Yang sering saya dengar dari mulut orangtua saya adalah mitos : adik bayi dikirim lewat langit-langit rumah. Bahkan untuk menyebut kelamin pun, harus pake metafora.

Saya baru tahu perkara seks ini dari guru biologi SMP. Plus waktu SMU, dua kali ada 'acara' nonton film dokumenter sebagai bagian dari program sex education --- saya lupa judul-judul filmnya, tapi yang satu menceritakan tentang apa akibat (buruk)nya jika kita melakukan hubungan seksual secara tidak bertanggung jawab --- yang jelas akibat buruknya ekstrim banget lah. Sedangkan film yang lain, menceritakan tentang proses aborsi. Ya ampuuun, itu sih ditunjukan bagaimana proses aborsi, yang nonton jadi mual dan sedih. Yang ada begitu selesai menonton film kedua, mata kami memerah karena semua menangis. :)

Tapi kedua film tersebut --- walaupun tanpa peringatan yang berhubungan dengan dosa--- mengena dan membekas sekali, pokoknya tertanam dalam benak bahwa tidak bertanggung jawab ujung-ujungnya sengsara. Yang jelas setelah SMU, biar pun sempat mengalami nakal-nakal remaja, semacam nonton bokep bareng (haha!), tapi ujung-ujungnya nggak babar-blas, ya gara-gara dua film itu. Nggak ada satu pun dari kami yang terjerat hal-hal buruk gara-gara urusan seks tak bertanggung jawab.

"Eh, kalo soal seksual dibilang dosa dan kotor, mungkin ga ujung-ujungnya adik lo punya konsep yang salah tentang seks, bahkan sampai waktunya nanti?" tanya saya, sebenarnya untuk diri saya sendiri.
"Nah lo. Iya ya?"

Akhirnya kami sampai pada satu kesimpulan, bahwa sex education itu penting ditanamkan sejak dini. supaya tidak terjadi hal-hal yang berbahaya yang berhubungan dengan 'salah menggunakan' perkara seks. Juga supaya tidak menimbulkan kesalahan konsep seks.

.....

Beberapa hari kemudian, saya mendapat 'tugas' untuk menjaga anak kawan saya yang terkenal kritis. Umurnya enam tahun. Saya membawanya ke sebuah tempat bermain dan kebetulan di sana ada seorang ibu hamil. Eh, nggak dinyana, mendadak anak kawan saya ini bertanya...

"Dedek bayi itu gimana bisa masuk ke perut mamahnya sih, Tante?"

Arrgh! Why me, why oh why?

Oke, baiklah, tentu saja saja saya tidak boleh bilang bahwa ada burung bangau diam-diam menyelinap ke dalam kamar bapak dan ibunya dan meletakkan adik bayi di sana. Tapi gimana coba menjelaskan proses 'penyerbukan' manusia dengan bahasa yang sederhana dan mudah dicerna oleh anak berumur enam tahun.

Arrgh! Sekali lai : Why me, why oh why?

"Yang masukin ya papanya. Setelah menikah, karena papanya cinta, jadi dikasih hadiah adek bayi ke dalam perut mamanya" jawab saya setelah berpikir keras. Euh, jawaban yang terdengar konyol.

"Papanya masukin pake apa? dimasukin lewat apa? Perut mamanya dibuka?"

Yaolooooo. Tolong sayaaaa.

"Er, gimana kalo nanti kamu tanya mama dan papa kamu?" akhirnya saya menyerah dan melempar tanggung jawab pada kawan saya --- papa dan mamanya.

Lho iya dong, sex education itu selayaknya diberikan oleh orangtua dari anak kan? Dan saya bukan orangtua gadis cilik kritis ini.

Ya toh? Ya toh?

*hela nafas*

Seks itu, ternyata susah ya.... untuk dijelaskan :D


Mungkin harus ada kursusnya nih :)



"Young people need real sex education that provides them with all the information they need to stay safe and make healthy choices." (Angus McQuilken quotes)


Sumber gambar : sxc.hu

Selasa, Oktober 27, 2009

Si Lajang/Si Menikah : Monster Tukang Larang.

"Eh, Maia, nggak boleh buka-buka rok kayak gitu ah!" Icha mengerutkan kening, ketika putrinya yang berusia (kalau tidak salah) lima tahun mengangkat-angkat roknya. Maia mendelik pada Icha tanpa mengatakan satu patah kata pun, lalu berlalu dari hadapan kami,menghilang ke dalam kamarnya,"Hhhh, lagi demen-demennya ngelawan dia." desah Icha.
"Cha, Maia cantik ya?" kata saya tulus.
"Oh." Icha tersenyum sumringah. Ibu mana sih, yang tidak suka jika putrinya dipuji.
"Cepet gede aja, berasa lahir baru kemarin..."
"Iya, time flies..."
"Tau-tau udah remaja aja..."
"Duuh, ga kebayang..." Icha menggelengkan kepala.

....

Saya bersahabat dengan Icha sejak kami masuk ke SMA yang sama. And she hated her parents, khususnya ibunya. Soalnya, ibunya itu memang basi banget, banyak peraturan dan tukang ngatur. Emang sih, ibu-nya Icha kolot banget. Sori, sori aja ya, rada basi. Setiap hari harus sudah ada di rumah jam dua siang. Kalau weekend boleh sampai jam lima sore (Cuma kalau main ke rumah saya, boleh sampai jam tujuh atau delapan malam). Keluar rumah nggak boleh pakai celana pendek/rok mini. Harus pakai baju yang dibelikan ibunya (padahal aduh, baju-baju pilihan ibunya itu... enggakbanget! kalau nekad pakai baju itu keluar rumah, kau bakal jadi bulan-bulanan). Ke mana-mana harus antar jemput. Nggak boleh nginep-nginep. Nggak boleh pergi sama cowok (apalagi pacaran). Lalala.. Lilili.... pokoknya masih banyak lah, hal-hal yang membuat saya merasa beruntung, karena Ibunya Icha bukan Ibu saya.

Tapi Icha bukanlah anak penurut. Akibatnya saya sering jadi bumper ya, bok. Icha sudah pacaran sejak kelas satu SMA --- dan setiap ia hendak berkencan, ia akan meminta supirnya untuk mengantar sampai ke rumah saya. Dari rumah, ia meminta izin untuk main ke rumah. Begitu sampai di rumah saya, ia selalu mewanti-wanti saya

"Gue bilang, gue ke rumah lo. Jadi kalo lo ditelepon nyokap gue, jangan bilang nggak tau..."
"Lah terus gue kudu bilang apa dong, kalo nyokap lo nelpon...?"
"Apa kek..."

