Tampilkan postingan dengan label Si Menikah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Si Menikah. Tampilkan semua postingan

Kamis, April 12, 2012

Di-i VS Me-i

icha rahmanti ( @cintapuccino)

sumber : gettyimages.com
Beberapa waktu yang lalu saya sempat nge-twit begini: “Dicintai vs mencintai. Saat gak bisa saling, pilih yg mana?” 

Ya, saat saling tidak bersanding dengan cinta sehingga kadarnya nggak seimbang, pilihannya hanya pada dua pasangan imbuhan-akhiran ini: di-i vs me-i

Kebanyakan perempuan memilih di-i  karena kata mereka:  @deedinadee "Meskipun sensasinya lebih 'dapet' yg mencintai. Milih dicintai *inget cinta matinya Rahmi ke Nimo*”, lalu Neng @dhilaibtida pun memilih dicintai karena, “Mencintai kalau ga saling, cuma bikin capek” dan @anovita "Teh,milih dicintai, setelah itu biasanya bisa belajar 'mencintai'. Jenis cinta karena terbiasa tea geuning jenisnya”.
Ada seorang perempuan yang punya opini berbeda dari kebanyakan mojang yang memilih dicintai saja walau masih sambil berharap bisa dapat pasangan dengan kadar cinta yang saling. Kata @sihesty ,"effort besar menunjukkan bahwa mencintai ditujukan bukan ke sembarang orang. Memang nggak selalu mencintai dibalas dgn dicintai, seringnya malah dilewatkan begitu saja, tapi banyak orang yang belajar member setelah menerima,” argumennya.

Sementara itu, di sisi kaum bujang, kebanyakan ingin mencintai. Kata 
@oenank “Mencintai, soalnya kalo dicintai doank suka serasa punya utang”. Nah tapi seperti tembang dangdut A.Rafik – Tidak Semua Laki-laki.... *sambil nyanyi hehehe*  ada juga cowok yang berkomentar sebaliknya. @rezaFRoDiSCo “Dicintai dong, kalo mencintai banyakan sakitnya”.

So it’s safe to say that the choice, even one sex in general prefer being loved compare to majority of the opposite sex, generally it’s just us: human being in  battlefield of mighty love.

Tetapi baru-baru ini saya sempat ngobrol-ngobrol dengan seorang psikolog perempuan yang usianya jauh di atas saya. Ibu Psikolog ini bercerita teori menarik versinya. Katanya, untuk urusan mencari jodoh alias pasangan (yang niatnya) akan sehidup semati dalam pernikahan, sebaiknya perempuan kalau tidak bisa mendapatkan cinta yang seimbang, memilih laki-laki yang paling menggilainya *putar Shanty – Menggilaimu J *, yang paling mengejarnya sehingga sang perempuan berada di posisi dicintai. 

Kenapa?

Karena semodern apapun, menurut beliau perempuan punya dorongan domestik, ada tali rahim sebagai pengikat dengan rumah dan anak sehingga lagi-lagi, semodern dan sesibuk apapun karirnya di  luar, ikatan ini akan tetap membawanya pulang.

Sementara lelaki, tidak punya ikatan ini sehingga bisa “bebas” semau-maunya. Usaha, pengorbanan saat mengejar sang calon istri dululah yang akan membawanya selalu kembali ke rumah. Tanpa itu, akan terlalu mudah bagi laki-laki untuk cabut begitu saja ketika kehidupan pernikahan mengambil yang terbaik dari sayang diantara pasangan.  Akan terlalu mudah juga buat laki-laki untuk menyepelekan istri yang ibaratnya didapatnya dengan “mudah”. 

Kata Ibu Psikolog ini,  ada suatu kualitas yang “laki banget” untuk mempertahankan kepunyaan/ properti, dan ini akan berbanding lurus dengan tingkat kesulitan. Makin sulit makin dipertahankan. 

Tapi setelah selesai mengobrol dengan beliau, saya tiba-tiba terpikir sesuatu. Hati perempuan itu adalah kunci dari segalanya. Dalamnya bisa mengalahkan palung terdalam sekalipun dan dengan lika-liku yang rumitnya seperti birokrasi di negara kita –diperlukan trik khusus untuk bisa menanganinya.  Dan perempuan, biasanya, punya hati hanya untuk satu nama, seumur hidup.

 Jadi, terpikir oleh saya, akankah berada di posisi mencintai membuat perempuan mengeluarkan kualitas tabah cenderung bodoh dalam menjalani segala macam prahara rumah tangga termasuk pasangan yang menyepelekannya atau hal-hal lainnya? Kabarnya, jangan pernah meremehkan kekuatan perempuan yang mencinta, betulkah?

Ceritakan opini atau pengalaman kamu ya, Lajang-ers / Menikah-ers!


Selasa, Maret 06, 2012

40 Days 40 Nights… ( I Wanna Sex You Up!)

[Icha Rahmanti/@cintapuccino]

Saya tiba-tiba teringat sebuah bacaan yang sayangnya tidak bisa saya ingat sumbernya. Asli lupa. Entah itu berupa situs online atau majalah atau buku. Tetapi sekalipun lupa sumbernya, saya ingat inti tulisan itu saking berkesannya.

Mirip kisah di film 40 Days and 40 Nights-nya Josh Hartnett yang bertekad abstain, puasa seks selama 40 hari, ada sepasang suami istri (lagi-lagi saya lupa di mana mereka berdomisili, sepertinya sih di Amrik), mereka juga melakukan tantangan 40 malam itu. Bedanya, mereka justru melakukan kebalikan dari kisah si Josh itu, mereka justru menantang diri mereka, sebagai pasangan, untuk non-stop melakukan hubungan seks selama 40 malam berturut-turut.

Nah, ini yang membuat cerita mereka jadi menarik. Adik-adik dan teman-teman manis yang belum menikah, andai belum tahu, setelah janji sehidup semati terucap dan seks menjadi legal bahkan kemudian jadi rutinitas prioritas demi kelanggengan dan kebahagian bahtera—newsflash!—setelah masa bulan madu berlalu, kebanyakan (bukan semua), hasrat bermesraan sama pasangan pun turun. Drastis. Eng ing eng…

It’s human nature to want something more when it’s forbidden.