Daaan,akhirnya setiap ibunya Icha menelepon saat Icha sedang berkencan, saya harus menjawab "Ada tante, tapi lagi di toilet, ntar saya bilang kalo tante nelpon...". Untung saja, Icha selalu sudah ada di rumah saya sebelum supirnya menjemput, kalau nggak berabe, aja.

Kalau pergi dari rumah,tentu saja Icha memakai pakaian layak-pakai menurut standar ibunya, tapi tentu saja ia akan sangat niat segera mengganti bajunya dengan tanktop dan rok mini di toilet mall yang kami kunjungi.

Kalau saya disuruh membuat daftar kebadungan Icha (dan ehm.. saya.. juga sih), pasti bakal panjang sekali!

Saya masih ingat banget, suatu hari, saat kami mengobrol ngalor-ngidul di kamar saya sambil menonton film dan memamah popcorn, Icha sempat bertanya-tanya, kenapa orangtua itu hobi sekali melarang-larang.

Waktu itu saya hanya mengangkat bahu --- walaupun orangtua saya juga suka melarang ini dan itu, dan kadang saya bete juga; tapi saya sih nggak segitunya memberontak, nggak kayak Icha. Pada dasarnya, saya sebangsa orang yang malas berfriksi. Cinta damai, bok. Lagipula,orangtua saya tidak se-strict orangtua Icha. Segala larangan masih bisa lah, ditoleransi (walaupun nggak jarang juga saya menabrak larangan-larangan tersebut kecil-kecilan--- gimana ya, rules are meant to be broken, aren't they?)

Icha sempat memberi label Ibunya sebagai 'monster tukang larang' dan 'monster curigaan'. Menurut Icha, orangtua macam ibunya ini-lah yang membuat masa remaja jadi tidak indah.

"Pokoknya, kalo gue udah jadi ibu-ibu, gue mau bebasin anak gue kalo udah remaja, mau pulang malem kek, mau ngapain kek. Anak gue bakal gue kasih kepercayaan sepenuhnya. Gak deh, gue gak mau jadi monster tukang larang dan monster tukang curigaan. Biar anak gue menikmati masa remajanya.'

"Lagian,bukannya kalo semakin dilarang, anaknya bakal semakin memberontak? Siapa bilang anak di depan iya-iya, tapi di belakang nggak nakal-nakal? Daripada gitu, mending dilepas aja kali, ya nggak?" katanya lagi.

"Iya kali..."

....

Segala aturan dan segala curfew ala Ibu-nya Icha itu masih eksis, bahkan sampai ia lulus kuliah. Iya sih, agak melonggar, tapi tetap aja masih bisa dimasukkan dalam kategori kuno. Saya sempat ketawa-ketawa saat jam tujuh malam, di satu malam minggu, di umur Icha yang ke-23, mendadak sang Ibu meneleponnya dan menyuruhnya pulang. Ya ampun, dua puluh tiga tahun dan masih disuruh pulang! Dan saya tambah geli, karena melihat Icha ngomong "Iya bu, ntar lagi aku pulang." di telepon dengan suara ala anak manis sedunia, padahal ia memberot-berotkan mukanya tanda sebal.

"Gue pengen kawin aja deh, biar bebas dari aturan nyokap." kata Icha setelah telepon ditutup, sambil buru-buru menyeruput minumannya dan bersiap-siap untuk pulang.

Anyway, Icha menikah di usia dua puluh empat. Saya nggak tau dia menikah karena memang merasa sudah waktunya menikah, atau karena ingin bebas dari aturan ibunya.;-) Setahun kemudian, lahirlah Maia.

.....

"Kebayang ga sih lo, sepuluh taun lagi dia tau-tau bawa cowok, terus bilang 'Kenalin, ini pacar aku, Mama...'" seloroh saya.
"Hhh, iya euy, gue suka serem aja mikir gitu. Pengennya sih Maia nggak usah gede-gede lah, terus gue pingit di rumah."

Saya tertawa geli mendengarnya.

"Eh, gue masih inget lu dulu pengen ngebebasin anak lu mau ngapain aja..." cetus saya.
"Er, gue tarik deh perkataan gue. Seriusan, gue nggak mau ngebebasin blas anak gue ngapain aja, takut dia ngelakuin yang ga bener!"
"Emm, mungkin itu juga yang ditakutin nyokap lo sampe lo dilarang-larang segitunya."

Icha terdiam.....

"Iya sih, bisa jadi. Setelah punya Maia, gue jadi tau gimana perasaan nyokap gue dulu." katanya sambil menghela napas.
"Artinya lo mau mengekang Maia seperti nyokap lo mengekang lo?" ledek saya.
"Oh, tentu enggak. Gue nggak bakal deh terlalu kayak nyokap gue. Gue bakal mendidik Maia bebas tapi terkendali. Gue berusaha jadi sahabat Maia, supaya ntar kalo udah gede, dia bisa ngelakuin segala sesuatu tanpa harus sembunyi-sembunyi."
"Ah teooriiii..."
"Hu, liat ajaaa..."
"Baiklah. So, ntar kalo mendadak anak lo jujur sama lo dan bilang "Mama, tadi aku ciuman dong sama pacar aku. French Kiss, lho."
"IIIIH! GA MAAU..." Icha mendelik.
"Atau mendadak kalo dia bilang 'Mama, tadi toket aku dipegang-pegang sama pacar aku, kok rasanya gitu ya?"
"Ga mauuuu..." Icha mendelik sambil menggelengkan kepala.
"Atau..."
"Udah cukup! Jangan bikin gue pengen ngurung anak gue yaaaaaa..."

Dan saya pun ketawa-ketawa mendengar protes Icha.

Ehm, mendadak kepikir, jangan-jangan, begitu punya anak, memang seorang perempuan akan selalu menjadi monster tukang larang, karena kuatir pada anaknya?

If you've never been hated by your child, you've never been a parent.

Bette Davis

Thank you, Gaby, atas quotation pagi-paginya di twitter yang mendadak menginspirasi :)

sumber gambar : sxc.hu

Kamis, Oktober 15, 2009

Si Lajang : Karena Cinta, Perempuan Jadi Bodoh.

Saya harus ke dokter gigi. Alih-alih menuruti saran ibu saya untuk mendaftar dulu via telepon, saya nekad datang dan daftar di tempat, tokh selama ini, saya nggak pernah tuh lihat terlalu banyak pasien menunggu. Deuh, ternyata tempat praktiknya, rameeee. Bermasalah dengan gigi memangnya lagi musim yah? :)

Karena bosan menunggu, maka oh maka, saya pun memutuskan untuk membaca salah satu majalah yang tersedia di sana. Karena semua majalah berbau-bau politik, maka pilihan jatuh pada majalah perempuan nasional --- tapi bukan semacam majalah panduan bergaya hidup sangat konsumtif--- inisialnya K. (ada yang bisa nebaaak?)

Dalam majalah tersebut saya membaca satu kasus di mana seorang remaja, berusia sekitar 16 tahunan rela 'dijual' oleh pacarnya untuk berhubungan seksual dengan teman-temannya. Anjir, pra-remaja masa kini ya, mainannya! Parah.

Di artikel tersebut dibeberkan secara runut, bagaimana awalnya sang pra-remaja tersebut 'rela' diperlakukan demikian oleh sang pacar. Menurut pengakuannya, semua diawali oleh ajakan sang pacar untuk berhubungan seksual; remaja putri tersebut tidak mau, namun akhirnya sang pacar berhasil membuat remaja putri tersebut mau, tentunya dengan ancaman terselubung : bahwa kalau tidak mau, maka sang pacar akan meninggalkannya. Kesediaan sang remaja putri jadi semacam 'bukti cinta'nya pada sang pacar.

Nah sialnya, nggak cuma berhenti sampai situ saja, tapi sang pria dengan geblek-nya menawar-nawarkan si remaja putri pada teman-temannya. Sang remaja putri mau, karena (sekali lagi) takut kehilangan pacarnya. Aww, so sweet.... NOT!

Sumber dari semua ini adalah rasa ketakutan sang remaja putri kehilangan sang pacar. Miris waktu membacanya. Dan satu hal yang tersirat dalam benak adalah, perempuan ini bodoh. Atau untuk memperhalus, naif, lah. Tentu saja karena masih muda dan level pendidikannya pun belum terlalu tinggi (dia masih SMU), 'nalar'-nya nggak nyampe. Alih-alih menganggap dirinya lebih penting dari segalanya, ia malah memutuskan untuk melakukan hal yang awalnya tidak dikehendaki hanya agar tidak kehilangan sang pacar.

Sepulangnya dari dokter gigi, kebetulan saya harus bertemu dengan beberapa teman.

Semua sepakat dan mengatakan hal yang sama seperti yang saya pikirkan ketika selesai membaca artikel tersebut : Gila ya tu anak, bodo benerrr....

Sampai di sana topik berpindah, membicarakan sepak terjang teman-teman yang lain. Si Alya yang dapat beasiswa ke luar negeri. Si Benita yang kerjanya beranak lagi beranak lagi. Si Callista yang baru membuka bisnis unik.

Lalu pembicaraan tiba pada si Dina, yang setelah satu dekade putus-nyambung-putus-nyambung dengan pacarnya,akhirnya bertunangan juga. Setahu saya, pacar si Dina ini semacam pria-nggak-asik lah, punya kecenderungan untuk melakukan kekerasan secara psikologis. Dina pernah mati-matian diet dan olahraga karena dikatain 'Gendut', Dina sempat terisolasi dari pergaulannya, karena pacarnya memonopoli waktunya, Dina sempet stress karena selalu dicurigai dan dicemburui, bahkan setahu saya, sekitar sembilan tahun yang lalu, sewaktu pertama kalinya Dina balikan lagi dengan pacarnya, itu karena... sang pacar mengancam akan bunuh diri kalau ditinggal (And it's oh so lame)

Kami bilang Dina bodoh. Dan salah satu dari kami nyeletuk, tapi ya sudahlah, namanya juga cinta.

Lalu perbincangan lanjut pada Elsa. Perempuan yang berasal dari keluarga super mampu, sempat mengenyam pendidikan sampai jenjang S2, memiliki karir luar biasa --- eh menikah dengan seorang pria, yang kuliah S1 pun hanya sampai semester 1, dan... pengangguran. Mending cakep (ha! fisik!), tapi ini enggak! Mending juga punya karakter baik, nggak! Semacam pria-pria tak berguna tapi belagu gitu deh. But they got married anyway. Dan Elsa menjadi tulang punggung keluarga; kalau sudah gitu, mbok ya'o sang pria ikutlah berpartisipasi dalam kehidupan berkeluarga mereka. Eh enggak ya. :P

Kami bilang Elsa bodoh. Dan salah satu dari kami nyeletuk, tapi ya sudahlah, namanya juga cinta.

...

Sepulangnya dari pertemuan tersebut, saya berusaha mengingat-ngingat bagaimana saya kalau sedang jatuh cinta/sikap saya terhadap pasangan.

Well, yang pasti sih, kalau memang sedang jatuh-jatuhnya cinta *heyah!*, mendadak saya 'membutakan' diri saya untuk banyak fakta/hal, yang sebenarnya nggak sreg di hati, bisa jadi dari habitnya, bisa jadi dari cara dia bekerja, bisa jadi dari kelempengennya/ ketidakekspresifannya *er, curcol ajah ya belakangan ini*, bisa jadi dari perilaku teman-temannya dan seterusnya.

Lalu, jiwa pemaaf saya mendadak besaaaaaar sekali. Saya memiliki kecenderungan untuk memaafkan pasangan - telat, lupa telepon,lupa janji, pasti maaf saya lewat lah. Lalu saya mendadak jadi sangat pemaklum, dia emang orangnya gitu, jadi gue harus terima dia apa adanya. Pokoknya jadi fleksibel,lah. Pun jika telat-nya dan lupa-nya pasangan itu mengakibatkan jadwal harian saya amburadul, paling saya hanya ngambek dikit, dan sudah, begitu saja. Ada kecenderungan di diri saya untuk bilang 'Ya sudaaaah....'