Dulu, waktu pacaran, duduk bersebelahan, menatap matanya, baca sms-nya, atau cuma pegangan tangan saja sudah bikin jantung berdebar gak karuan dan ciuman di pipi tuh bisa bikin terbang ke bulan. Nah, giliran sudah sah dan wajib… hasrat lama-lama surut. Apalagi kalau kehidupan (anak, pekerjaan, dll) mulai mengambil alih pikiran. Seks bukan lagi menjadi prioritas dan percayalah ketimbang seks, tidur dan selimut terlihat jauh lebih menggoda sehingga banyak pasangan akhirnya memilih kenyamanan tidur dalam pelukan tanpa harus “berolahraga”. Nggak ada tenaga bow… :D

Konon berangkat dari kondisi itulah pasangan suami-istri dalam cerita saya itu memutuskan untuk menantang diri mereka sendiri untuk melakukan hubungan seks selama 40 hari berturut-turut, tanpa alasan, tanpa cincong. Nggak mau tahu capek, nggak mau tahu lagi berantem, nggak mau tahu yang satu lagi flu… pokoknya tujuan mereka: harus bermesraan total setiap malam selama 40 hari. Tidak ada alasan!

Latarnya mereka merasa setelah memiliki anak 2 yang masih kecil-kecil, mereka merasa kehidupan seks mereka jauh dari memuaskan dan itu membuat mereka jauh. No more excitement in their lovemaking.

Membaca cerita mereka, sedikit banyak saya bisa merasakan apa yang dimaksud. Dari sisi istri dan ibu, tinggal di negeri orang tanpa pembantu, mengurus anak yang masih sangat kecil itu sangat menguras emosi (terutama) dan tenaga dan akhirnya bawaannya selalu capek. Seks adalah hal terakhir yang terpikir di kepala—terkecuali saat-saat PMS, hormon sedang tinggi—itu pun kalau PMS tidak mencetus judes yang membuahkan perang dingin hehehe… Sementara dari kacamata suami, kerja kantoran pun tampaknya menguras pikiran dan setelah di rumah dan makan malam,selonjoran di depan tivi sambil peluk-peluk saja hingga ketiduran adalah yang ideal ketimbang lutut pegel.

Walau frekuensi bisa tetap sama seperti saat baru menikah—saat baru-baru bereksplorasi total—tetapi kalau mau jujur memang gregetnya tidak sama lagi hihihi. Familiarity slowly kills the thrill.

Nah, pasangan suami-istri itu bercerita bahwa bagi mereka 40 hari non-stop harus berhubungan itu pada awalnya baik bagi si suami atau si istri sama-sama merasa berat (bo! Ini komitmen untuk merasakan surga dunia loh, bukan disuruh macul , tapi teteup dua-duanya pesimis!!!). Tapi hebatnya karena keras kepala pada komitmen akhirnya mereka berhasil menyelesaikan 40 hari sex-marathon itu.

Apa yang didapat?

Konon mereka menyimpan jurnal eksperimen mereka per harinya. Ada kalanya katanya salah satu dari mereka berlagak pening dan pura-pura tidur saking nggak nafsunya, ada kalanya mereka berdua sama-sama ingin segera tidur sebelum besok anak-anak mereka bangun dan segala kesibukan mengurus 2 balita terulang lagi, terus ada kalanya mereka juga berantem dan bete-betean satu sama lain karena urusan rumah tangga dan sebagainya.

Tapi kata mereka, hikmah dari komitmen itu, mereka jadi lebih menghargai kehadiran pasangan mereka, merasa lebih dekat secara emosional, terkoneksi lagi. Seks saat marah dan sedih konon kata mereka walau tidak mudah tetapi menjadi satu pengalaman baru yang secara emosional mencengangkan (suer, gak terbayang seperti apa karena—fyi—saat berantem suamistri kadang dongkolnya jadi pangkat sejuta! *lempar piring* :D). Lalu komitmen 40 hari ini juga membuat mereka jadi lebih kreatif untuk menyiasati waktu berduaan diantara kewajiban mengasuh 2 anak balita mereka, tertantang juga untuk kreatif memancing hasrat dan memuaskan pasangan dengan cara baru, jadi lebih mengurus diri mereka sendiri agar menarik di depan pasangan. Dan pada akhirnya mereka jadi lebih kompak dan ibarat baru sama-sama ikutan boot camp, mereka adalah pasangan baru yang lebih kuat.

This sexual experiment has transformed us as a couple both spiritually and sexually. And it’s great,”gitu kalau nggak salah ingat saya membaca komentar pasutri itu.

Jujur, saya pribadi terkesan dengan cerita mereka dan jadi penasaran sendiri ingin mengalami transformasi hubungan dan perjalanan seksual dan spiritual yang mereka alami. Ibarat baru membaca sebuah review perjalanan, saya ingin melakukannya, tapi versi saya sendiri. Dan kisah ini pun saya bagi ke suami. Gimana dan bagaimana kelanjutannya ya rahasia dong.

Anyway, any pasutri out there up for this challenge? ^_*

Gambar : www.thegloss.com


Selasa, Juli 26, 2011

Super MOM





Menikah itu menyita waktu. Juga pikiran, juga hati dan segala macem yang kamu punya sebagai seorang perempuan. Apalagi untuk perempuan menikah yang sambil bekerja, ketambahan lagi tipe perempuan yang masih cukup dekat dengan keluarga besar setelah menikah. Baik keluarga sendiri maupun keluarga suami.

Ketambahan lagi kalau anak yang tadinya cuma nganggur2 di rumah karena masih di bawah umur sekolah, tau-tau udah gede dan mulai sekolah. Ketambahan lagi dengan hal lain lain dan lain.

Sebagai perempuan bekerja, pasti kan kepengen sesekali diem di rumah, leyeh-leyeh tanpa harus ngerjain apa-apa. Sebagai ibu dari anak yang lagi aktif-aktifnya, pas anak libur sekolah, biar cuma sehari pasti kepengen bawa anaknya jalan-jalan, main sana sini walaupun cuma di dalam kota doang. Sebagai istri, ada juga kepengen menikmati waktu berdua sama suami, biar kata cuma duduk sebelahan, dia nonton TV dan kita baca buku.