Memang sejauh ini, saya fleksibel hanya untuk hal-hal yang tidak prinsipil. Tapi, bisa juga kan dikatakan bahwa ini adalah bentuk kebodohan? Soalnya, jika dipikir-pikir lagi, kalau yang melakukan itu adalah orang lain, tentu saya nggak segitu pemaafnya, segitu pengertiannya, segitu fleksibelnya. Yup,aslinya, saya benci banget kalau ada orang yang merusak jadwal/hal-hal yang berkaitan dengan saya karena kelalaiannya.

Jangan-jangan, memang semua perempuan mendadak 'bodoh', kalau sedang jatuh cinta. Tanpa peduli umur dan tingkat pendidikan. Buktinya bukan remaja putri yang masih SMA saja yang 'bodoh', tapi juga Dina dan Elsa. Dan... saya!

Bagaimana dengan anda?;-)

gambar ilustrasi oleh aznswt33 untuk sxc.hu

Minggu, Oktober 04, 2009

Si Lajang : Gonta-ganti Pantyliners Pacar

Ceritanya beberapa waktu yang lalu saya dan seorang teman jalan-jalan di sebuah mall di Bandung. Niat saya mengganti kacamata, niat teman saya, er..menemani saya mengganti kacamata.

Setelah urusan perkacamataan beres, dia mengajak saya ngupi-ngupi bergaya di salah satu warung kopi kapitalis berinisial S.T.A.R.B.U.C.K.S yang ada di mall tersebut. Kami mengobrol panjang lebar mengenai banyak hal sambil menikmati susu yang dinodai kopi (well, maksudnya latte gitu). Di tengah-tengah obrolan mendadak teman saya ini menghentikan kalimatnya, lalu menjulurkan kepala ke arah pintu masuk.

"Apaan?" tanya saya sambil menoleh ke arah matanya memandang. Di sana tampak sepasang remaja yang bergandengan tangan super-mesra memasuki warung kopi ini.
"Ponakan gue." jawabnya.
"Oh." saya membalas,"Terus?"
"Nggak apa-apa..."

Kemudian kami melanjutkan mengobrol lagi. Tak berapa lama, teman saya mendadak tersenyum. Saya jadi menoleh kembali, sepasang remaja tersebut mengarah ke meja dekat kami.

"Eh, tante..." sang remaja putri terkejut.
"Halo,Vien." jawab teman saya.

Saya bisa membaca bahwa ia malas-malasan menghampiri kami. Mungkin kalau sebelumnya ia tahu bahwa tantenya --- teman saya ini --- ada di tempat ini, ia akan lebih memilih untuk menyambangi warung kopi lain.

"Udah lama,Tante?" katanya basa-basi.
"Lumayan." jawab teman saya.

Jeda.

"Eh,iya, kenalin, ini...ngng... pacar saya..." keponakan teman saya memperkenalkan sang cowok yang berdiri super canggung.
"Riza." kata sang cowok sambil menjabat tangan teman saya--- dan teman saya pun menyebutkan namanya.

Jeda.

"Eh, silahkan lho,kalau mau lanjut..." kata teman saya.

Jelas sekali keponakan kawan saya itu merasa lega.

"Kita ke sana, ya Tante..." katanya sambil menarik sang pacar ke arah yang berbeda.
"Yuk.. salam ya buat Mami di rumah."

Dan mereka pun berlalu. Teman saya kembali berkonsentrasi pada saya.

Ia menggelengkan kepala.

"Apaan?" tanya saya.
"Anak muda jaman sekarang ya..." katanya sambil menggantungkan kalimat.
"Apaan sih?"
"Perasaan minggu lalu pacarnya bukan yang ini deh..."
"Ya terus kenapa?"
"Terus bulan lalu,pacarnya juga beda. Dia ganti pacar seminggu sekali gitu kali ya?" ia mengernyitkan kening"Duh, dia tuh, ganti pacar sesering ganti pantyliners ..."

Lebay. Katakanlah keponakan teman saya itu berganti pacar seminggu sekali; saya nggak bisa membayangkan apa jadinya kalau saya berganti pantyliners seminggu sekali. Keputihan akut kali.

"Ya biar aja lah, namanya anak muda..." kata saya.
"Iya sih, tapi tu anak udah diomongin gitu sama keluarga besar. Omongannya rada negatif."

Well, saya bisa ngebayangin gimana omongan negatif tentang cewek yang sering berganti pacar. Antara playgirl, gampangan, agresif atau yang paling parah, murahan. Pokoknya nggak baik aja!

'Jangan gonta-ganti pacar melulu, sama satu orang aja. Perasaan orang dulu tuh belasan tahun pacaran, terus menikah aja. Ora ilok perempuan gonta-ganti pacar, kesannya negatif.'

Gitu deh, katanyaaa...

'Ya namanya pacaran, harusnya sih, saling bertoleransi, jangan kalau nggak cocok dikit, udahan...'

Gitu juga katanya.

Iya, tau, namanya juga dua orang berbeda latar belakang yang mencoba bareng-bareng dan mencoba untuk berhubungan lebih mendalam,pasti bakal menemukan banyak hal yang berhubungan dengan 'asli'nya pasangan. Pacaran itu adalah ajang untuk latihan saling menyesuaikan diri... TAPI kalau ternyata 'aslinya' tidak bisa ditolerir dan membahayakan, apa kabar? Abusif misalnya.

Duh, masa sih harus dipertahankan? Dan masa juga dipertahankan hanya demi menghindari image negatif?

Nggak deh.

Lagipula, keponakan teman saya itu masih ABG ya bok. Seingat saya, di masa ABG, saya sering salah 'mengartikan' perasaan, sering banget cinlok. Baru kenal sebentar, tapi begitu 'merasakan' getar-getar aneh *tsaaah bahasanya!*, langsung hayuk saja begitu ditembak. Saya sama sekali tidak mencoba menilik lebih jauh lagi ini-itu tentang gebetan saya. Pokoknya kalau orangnya (berasa) asyik (saat pedekate yang seumur jagung), jadian!

Dan di saat remaja itu, karena nggak benar-benar kenal, begitu jadian, saya baru menemukan bahwa saya mengambil keputusan yang salah; ternyata si pacar jelesan. Ternyata abusif. Ternyata nggak segitu nyambungnya. Ternyata ini dan ternyata-ternyata lainnya yang bikin kehidupan saya nggak hepi. Well,saya sih,daripada nggak hepi mending putus, duh, masih remaja kok hidup harus susah, apalagi kalau gara-gara cowok.

Terus terang, sampai saat ini saya merasa, ya nggak apa-apa juga gonta-ganti pacar, selama gonta-gantinya karena ketidakcocokan, bukan karena gatelan saja. Hehe. Namanya juga lagi masa penjajagan, sebelum menjalani hubungan yang komitmennya lebih kuat, boleh dong memilih-milih yang terbaik? Daripada entarnya terjebak dengan orang yang salah?

Soalnya saya rasa nggak semua orang 'seberuntung' orang dulu --atau mungkin juga ada orang sekarang --- yang mendapatkan pasangan 'langsung cocok' sampai menikah.(Uhm, jangan-jangan, sebenarnya bukan 'beruntung' juga, tapi daripada dicap jelek, mending dipertahankan? Siapa tau kan? hehe)

"Ya nggak apa-apa lah,keren ponakan lo, laku." kata saya sambil terkekeh.

sumber gambar : sxc.hu

Minggu, Juli 12, 2009

Si Lajang Alexa : Ikatan Batin.

"Lu tuh punya niat menikah nggak sih?" celetukan itu keluar dari bibir Cecil mendadak, saat kami sedang berada di dapur rumah kontrakan Marco, untuk menyiapkan makan siang weekend ini. Sementara Marco dan Chris, sedang menjalankan fitrahnya sebagai pria yang memiliki kecenderungan tidak berguna untuk perkara domestik. I have no idea what they are doing now. Mungkin mereka sedang melakukan kegiatan pria sejati pada umumnya, antara main games, menonton DVD atau mengobrolkan masalah pria sambil merokok di teras. *roll eyes*

Menu kami hari ini adalah pasta, salad dan chicken cream soup. Pasta telah selesai, Cecil sedang mengaduk cream soup di kompor supaya tidak pecah, saya memotong-motong slada, tomat, timun dan bawang bombay untuk diatur di piring saji dan disiram dengan saus Thousand Island. Memang mostly kami menggunakan bahan instan, duuuh, hari gini ya, kalau bisa melakukan satu hal dengan sederhana, kenapa musti ribet? ;-)

"Kenapa emangnya?" tanya saya.
"Just curious."
"Curiousity kills many cats." balas saya.
"Gue kan bukan kucing."
"Iya juga sih." saya terdiam,"Mmmm... sumpah sampe sekarang belum ada sedikit pun terbersit keinginan menikah dalam benak gue."
"Boong ah."
"Eh, serius. Suer." saya pun mengangkat tangan kanan saya dan mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.
"Emangnya lu nggak pengen settling down satu saat nanti?"
"Oh tentu pengen. Satu saat nanti, entah kapan. Gue selalu berpikir untuk punya rumah kayu di desa, terus bercocok tanam hidroponik.Tapi, dalam bayangan gue, nggak pernah ada sosok suami tuh, yang ada malah sosok Golden Retriever yang bakal gue kasih nama Che atau Lennon. Dan uhm, kadang-kadang keselip juga dalam khayalan gue, seorang anak cewek, yang gue kasih nama Yoko."
"Eh, gimana sih khayalan elo, ada anak tapi nggak ada suami!" Cecil mengerutkan kening, ia menghentikan adukan tangannya pada panci soup.
"Mmm... gimana dong, memiliki suami itu nggak pernah ada dalam bayangan settling down versi gue." saya mengedikkan bahu.
"Kalo lo nggak punya suami, gimana punya anak dong?"
"Adopsiiiiii... " jawab saya,"... itu ya coba, soupnya diaduk, ntar pecah..."

Iya, saya selalu berpikir untuk mengadopsi anak.

"Ih. Adopsi?" kening Cecil semakin berkerut,"Nggak pengen punya anak sendiri?"
"Mmm, belum kepikir tuh. Tapi gue pengen punya anak. Jadi cara satu-satunya ya adopsi, secara ya gue hidup di lingkungan yang ribet sama masalah moral, nggak kebayang kalau gue punya anak sendiri, tanpa suami. Gue sih nggak setabah dan secuek itu ngadepin public judgement. Dan itu, coba soupnya diaduk."

.... lagi pula, buat apa sih menuh-menuhin populasi dunia dengan beranak lagi, padahal di dunia ini masih banyak anak yang membutuhkan support secara spiritual, mental dan finansial? --- imbuh saya dalam hati.

"Tapi anak sendiri itu beda tau nggak sih rasanya dengan anak adopsi." sanggah Cecil.
"Ya beda lah, gue juga tau, yang satu dilahirin dari rahim sendiri, dengan rasa sakit karena vagina sobek, yang satu nggak."
"Wis, gila lo." Cecil menggelengkan kepala.
"Itu coba soup..."
"Iya, iya, gue aduk..." potong Cecil.

Lalu hening sesaat, saya pun mulai menyusun seluruh sayur yang telah saya potongi di atas piring saji.

"Ikatannya batinnya kan beda juga, Lex." cetus Cecil tiba-tiba.
"Kata siapa?" saya menoleh.
"Mmm, kata gue barusan..."
"Ngaco lu." saya tersenyum.

Ya, saya tahu bahwa Cecil ngaco. Sangat ngaco. Bagi orangtua yang 'bener' dan bertanggung jawab, nggak ada bedanya ikatan batin antara anak kandung dengan anak angkat, selama memang orangtua terlibat langsung dalam proses tumbuh kembang anak dan menyayangi anak tersebut seperti menyayangi anak dari rahim sendiri.

Darimana saya tahu ini? Karena saya sendiri adalah anak adopsi. Setelah melahirkan Bang Leo, Ibu kerap hamil dan keguguran. Ditambah lagi dengan keanehan yang terjadi ketika menstruasi, saat-saat seperti itu bisa dipastikan darah yang keluar berlebihan, bahkan ada satu saat di mana beliau sampai harus ditransfusi darah. Terakhir, perut ibu membesar, dipikirnya hamil, ternyata setelah diperiksa, beliau didiagnosa terkena Mioma Uteri dan harus menjalani miomektomi, alias pengangkatan Miom.

Dikiranya setelah itu aman, dan ibu bisa hamil dengan tenteram. Tapi ternyata salah, miom tersebut muncul kembali, sehingga diputuskan bahwa Ibu harus operasi angkat rahim.

Padahal ia masih ingin punya anak lagi. To make long story short, maka ibu mengadopsi anak. Saya lah, si Alexa ini, yang menjadi anak beruntung yang diadopsi oleh keluarga bapak dan ibu saya.