Nah ga cuma 3 peran itu kan yang kita punya. Sebagai menantu, kadang-kadang kepengen bikin mertuanya seneng. Sebagai seorang anak yang (katanya) sudah lebih mapan dan mandiri dibanding adik-adiknya yang masih single, pastinya kepengen juga bikin happy mama-papanya. Percayalah saya bisa terus merepet dengan berbagai "sebagai" yang lain.

Ini contohnya, hari minggu kemarin anak libur sekolah, maka mama dengan senang hati menyusun rencana main-main bersama anak tercinta. Taunya si sela-sela beresin bawaan si upik yang cuma ke Lembang aja bawaannya segudang, neneknya telepon minta diater. Di sisi lain, nenek yang satu lagi udah siap-siap mau diajak main bersama cucu.

Mama bimbang dong ya, tapi kemudian sebagai bunda gesit nan cerdas, tujuan main belok ke area yang dekat-dekat saja, di dalam kota supaya main bisa tetep anter nenek, dan ajak main nenek yang satu. Rencana tinggal rencana karena si nenek 1 ternyata nggak cukup puas dianter ke satu tempat, malah melelbar jadi 3 tempat. Sementara nenek 2 karena nggak mau ikut pergi-pergi anter nenek 1 maka harus di-drop dulu di satu tempay yang walaupun nggak jauh tapi tetep menyita waktu.

Di ujung hari, tugas antar mengantar selesai, mama kemudian bersemangat ngajak anak main di playground mall saja (karena sudah malam), tapi kemudian mendapati si anak kesayangan tidur terkulai di kursi mobil bagian depan. Maka hari minggu pun berakhir sudah, tinggal hari senin menunggu dilewati dengan segudang kesibukan seperti hari-hari kerja lainya.

Begitu itu maksud saya. Kalau kamu bilang "dahulukan keluarga inti, jangan mikirin dulu orang lain", maka cobalah ada di posisi saya dengan keinginan ingin menyenangkan semua orang. Ya itu tadi, menikah itu mau nggak mau ada banyak pihak ada banyak orang yang harus dipikirin. Sayangnya energinya sedikit, waktunya sedikit dan kemampuannya terbatas.

Ada sedikit (entah apa namanya) hasrat untuk bisa membuat orang lain senang dengan apa yang bisa saya lakukan. Sayangnya, ya itu tadi, waktunya sedikit energinya terbatas. Dan saya belum bilang soal kerjaan ibu yang lain ya, yang harus beres-beres rumah lho, bisa gila kalo dengan kerjaa dan kegiatan segunung ini masih harus juga beres-beres :)

Ini ga usah pake ngomong doing self thing kayak baca buku tenang, DVD Marathon dan duduk ngak ngapa-ngapain ya, buat itu sih energi dan kemampuannya ada tapi apa daya waktunya nol.

note : gambar diatas pinjeman dari caffeinatedautismmom.blogspot.com

Selasa, Mei 24, 2011

Yang Lajangers Ingin Tahu Tentang Menikah Pt.1

Cerita Kiriman dari Icha Rahmanti

Berawal dari keisengan pada suatu sore, saya mengajukan semacam survey kecil via Twitter dengan pertanyaan: Apa sih yang paling ingin diketahui oleh para lajang mengenai dunia pernikahan atau kehidupan berumah tangga? Berikut ini hasil copy-paste nya dan jawaban asal kala itu (terbatas oleh 140 karakter dan semaksimal mungkin menghindari Twitlonger) dan pemaparannya dengan semangat berusaha lebih serius kali ini. Semoga bermanfaat. Terutama untuk lajang-ers yang ingin tahu bagaimana sih rasanya ada di sisi sebelah situ…

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @paxxx: Bagaimana mengatasi rasa bosan(apabila timbul) Kak Icha? >> Pick a fight, throw some plates.

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @adixxxf: Ga bosen tiap hari mukanya itu aja yg diliat?>>Pasti bosen. Alami kok. Untung ada BB :p.

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @disxxx: how to avoid boredom?>> Pick a fight/make love/watch smallville more me-time/ get a puppy

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @pakxxxxx: Bgm atasi tersedak krn perasaan terjebak seumur hidup kak Icha?>>ikut kelas terjun payung.

Mengenai Bosan dan Terjebak
Rupanya, topik ini jadi top of mind para lajang-ers mengenai kehidupan pernikahan. Seperti jawaban di atas, bosan pasti akan terjadi dan sangat alami serta natural. Bayangkan, sepanjang sisa umur kita, menghabiskan pagi dengan bangun melihat muka yang sama, malam pun tidur dengan muka yang sama, orang yang itu-itu juga. Merasa terjebak hingga terasa pengap? Natural juga. Tapi justru jangan ditakuti, kalau ditakuti ya alamat takut nikah terus deh. Terima dan jalani sebagai satu paket dari “menikah”, bisa membantu melewatinya dengan ikhlas. Bagaimana mengatasi kebosanan? Ya lakukan saja hal-hal yang membuat kita senang; main twitter, nonton dvd, baca buku, dan lain-lain. Cukup punya waktu untuk diri sendiri. Tips ini, sejauh ini berhasil untuk saya. It might not take away the boredom but it helps you to be happy. And happy people tend to see the glass half full.

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @emoxxxt: gmn melewati cobaan2 yg pasti ga gampang&bertahan utk terus bkomitmen >> makan sepiring b2

@emotiPont: cara lewati cobaan2 yg ga gampang&gmn bertahan utk terus berkomitmen >sholat&doa, #jawabanserius. Klise tp insha لله manjur.

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @re2_rexxx: Apa yg bikin awet? 'Cinta'/ 'Terbiasa'?/'Rasa Nyaman'?>>Beda2.Tp kebanyakan BUKAN cinta.