Saya diadopsi sejak umur lima bulan dari seorang kerabat di Menado sana.

Saya baru tahu tentang kebenaran ini saat berumur tiga belas tahun, itu pun karena tak sengaja mencuri dengar pembicaraan antara bude-bude dan tante-tante saat reuni keluarga.

Bagaimana perasaan saya? Kacau. Shocked lah jelas. Selama ini, mereka yang saya anggap orangtua kandung, adalah orangtua tiri saya. Man! And I was just only 13 that time. Lagi badung-badung nyebelin sok taunya. :) Meskipun saya tahu bahwa selama ini, tidak ada satu perbuatan pun yang membedakan perlakuan mereka pada saya dan Bang Leo, meski saya tahu bahwa mereka sungguh menyayangi saya, tapi saya sok-sokan ingin ketemu orangtua kandung saya.

Saya sempat tinggal selama setahun bersama orangtua kandung saya. Did i feel happy? No. I didn't... at all. Bukan karena keadaan keluarga kandung saya, tapi karena saya sama sekali nggak punya perasaan apa-apa terhadap mereka. Ikatan batin apaan? Ikatan batin dari Hongkong! Saya merasa tersiksa karena harus hidup jauh dari bapak, ibu dan Abang angkat saya. Karena ini, saya jadi sakit, funny thing, my mom also got sick, dalam waktu yang bersamaan.

Akhirnya saya pulang pada mereka. Saya menyebut mereka : rumah, tempat orang-orang yang memiliki ikatan batin dan saling mengasihi berkumpul. Yeah, saya masih berkirim surat dengan orangtua kandung saya, tapi kalau disuruh memilih, atau menyebutkan, siapa orangtua saya --- saya lebih suka menyebutkan bahwa bapak dan ibu angkat saya, adalah orangtua. :)

Buat saya, ikatan batin itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan apakah anak tersebut adalah anak kandung atau bukan :)

"Selesai." cetus saya setelah menuangkan saus Thousand Island.
"Selesai juga..." seru Cecil sambil mematikan kompor.
"Mmm. Lex, tapi katanya, perkembangan anak itu bakal lebih seimbang kalau orangtuanya lengkap, ada bapak dan ada ibu."
"Mmm, iya ya?" saya tersenyum kecil,"... mungkin gue bisa melibatkan Marco, atau pacar-pacar gue nanti, saat gue sudah settling down, dalam ngerawat anak itu."
"Lu gila..."
"Ah, lagian ini kan baru khayalan guee.. serius amat sih lo." saya pun mengangkat piring saji yang berisi salad ke ruang makan, sementara Cecil menuangkan soup ke dalam mangkuk saji.

Marco dan Chris ternyata sedang membahas kamera DSLR canggih baru milik Chris. Benar-benar pria sejati. :)

"Cowok-cowok! Makan siang! Ntar nggak mau tau, kalian yang nyuci ya, bowww..." cetus saya.
"Aduh, perempuan-perempuan jaman sekarang ya..." balas Chris dengan nada bercanda.

Gambar dari : http://sxc.hu

Minggu, Juni 28, 2009

So Much for Happiness

“Daripada BT ga jelas, ke Bali aja!”

Itu celetukan Alexa dua hari lalu, ketika aku (lagi-lagi) mengeluh tentang betapa penatnya aku menjalani kehidupan *halah* di Jakarta. Well, bukan hidup-nya yang membuatku suntuk.

I’m lucky. I know.
Punya pekerjaan tetap dan kehidupan nyaman, punya tunangan yang sangat mencintaiku, punya orang tua baik hati yang tidak pernah mempermasalahkan bahwa di usia mendekati kepala tiga begini aku masih menumpang hidup dengan mereka dan tidak pernah memberi subsidi bulanan sama sekali (yup, gajiku selalu habis untuk diri sendiri, plus sekarang aku harus menabung untuk biaya pernikahan).

Dari bayi diurusin, sampai sebesar ini, aku sama sekali belum membalas budi orang tua. Duh, Mama, Papa, maaf banget ya. Abis gimana dong…

Meski orang tua Rizky kekeuh ingin menanggung seluruh biaya pernikahan kami, aku tak kalah bersikeras ingin ikut berkontribusi, meski sedikit. Bukannya aku sungkan. Males aja kan, kalau (calon) mertuaku yang sebelas-dua belas sama nenek sihir itu berkicau ke semua orang bahwa pernikahan ini terlaksana karena campur tangan mereka. Aku jadi bulan-bulanan di keluarga besar Rizky? Nggak usah ya.

Gini-gini juga, aku masih punya harga diri.

“Ke sini aja yuk, Ra. Lo boleh tinggal sama gue deh. Sekali-sekali liburan kan nggak ada salahnya. Tiga-empat hari kek, biar muka lo segeran.”

Bali? Yeah right.

I wish.

“Gue lagi nabung buat nikahan gue.”

Sunyi sebentar. Alexa tampaknya sedang berusaha memproses fakta bahwa aku baru saja menolak ajakan-menginap-gratisnya dengan alasan nggak punya uang. Fakir miskin sejati.

“Bukannya mertua lo orang kaya, ya?”

“Calon,” ralatku. Entah kenapa, aku merasa risih setiap kata itu disebut. “Iye, filthy rich, malah. Doesn’t mean I’ll let them pay for everything, though.

"I see.” Alexa tertawa, “punya mertua kaya ternyata nggak menjamin kelangsungan hidup, ya?”

“CALON, Lex.” Aku menghela nafas, mulai sangsi apakah Alexa memang lemot atau sengaja meledekku, “selama janur kuning belum nyantol, mereka belum resmi jadi mertua gue.”

Got it.”

“Dan, nggak. In fact, menurut gue kelangsungan hidup nggak ada hubungannya sama status ekonomi calon mertua. Yang kaya itu mereka. Gue sama Rizky, ya segini-segini aja, kayak yang lo lihat. Setelah married dan punya anak pun gue bakal tetap kerja, kok.”

“Lha? Jadi apa gunanya punya calon mertua tajir melintir?”

“Gak ada gunanya, karena yang gue nikahin anaknya, bukan bokap-nyokapnya,” tegasku, dan sejurus kemudian pikiran nakal –semi jahat sih, sebenarnya—muncul di otakku, “kecuali ya... gue mungkin bisa kaya, kalau warisan dari mereka udah cair.”