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @dinoxxxxa: how they tolerate small annoying things?>> U don't tolerate. U suck it up,period.
Mengenai Komitmen dan Bertahan
Everybody I know is getting divorce. And believe me, the temptation to just get out was calling, and the thinking, “if everybody’s doing it, why don’t I?”is haunting you. They look so much fun after getting divorce. Jaman sekarang cerai menjadi sangat jamak dan lumrah. Berbeda sekali dengan jaman orang tua kita yang cerai adalah aib sehingga cap dari keluarga “berantakan” bisa cukup membuat si anak mengalami depresi di sekolah. So why suck it up?
Karena sesungguhnya menikah memang bukan untuk seru-seruan. Saya dan sahabat lajang saya, yang kerap saya curhati, menyebut menikah “The Impossible Dream”—terinspirasi dari lagunya Luther Vandross, karena penggambaran akurat mengenai pernikahan itu ibarat liriknya, “to march into hell for the heavenly cost…”

Tapi sebagaimana ada ‘possible’ dalam ‘impossible’, ada harapan agar komitmen tetap terjaga. Kacamatanya harus ibadah, karena kalau tidak, sulit sekali menalarnya. Jadi sekalipun klise, berdasarkan pengalaman, doa dan sholatlah (karena saya muslim) akhirnya yang meredakan pikiran-pikiran menuju kata “exit”. Dan percayalah, saat menulis ini, perjuangan belum selesai, Jendral… Karena pernikahan adalah perjuangan panjang hingga ajal menjemput atau akhirnya memang ketok palu pengadilan agama/ pembatalan pernikahan yang jadi akhir ceritanya.

Karenanya dari mengamati, menurut saya yang pada akhirnya membuat pernikahan langgeng seringnya bukan cinta. Kalaupun cinta, biasanya lebih karena cinta pada status, cinta pada anak-anak, cinta pada harta (tajir bow), dll. Bilang saya pesimis, tapi cinta yang a la Desmond and Molly di lagu Obladi Oblada… hanya sedikit yang beruntung di jaman sekarang memiliki cinta seperti itu.

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @tya139: R they happy w/ their wedding?>>Klo bukan kawin paksa, weddingnya happy. Marriagenya blm tentu.

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @anovita: Pas 'akhirnya menikah'.Rasanya gimana?>Seneng dong. Kan bukan kawin paksa. Euforia malah.


Tentang Bahagia
Ya, selama bukan kawin paksa ala Siti Nurbaya, rasanya kebanyakan pasangan menikah dengan keadaan bahagia di hari pernikahannya (wedding). Bahagiakah pernikahannya (marriage)? Belum tentu. Karena waktu dan kata menikah seperti punya kekuatan besar menggerus cinta jadi benci akut, gairah jadi basi, sopan jadi asal dalam sebuah pernikahan. Melihat bahagia atau tidak juga tergantung dari definisi bahagia orang itu. Kita bisa saja bilang, “gila ya bo, si Z, sekarang bini-nya Hitler banget, lehernya udah disetir bininya.”Bahagiakah si Z? Dari kacamata kita tampak sengsara. Tapi tahukan kita kalau si A senang didominasi dan diperlakukan seperti itu adalah kebutuhannya?

Bilang saya pesimis, tapi bahagianya menikah adalah justru tentang “growing pains” dan “growing old” (karenanya lagu Grow Old with You, jadi pilihan saya dan suami saat resepsi pernikahan kami). We don’t believe in those kind of happiness with happily ever after. Mostly and, or occasionally happy is good for us. The rest is life.
Segini dulu ya. Masih panjang sih pertanyaannya. Tapi nanti malah bikin jiper yang tanggal pernikahan sudah diambang pintu hahaha… lain kali disambung lagi ya.

Xoxo,
Icha Rahmanti / Follow me on twitter @cintapuccino ya kakaaa, thx. #ajimumpung


Sumber gambar : dreamstime.com

Sabtu, April 30, 2011

A Flaw in Our Marriage




Diantara segunung keluhan menjadi seorang istri, ada satu keluhan yang akan selalu ada, yaitu cacat-cacat suami yang sebetulnya nggak fatal tapi sumpah gengges. Bukan hal yang prinsip sehingga rasanya nggak pantas diributin, tapi tetep aja bikin ganjelan dan sering bikin emosi terutama menjelang PMS, atau saat hati lagi ga enak, juga ketika menjelang akhir bulan :D.

Untuk saya, salah satunya perihal bau rokok. Dulu ya waktu belum punya pacar, saya selalu naksir cowok-cowok perokok. Kayaknya keren gitu ya, macho berat dan nampak seperti dewasa sekali. Ah pokoknya naksir deh. Setelah pacaran mencium bau jacketnya yang ada bau rokok pun rasanya seneng banget, bahkan mau tidur dengan pinjem jacketnya supaya baunya kecium terus. Bau rokok? iya bau rokok.

Setelah menikah, mulai deh saya terganggu berat dengan bau rokoknya. Bukan cuma bau rokoknya itu lho, tapi kebiasaaan merokoknya yang kelihatannya nggak bisa sama sekali ditinggalin dan nggak bisa sama sekali absen. Jadi setiap pergi, harus cari tempat yang ada smoking areanya, nggak bisa nggak.

Nah belakangan ini ya, kan pemerintah daerah mulai ikut bawel, dimana tempat yang boleh merokok, dimana yang enggak boleh. Kalo di Bandung masih agak longgar deh, masih bisa ngerokok di jalan dan di restoran atau food court asal nggak ada tulisan "no smoking" secara jelas. Tapi kalo di Jakarta, wah lebih bawel lagi si Pemda, which is good for us yang bukan perokok atau yang bawa anak kecil.

Jadi, setiap pergi sama suami, kita harus ekstra cari tempat yang bisa merokok. Atau kalo nggak, dia bakal bela-belain keluar hanya untuk merokok. Buat kita yang bukan perokok ya memang kesannya "hanya untuk merokok" tapi buat mereka ini penting banget ga bisa diganggu gugat. Sekali dua kali memang suka ganggu, misalnya waktu harus gantian pegang anak. Atau lagi buru-buru mau jalan taunya dia harus berenti sebentar untuk merokok.

Saya sempat membatasi area merokok suami. Di ruang depan boleh, di halaman apalagi, tapi di sofa keluarga terutama di kamar, sama sekali nggak boleh merokok. Tapi yang namanya asap rokok itu kan baunya nempel ya. Alhasil gorden dan sofa saya pun bau-bau rokok.

Ya perihal rokok ini emang cuma salahs atu contoh aja sih. Yang mau dibahas tadi kan perihal cacat atau flaw suami yang ketika belum menikah masih lucu-lucu, tapi pas menikah malah ganggu.