Boleh dong, berkhayal? Tentu saja, aku tidak menginginkan calon mertuaku cepat meninggal mengalami sesuatu yang tidak menyenangkan. Hei, biarpun sering dianiaya gini-gini juga, aku sayang kok, sama mereka. :-)

That, or married to one of the Riadis,” usul Alexa si Ratu-Sejuta-Ide-Gila.

“Yang sayangnya, udah nggak mungkin,” kilahku. “Let’s stick to plan no. 1.”

“Lo gila,” Alexa tergeli-geli.

Percakapan itu berlangsung dua hari lalu, ketika aku menelepon Alexa dan berkeluh-kesah tentang betapa sengsaranya hidupku, betapa kejamnya calon mertuaku, betapa tidak menyenangkannya perlakuan yang aku terima, dan betapa suram masa depanku kelak. Yang tentu saja, disambut dengan gelak tawa dan komentar Alexa bahwa aku terlalu tegang menjalani semua ini.

Nikah aja belum, hidup udah serasa di neraka. Gimana kalau udah resmi?

Menikahi seseorang, sama saja dengan mengikatkan diri pada seluruh keluarganya, kalau istilah ‘ikutan kawin sama mertua’ terdengar terlalu kejam. Dan itu akan terjadi dalam hitungan bulan. Think about that. Membayangkannya saja bisa membuatku pusing dan mual.

Oke. Mungkin aku memang berlebihan, tapi aku benar-benar tidak sanggup membayangkan kehidupan yang akan kujalani setelah namaku tercatat sebagai Nyonya Rizky Maulana di Pengadilan Agama. Sekarang aja, bawaannya udah stres melulu. Gimana nanti?

But you will be very happy with Rizky. You love him, don’t you? Lagi-lagi suara kecil dalam hatiku mengingatkan. That should be enough, Kiara.
...

Betul. Aku mencintai Rizky. Sangat, malah.

Dan seharusnya itu cukup, kan, untuk membuatku merasa bahagia menjelang hari pernikahan?

This is what you want, right?
Yes. Yes. Yes.
Tapi kenapa hati ini susah sekali diajak kompromi, sih?

--drrt--drrt—

Getaran ponsel di atas meja membuyarkan lamunanku. Seharian ini HP sengaja kusetel ke modus diam supaya tidak menginterupsi ketenanganku. Siapa tahu, dengan tidak diganggu dering telepon, aku jadi bisa berpikir lebih jernih.

Tapi bergetar. Sama juga bohong.

Aku meraih benda mungil itu, melirik layarnya malas-malasan.

You received 1 message from Wini A.
(By the way, sekadar informasi, tadinya nomor itu kusimpan dengan nama ‘Wini The Poop’ dan aku sedang mempertimbangkan untuk menggantinya dengan ‘Wini The Witch’, ketika mendadak aku sadar bahwa konsekuensi yang bakal kuhadapi seandainya ketahuan Rizky sama sekali tidak sepadan dengan kesenangan jahat ini.)

Ra, sepatu yg kamu pilihin gak cocok buat tante. Terlalu norak modelnya. Kita harus balik ke tokonya, tuker sm yg baru.
Baru saja aku hendak membalas, getaran kedua muncul.

Sekarang Ra, mumpung blm sore.
Menikah dengan Rizky. Menjadi istri (dan ibu) teladan yang disayang suami (dan anak). I could take that.

Menjadi menantu dari Wini Astuti?

--drrt—drrt—-

Ra, SMS tante msk gak? Kok gak dibls? Cepetan ya, keburu sore, macet.
Jempolku menari di atas keypad. Lincah dan terlatih.

Siap, Tan. Sebentar lagi Kiara ke sana ya. :)
Aku menyambar tas dan kunci mobil.

Menjadi menantu dari Wini Astuti bukan sebuah pilihan, melainkan konsekuensi. Yang harus kuterima dan kutelan bulat-bulat seumur hidup demi ‘Maulana’ di belakang namaku. So much for happiness.

But for all I know, it’s worth the cost.

.....

At least, I hope so.

*Gambar dipinjam dari gettyimages.com

--------------------------------------------



Tunggu tanggal terbitnya 'Lajang dan Nikah, Sama Enaknya, Sama Ribetnya!' :)
--------------------------------------------

Sabtu, Juni 13, 2009

Mom, I love you.

Keluarga besar heboh. Kanti, sepupu saya kabur dari rumah... ke Bali, dan lebih detil lagi, ke tempat saya. Baiklah, malesin banget nggak sih menampung yang sedang bermasalah? Bukan, bukan soal saya nggak suka membantu orang yang sedang membutuhkan, tapi itu bikin jadi serba salah saja. Saya nggak tau harus berbuat apa, ih sumpe deh, saya bingungjayaselaras... dotkom. *halah, nggak lucu yak? :D*.

Saya merasa bersalah kalau merahasiakan kedatangannya ke tempat saya, sementara saya tahu bahwa di Jakarta sana, orangtuanya pasti khawatir. Tapi, memberitahukan orangtuanya bahwa ia ada di sini? Kasihan juga si Kanti, siapa tahu ia butuh waktu untuk menyendiri.

"Udah, biarin dulu aja, barang beberapa hari sepupu loe tinggal di tempat lo..." itu usul Marco, si pacar. Hm, iya sih, tapi saya tetap berpikir, harus ada anggota keluarga yang tahu bahwa Kanti aman-aman saja di sini.

(Ehm, walaupun kayaknya nih ya, di mata keluarga besar saya, status keberadaan 'dengan-saya' itu nggak bisa disebut aman juga. Nggak tau kenapa. Emang saya bandel-bandel amat gitu? hihi)

Pikir punya pikir, akhirnya saya memutuskan untuk menelepon Bang Leo, si abang yang selalu rela memakai baju serimbit dengan anak istri saat reuni keluarga (ingat?), soalnya, he knows really well how to tell things to my mom, without giving her panic attack. ;-)

Jadi urusan keluarga, Bang Leo yang atur. Sekarang, tinggal urusanKanti dan membujuknya buat pulang, untuk menghadapi masalah, bukan menghindari seperti ini. Ehm, sekaligus supaya dia pulang aja, sejujurnya saya agak nggak demen kalau ada orang lain --- kecuali Marco, hihi--- di dalam kamar saya, nggak bebas.