Kita juga tanpa disadari begitu kali ya. Selama pacaran mana sih berani kentut depan pacar, wah dijaga sejaim-jaimnya deh. Kalo perlu minggat dulu sebentar abis kentut balik lagi. Tapi begitu jadi istri, ya nggak begitu lagi. Katanya apa adanya, yang sebenernya malah mungkin (sedikit) nggak menghargai pasangan.

Hal lain lagi, perihal fisik. Dulu mau ketemu pacar dandan setengah mati, kalo bisa jangan sampe keliatan kucelnya. Pas jadi istri, cuek-cuek aja, nggak dandan, nggak ngurus badan, yang diurusin cuma anak sama rumah aja.

Tuh, menikah itu nggak mudah. Masalah yang ada bukan cuma masalah besar seperti ada orang ketiga, atau masalah finansial. Ini ada juga serentetan masalah kecil yang kalo dibiarin bisa jadi duri, tapi kalau dipermasalahin kadang bikin malu.

Kamu sudah menikah? Apa cacat kecil di pernikahanmu? Sama seperti saya?

note : gambarnya dari http://istockphoto.com ya :)

Jumat, Februari 11, 2011

ASI tidak ASI, Anak Saya Bukan Anak Sapi, dong.




Sore itu sepulang kerja saya janjian sama 2 teman manis saya, Sandra dan Karin. Janjian ketemu dengan teman lama biasanya menyenangkan, kenal mereka dari jaman sekolah sampe sekarang kami semua sudah beranak pinak. Pertemuan ini bisa dibilang rutin, walau tanpa dipatok jadwal. Rutin karena kangen. Jadi kalau salah satu dari kami kangen, biasanya sms-sms dan langsung janjian. Seperti hari ini.

Saya tiba di tempat janjian duluan. Bagus. Karena saya jadi punya waktu untuk sedikit browsing-browsing dan bales2 email kerjaan, oh dan Twitteran tentu. Sambil minum saya menyimak twitter dengan cukup intens. Rupanya sore itu sedang ada semacam twit-war atau berperang pendapat via twitter. Temanya bukan masalah politik, bukan pula masalah ekonomi apalagi masalah perpajakan yang sedang heboh dibicarakan itu. Temanya soal susu. Susu buat anak tepatnya. Saya membuka beberapa timeline dari akun-akun yang kelihatannya terlibat pembicaraan panas itu. Ternyata perdebatan itu dimulai dengan seorang ibu yang twit foto sapi dengan tulisan "Anakmu Bukan Anak Sapi". Beberapa ibu yang berpendapat serupa kemudian me-RT foto itu dengan tambahan kata2 serupa "ASI is the best" "ASI, pertanda ibu berkomitmen" "Anak Ibu, Bukan Anak Sapi" dan beberapa komentar lain yang menurut saya lumayan menyebalkan.

Mari melipir sebentar supaya saya bisa cerita bahwa saya juga memilih untuk tidak memberikan ASI ekslusif pada anak saya satu-satunya itu. Alasannya ada beberapa. Pertama, karena anak saya lahir dengan berat badan yang lumayan besar, hampir 4 kg. Jadi kebutuhan susunya banyak sekali, sementara ASI saya waktu itu tidak mencukupi. Selain itu, menurut pengetahuan yang saya dapat dari dokter anak, susu formula itu membutuhkan waktu yang lebih lama untuk dicerna sang bayi. Jadi sebelum tidur malam, saya kasih dia susu formula supaya tidak cepat lapar dan tidak bangun-bangun di malam hari. Alasan lainnya adalah saya memang tidak sabaran. Berbagai faktor seperti udara panas, tidak nyaman dengan orang yang bolak balik dll membuat saya tidak merasa nyaman menyusui bayi saya. Saya beruntung karena suami saya juga tidak menuntut supaya saya memberikan ASI eksklusif. Daripada ngasih ASI tapi ngedumel?

Dari perihal susu-menyusui, perdebatan sengit di twitter itu rupanya melebar pula ke spal metode melahirkan. Entah siapa memulai dengan opini bahwa melahirkan dengan sectio caesar itu artinya tidak merasakan kodrat wanita sepenuhnya. Ahem. Gue lagi dah yang kena. Saya memang memilih melahirkan caesar waktu itu. Pertimbangan pertama, karena anak saya diprediksi cukup besar untuk ukuran anak pertama, dan saya juga rasanya tidak menyanggupi bila harus tiba-tiba mules dan terburu-buru pergi ke rumah sakit. Minus mata saya juga cukup besar, meskipun dokter kandungan saya sudah meyakinkan bahwa itu bukan masalah. Dokter kandungan, setahu saya memang sebaiknya tidak menyarankan si ibu untuk melahirkan caesar kecuali karena masalah medis yang tidak lagi bisa dihindari. Maka keputusan caesar datang dari saya (dan suami), dan dokter hanya mengiyakan saja lalu kami membuat jadwal. Begitulah, saya melahirkan tanpa merasa mules. Saya memang tidak bertemu bayi saya ketika dia berlumuran darah dan belum mandi. Dan saya tidak mengalami yang namanya inisiasi dini karena waktu itu saya dibius total. Tapi saat sadar dan bayi saya diantarkan (iya, sudah mandi dan bersih dan sudah berbaju), percayalah bunda, perasaan seorang ibu yang saya punya, tidak kalah dengan perasaan yang bunda sekalian rasakan.

Pilihan saya ini boleh disetujui, diterima, atau bahkan dianggap nggak beres. Silakan saja. Tapi jangan bilang saya tidak sayang anak ya :)

Eh udah dulu, teman-teman saya udah datang. Saya kongkow dulu ya ;)

note : gambarnya pinjem dari sini , thanks !

Jumat, Oktober 15, 2010

Salah Satunya Salah Kostum





Menjadi pasangan suami istri memang ga selamanya harus punya cara pikir yang sama. Contohnya saya dan suami. Entah karena perbedaan umur yang cukup jauh (13 taun), entah karena memang gaya berpikir yang sama sekali lain, saya dan suami banyak memandang hal yang sama dari sisi yang berbeda. Terjebak dalam perbedaan pendapat, ya udah biasa. Untungnya nggak sampe berantem, tapi dia justru sering mentertawakan cara berpikir saya yang berbeda 180 derajat dengannya. Demikian juga kebalikannya, saya sering dengan mata terbelalak memandang dia dan berpikir betapa aneh cara berpikirnya dia. Dan kemudian berujung berpikir, ini gimana orang yang sedemikian lainnya dari saya, kok bisa jadi pasangan hidup?

Perbedaan cara berpikir saya dan suami nggak cuma dalam hal yang serius. Cuma perihal kostum aja kita bisa beda banget. Ini contohnya :

Dia : hari ini ada acara reuni, ikut ya
Saya : OK, dress code nya apa ?
Dia : Santai aja kok
BUM !

Saya kemudian muncul dengan celana pendek plus kaos dengan sepatu keds, dia muncul juga dengan sepatu keds, tapi dengan celana panjang jeans dan kemeja tangan panjang yang digulung tangannya. Baiklah. Santai buat saya adalah celana pendek dan kaos, sementara standar santainya dia adalah kemeja panjang dengan lengan digulung. Untung serumah, yang begini-gini bisa diperbaiki seketika.

Kali lain perihal yang lebih serius. Seorang teman kami 'terpaksa' menikahi pacarnya, karena si pacar hamil. Kemudian, pendek kata, setelah melahirkan, si teman tahu bahwa anak yang dikandungnya ternyata bukan anaknya. Posisi yang sulit, saya bahkan tidak berani memberi ide dan pandangan apa-apa ketika si teman bercerita. Tapi saya kemudian mendukung ketika dia akhirnya memutuskan untuk menceraikan istri yang baru dinikahinya selama 7 bulan itu. Kelar urusan cerai, suami saya mengerutkan kening pertanda punya pendapat lain. Menurutnya, kendati itu bukan anak darah dagingnya, dia tetap harus menikahi si pacar. Alasannya karena, toh hamil nggak hamil, dia pernah meniduri perempuan itu. Oh man, inilah saat saya saya terbelalak dan menyadari betapa 'kuno' nya suami saya! Perbincangan berlanjut dengan 'pembelaan' saya bahwa kalau itu bukan anaknya, berarti kan ada lelaki lain yang pernah berhubungan sex dengan perempuan itu. debat berlangsung agak panjang dan tiada berujung sampai akhirnya saya menyerah tanpa mengiyakan bahwa pendapat dia masuk akal.

Itu 2 contoh hal yang pernah terjadi diantara kita. Kalau sudah begini, jangan tanya selera ya. Jauuuh beda. Kalau taun 80an dulu, kata Ari Wibowo “kau suka keju, aku suka singkong: :). Saya suka tempat ramai, saya menikmati jalan ke mall dan makan di tempat yang berdesakan. Suami saya memilih diam di rumah saat libur, tidur sepanjang hari, atau nonton atau bikin betul ini itu di rumah. Saya menikmati menjelajah tempat-tempat makan baru, suami saya akan makan apa aja yang disediakan untuknya. Saya menikmati musik yang akrab di telinga alias lagu-lagu populer yang ringan, suami saya menyukai musik njelimet yang menurut saya semakin didengar, semakin bikin pusing.

Beda halnya dengan sepasang suami istri yang baru saya kenal beberapa bulan lalu. Saya pernah mengobrol terpisah dengan keduanya. Ketika ngobrol dengan si istri, saya sempet kaget karena apa yang dibilang si istri persis sama dengan apa yang pernah dibilang si suami pada saya sebelumnya. di lain kesempatan, kami bertiga ngobrol sama-sama, Lucunya, mereka saling melengkapi kalimat karena masing-masing tau persis apa yang mau diomongin sama pasangannya. Dengan tepat dan tanpa salah. Cara pandang yang sama, umur yang ngga terpaut jauh, dan selera yang sama pula. Kayaknya mereka nggak bakalan pernah ngalamin yang namanya salah kostum seperti yang sering saya alami bersama suami. Mereka juga cenderung pergi kemana-mana berdua, maklum dua-duanya sama-sama suka jalan.

Terus, apakah dengan memiliki minat yang sama persis satu sama lain maka hidup rumah tangga akan jadi lebih mudah? Eits jangan salah, sama hobby, sama umur, sama selera dan sama gaya biasanya berujung sama tabiat :). Bisa jadi sama-sama tukang marah, bisa jadi sama-sama tukang memendam amarah.

Engga, saya nggak bilang mana yang lebih baik. Menjalani hidup rumah tangga, dua-duanya sulit. Nggak ada yang lebih gampang. Saya merasa banyak dimenangin karena saat saya marah, suami saya selalu lebih adem, akhirnya marah saya menguap begitu aja. Di sisi lain, saya sering kehilangan partner untuk jalan-jalan cari makanan baru itu tadi. Teman saya yang suami istri itu tadi mungkin nggak pernah kesepian saat jalan-jalan karena selalu ada untuk satu sama lain, tapi pasti sulit menghadapi pasangan ketika sama-sama marah.

Siapa yang bilang menikah itu mudah? Semua sulit dengan ragamnya masing-masing. Dan semua bisa diatasi dengan caranya masing-masing :)

note : gambar pinjem dari www.clipartof.com

Selasa, Juli 20, 2010

Ketika Insomnia




Semasa belum menikah dulu, seperti teman-teman yang lain juga, saya suka mengidap insomnia akut alias ngga bisa tidur. Kadang-kadang melek aja gitu sampe subuh datang dan baru tertidur menjelang pagi, tepat satu-dua jam sebelum harusnya bangun dan ngantor. Di masa-masa nggak bisa tidur itu sumpah nggak enak banget. Kesel karena pengen tidur, trus jadi mikir-mikir segala macem yang nggak penting, dan besok paginya super ngantuk dan males ngapa-ngapain. Apalagi di masa setelah makan siang. Tambah ngantuk. Tambah males. Tambah ngga kepengen ngapa-ngapain.

Apa sih yang biasanya dipikirin sampe ngga bisa tidur? Biasanya yang paling sering sih masalah cinta-cintaan-lah. Apalagi pas berantem sama si pacar, dan malam itu, tiba-tiba handphone si pacar nnggak bisa dihubungi, atau ditelepon nggak diangkat-angkat. Semakin menambah kesewenan dan semakin bikin nggak bisa tidur. Kali lain nggak bisa tidur karena mikir lebih serius, misalnya kenapa hidup kita berasa ga maju-maju (ini dugaan teman saya si PetitePoppies). Temen saya yang lain ngakunya mikir gimana caranya bisa tidur saat nggak bisa tidur (yaiyalah dong ya). Jawaban lain bervariasi antara mikirin gawean, mikirin prospek-an, mikirin makanan, dan lain-lain.