"I hate my mom." cetus Kanti. Dan air matanya mulai menggenang.

ARRRGH! Please, jangan nangis! Saya sering mati gaya menghadapi orang menangis! Arggh.

"Kenapa?"
"Kita brantem hebat beberapa hari yang lalu..." air matanya semakin menggenang. Baiklah. Buru-buru saya mengambil box tissue dan menyodorkannya pada Kanti.
"Tukeran nyokap aja yuk, Mbak Alex?"
"Ih ogah!" spontan saya menjawab,"Nyokap situ kan mengerikan...!" Terbayang di benak saya, ibunya Kanti yang otoriter. NGGAK MAU!

Dan saya melihat sedikit senyum terbersit di bibir Kanti. Dan lucunya, air mata yang saya kira bakal segera tumpah, mendadak menghilang,"Mbak Alex, lo tuh kalo ngomong sembarangan banget yah."

Saya terkekeh, sambil menghela napas lega karena dia tidak jadi menangis.

"Ya itu dia. Nyokap lo enak, nyantai. Nyokap gue duuuuh...." imbuhnya.
"Emang kenapa?"
"Gue disuruh nikah...."

Dan saya pun ngakak,"Yah, gitu doang. Gue kira lo brantem karena apa. Lebay ah!" kata saya sambil mengibaskan tangan begitu tawa saya usai.

"Nggak, Mbak, gue nggak lebay. Ini masalah pelik buat gue. Gue dipaksa nikah. Karena umur gue tahun depan 29. Gue harus, catet nih ya Mbak, harus menikah paling lambat di umur 30. " Kanti berkata dengan gusar.
"Gile, ada deadlinenya yak? Kayak gawean aja. Terus, lo bilang apa?"
"Gue bilang, emang belum ada yang cocok, yang nyambung, masak mau dipaksain?"
"Dan, reaksi nyokap lo?"
"Kata nyokap gue? Gue nggak boleh terlalu pemilih, karena gue juga nggak sempurna, bla...bla..bla. Dan ini yang parah! Gue nggak perlu cinta-cintaan sama pasangan gue, ntar cinta bakal tumbuh belakangan! Ya ampuun, Mbak Alex, ngeri banget nggak sih? Kalo beneran cinta tumbuh belakangan ya oke-lah. Tapi kalo ternyata dari yang tadinya sama sekali nggak ada feeling terus malah jadi ilfeel kan ngeri. Gue seumur hidup harus bareng dengan orang yang bahkan untuk ngeliat pun males!"

Saya tercenung lama. Selama ini saya berpikir bahwa karena zaman sudah berubah, bukan zamannya kuda gigit besi lagi, sikap semua orangtua pasti sama dengan sikap orangtua saya yang super nyantai soal pasangan hidup pasangan anaknya. Tapi ternyata masih ada juga orangtua yang begitu terinspirasi oleh kisah Siti Nurbaya. Ampun.

"Nyokap lo.... serem amat sih?" saya berkata perlahan.
"EMANG!" ia menyahut dengan semangat,"Dan pertengkaran karena ini bukan baru sekarang doang... tapi sudah lama. DAN GUE MUAK!"

....

Seminggu kemudian.
Setelah melalui kesepakatan yang dibuat oleh Bang Leo dan si Mamah dengan Ibu-nya Kanti; dan setelah melalui proses panjang membujuk Kanti yang saya dan Marco lakukan, akhirnya, pagi tadi Kanti pulang, naik pesawat paling pagi.

Malamnya, si Mamah nelepon. Katanya barusan ada pertemuan keluarga di rumah, untuk merekonsiliasi antara Kanti dan ibunya. Deu.

"Udah damai?" tanya saya tanpa basa-basi.
"Keliatannya sih udah. Tadi waktu pertemuan keluarga mereka saling terbuka dan saling nangis-nangisan gitu deh."
"Kayak sinetron..." celetuk saya.
"Emmang. Tapi baguslah hasilnya begitu, walaupun mamah nggak tau, sekarang mereka gimana di rumahnya. Itu sih bukan urusan kita lagi, yah?"
"Iya."
"Padahal tadinya Mamah pikir bakal terjadi peperangan lagi begitu Kanti sampe Jakarta. Soalnya Tante Vie tuh emosinya tinggi banget dari semalam. Kudu ditenangin sama Mamah, papah dan bang Leo."
"Terus bisa tenang karena apa?" tanya saya penasaran.
"Yah, mamah bilang aja ke dia 'Emangnya kamu Tuhan, mau ngatur-ngatur kehidupan anakmu?'"
"Serius mamah bilang gitu?"
"Iya, jodoh orang kan di tangan Tuhan, nggak akan ada yang bisa maksain. Lah siapa dia, maksa-maksain anaknya untuk menikah, padahal ya emang belum aja."

Saya terdiam. Lama. Apa ini juga yang menyebabkan si mamah, sama sekali tidak pernah ngomongin masalah menikah ya?

"Halo?" suara Mamah di seberang sana mengejutkan saya,"Kamu masih di sana?"
"Eh, i-iya Mah.?"
"Masih mau denger gosipnya nggak?"
"Iya, mau." saya menyeringai.
"Iya, terus Mamah bilang, memangnya menikah itu penyelesaian masalah? Lah, menikah kan sama saja bersiap berperang menghadapi masalah baru. Untuk itu, kesiapan diri dan pasangan kudu gila-gilaan. Pasti bakal ribet, kalau menikah cuma karena deadline umur thok....."

Dan si mamah pun terus menyerocos, menceritakan tentang kisah tante Vie.

"....akhirnya mamah bilang, bahwa anak kita itu bukan miliki kita, kita cuma kebetulan aja dititipin untuk ngerawat dan membesarkannya dengan baik. Anak kita itu adalah individu tersendiri, yang punya jalan hidup sendiri, kita nggak punya hak penuh pada kehidupan anak kita, yang bisa kita lakukan hanyalah ngasih tau dan ngedoain yang terbaik. Itu saja."

Sekarang, yang ada dalam pikiran saya adalah, betapa beruntungnya saya memiliki ibu seperti beliau; yang bukan soal jodoh saja membebaskan saya, tapi soal segala hal.

Yes, mom. I love you.

sumber gambar : sxc.hu
Blog Widget by LinkWithin