Setelah menikah, tanpa sadar saya kok nggak pernah mengalami lagi yang namanya susah tidur. Menginjak umur pernikahan yang 4 tahun ini, belum pernah semalam pun saya lewati tanpa nggak bisa tidur.

Kenapa begitu? apa selama belum menikah dulu saya begitu cemas dan khawatir mengenai kenapa belum kawin-kawin? Ah rasanya sih engga *denial*. Terus kenapa dong begitu menikah, eh penyakit insomnia nya ilang.

Kalo dipikir-pikir lagi, dulu waktu belum menikah itu apa sih yang dipikirin? Palingan cuma urusan baju itu sepatu ini, kalung itu anting ini kan ya. kalau saya memang dari dulu anti bawa kerjaan ke ranjang. Dengan kata lain, kerja di ranjang atau sampe nggak bisa tidur karena kerjaan.

Padahal dengan menikah, persoalan tidak berkurang tapi justru bertambah. Waktu single sih saya nggak pernah mikirin harus bayar tagihan listrik, bayar tagihan telepon, mikir beli susu, mikir imunisasi dan mikir-mikir segala rupa lainnya. Dan ketika single, yang kita pikirin itu kan kita sendiri. Sakit ya penyakit sendiri yang dipikirin, ke dokter pergi sendiri, minum obat sendiri dan sembuh sendiri. Setelah menikah, nggak cuma mikirin badan sendiri aja. Suami sakit ikut repot siapin obat dll, apalagi anak sakit, wah lebih repot lagi.
Menurut pengalaman pribadi sih, meskipun persoalan bertambah banyak, tapi menikah itu beraarti mempunya partner yang (harusnya ) sedia setiap saat. Ada seseorang lain yang bisa diajak berbagi mengenai semua persoalan yang ada di depan mata. Kalau si PetitePoppies bilang, kita udah tau harus pulang kemana :)

Jadi ya, sebetulnya bukan besarnya persoalan yang menjadi soal. Tapi ada tidaknya partner kita berbagi. Menikah itu memang menambah masalah sih. Kita yang tadinya cuma mikir diri sendiri, sekarang jadi harus mikirin pasangan, anak-anak, juga mikirin mertua. Bertambahnya anggota keluarga kan berarti bertambah pula beban pikiran yang harus kita terima.

Jadi kata siapa menikah itu cuma perihal seneng-seneng? ngga senengnya juga banyak ciiinn.... Tapi ya seperti pilihan hidup yang lain, semua ada plus minusnya :)

Balik lagi ke soal nggak bisa tidur itu tadi. Bagaimana kalau ternyata selama belum menikah itu kita sering nggak bisa tidur karena emang keasyikan marathon DVD kali? atau keasyikan baca buku kali? hehehe.....

Kalo saya sih ya, selain secara psikologis merasa lebih tenang karena punya partner sharing dalam banyak hal, tapi secara fisik justru merasakan bahwa menikah itu memang melelahkan. Apalagi kebetulan setelah menikah rumah malah jadi lebih jauh dari kantor. Trus kalo dulu kan pulang kerja, gaul bentar, trus tiduran deh, atau nonton sampe bego. Kalo sekarang, pulang kerja lebih malem (karena rumahnya jauh), sampe rumah main-main dulu sama Freiya (yang kebetulan batere nya full charged terus, sampe jam 11 malem aja masih jumpalitan). Udah gitu, bangunnya lebih pagi pula, karena meskipun bukan tipe istri rajin yang selalu menyiapkan baju kerja dan sarapan buat suaminya, sekarang kan kamar mandi bukan milik pribadi lagi, harus dibagi penggunaannya dengan si suami yang nanti berangkat kerja bersama. Tuh kan cape. dan ketika hari minggu atau hari libur datang, kalau sebelumnya bisa tidur-tiduran terus menimbun kemalasan, sekarang sibuk mikir mau bawa Freiya main kemana. Dan ketika pilihan mainnya ke playground tempat mandi bola, ya kita ikutan keringetan juga walaupun cuma ngejagain.

note : gambarnya pinjem dari www.icant-sleep.com :)

Rabu, April 28, 2010

Cerita?, Nggak Cerita?




Wah udah lama ga update ya. Maaf, maaf. maklum kalo kontributornya mentri ya repot sih. Yang satu mentri pendidikan alias berkarya di bidang pendidikan, yang stau lagi mentri sosial, dimana kerjaannya bersosialisasi alias kebanyakan nongkrong. Oh well......

Udah ah, semoga mulai hari ini dan seterusnya kita bisa terus apdet di Lajang Dan Menikah ya, secara cerita mah sebetulnya ga pernah abis.

Sebelum menikah dulu, saya nggak pernah terbayang bahwa di dalam satu pernikahan khas Indonesia dimana banyak orang yang terlibat (baca:keluarga), akan ada seabruk-abruk masalah yang justru tidak datang dari pasangan kita sendiri, tapi dari sekitar (baca lagi:keluarga). Kalo dipikir-pikir lagi tidak semuanya juga kemudian menjadi masalah sih, bisa juga jadi sebuah perhatian atau tanda sayang. Ya, tergantung kita melihatnya dari sudut mana.

Sebelum mulai cerita kesana kemari, saya kelihatannya harus bilang kalau saya sebetulnya memang orang yang nggak terlalu perhatian sama kiri-kanan. Ada kalanya saya perhatian sekali, tapi sering kali saya juga agak cuek dan sama sekali nggak ada perhatian. Bagian apa yang harus saya perhatikan dan bagian apa yang nggak terperhatikan, semuanya subjektif, gimana saya aja. Dalam hal beginian, ada banyak hati dan sedikit otak yang mempengaruhi sikap saya. Namanya juga subjektif kan.

Dalam keluarga, tentu wajar banget yang namanya saling memperhatikan kan. Apalagi dari nggak punya keponakan, tiba-tinba saya punya 8 orang keponakan, umurnya lagi lucu-lucunya pula. Ada yang beranjak remaja ada pula yang masih kecil-kecil. Mereka semua tinggal di luar kota, ketemuannya ya cuma kalo liburan aja sih. Seru juga, anak-anak kelihatan banget pertumbuhannya, selalu beda tiap ketemu. Nggak seperti nan tulang (tante) nya ini yang begini-begini aja.

Di kumpulan keluarga, saya termasuk orang yang agak jarang bercerita-cerita (padahal kalo nge-blog bisa banjir semua ceritanya, hehe). Paling banter yang saya ceritakan, ya soal Freiya, soal kelucuannya dan tingkahnya yang selalu bikin gemes aja. Eh jarang bercerita ini dalam konteks lagi ga ketemuan ya. Maksudnya kalo sengaja-sengaja telepon atau SMS berpanjang2 untuk cerita sih engga, tapi kalo udah ketemu sih ya suka juga cerita-cerita.

Sialnya membagi apa yang sebaiknya diceritakan dan apa yang sebaiknya ngga usah diceritakan itu nggak ada patokan atau standarnya.. Ada kalanya menurut kita ini perlu diceritain, eh ternyata engga. Ada juga waktu kita berpikir ini nggak usah diceeritain, eh malah dibahas “kok ngga cerita-cerita sih” Hal-hal begini lumayan membuat saya kepingin garuk-garuk tanah (cari berlian).

Kalo saya sedang dalam masalah, saya agak jarang cerita. Bukan sombong ya, tapi kalo emang nggak bisa juga menyelesaikan masalah, buat apa sih cerita-cerita. Apa? supaya bisa didukung dalam doa? Oh oke deeeh :).

Biasanya saya cerita kalo masalah udah selesai justru. Kayak beberapa bulan lalu, Freiya tiba-tiba kakinya sakit lalu dibawa ke rumah sakit. Di rumah sakit saya harus memutuskan sendiri tindakan operasi. Urusannya sih ringan tapi berhubung dia masih kecil, otomatis perlakuannya istimewa. Waktu itu saya ambil keputusaan sendiri dan menandatangani surat kesepakatan operasi. Suami sedang di luar kota waktu itu, lagi meeting pula. Saya memutuskan untuk nggak bilang sama dia sampai operasinya selesai dan Freiya baik-baik saja. Dia tentu kaget tapi nggak sempat lagi marah waktu tau akhirnya Freiya dioperasi. Saya sengaja nggak bilang, karena buat apa? malah ganggu yang lagi meeting dong, sementara saya tau dia juga nggak bisa mendadak pulang menemani saya di rumah sakit. Di sisi lain, saya juga membiasakan ebrbagi tugas dengan suami. Salah satu dari kami harus memperhatikan anak saat dalam keadaan sakit seperti itu, sementara yang lainmnya harus tetap konsentrasi pada pekerjaannya. Siapa yang mikir anak siapa yang mikir kerja, tentu bergantian, sesuai keperluan aja. Pernah juga waktu Freiya sakit dan saya harus kerja, suami yang diam di rumah ngurus anak. Saya pergi kerja karena memang ada kerjaan yang nggak bisa ditinggalin.

Nah waktu operasi hari itu, saya sama sekali nggak bilang siapa-siapa. Iya, bawel dikit di Twitter sih, secara masih perlu diperhatiin teman-teman yang manis manis itu. Tapi sama keluarga, saya justru nggak bilang. Sama seperti pada suami, saya cerita setelah operasi usai, Freiya baik-baik saja, bahkan sudah pulang ke rumah.

Coba bayangkan kalo sebelum operasi saya udah bilang-bilang, apa nggak jadi pada panik sih ya? terus juga nggak menutup kemungkinan mereka lalu berinisiatif datang menemani saya. Sementara saya juga dalam keadaan panik dan males ngomong sama orang, eee, bukannya malah jadi repot ya.

Berhubung umur pernikahannya baru, belum genap 4 tahun, saya yang juga masih suka bingung membagi apa aja yang harus diceritain, apa yang nggak harus diceritain. Yang jelas saya sih berpikir sederhana aja. Kalo sekiranya bakal bikin repot dan nggak menambah nilai terhadap apapun juga, saya memilih diam ga cerita. Tapi kalau memang dengan cerita ada nilai lebih yang bisa didapat, baiklah saya akan cerita.

Untungnya, keluarga suami dan keluarga saya cukup banyak mengerti kalau saya sering nggak bilang-bilang mengenai apa-apa yang kita alami. Nggak ada sih tudingan-tudingan macam mencerca saya sombong atau dll dll. Saya pikir memang harus demikian. Bagaimanapun, keputusan membagi cerita itu kan ada di tangan kita, atau dengan kata lain, “gimana gue aja kaleee”.

Rabu, Maret 24, 2010

Nasib Si Menikah





“Susah memang kalau sudah tidak single lagi”. Begitu keluh seorang teman yang merasa kakinya tidak lagi bisa melangkah dengan bebas seperti waktu belum menikah dulu. Mau janjian ketemu teman lelaki aja parno. Pilih tempat yang kurang peminat supaya ketemu dengan keluarga kemungkinannya kecil. “Soalnya ipar-ipar gua orang pada bergaul semua. Nongkrong di PVJ sama teman sih alamat diomongin sampe dower di rumah mertua nanti”, katanya lagi. “padahal gua kan belom punya anak ya, jadi harusnya lebih longgar juga dong. Masa iya kesana kemari kudu sama suami. Mending kalo dia punya waktu buat nganter gue kemana-mana”

Demikian sore itu teman saya mengomel dari ujung ke ujung soal bagaimana being married kemudian membatasi langkahnya dalam bergaul. memang sih suaminya bukan tipe pencemburu dan bukan pula tipe yang harus kesana kemari bareng-bareng. Tapi beban terberat adalah memang ada beberapa orang yang mulutnya kali ada tiga. Melihat kenalan makan siang dengan seorang pria, langsung jadi gosip. Melihat istri teman ngopi-ngopi sore dengan seorang lelaki, langsung aja jadi rame.

Padahal kami-kami yang menikah ini kan juga perlu bergaul. Dan yang namanya bergaul itu nggak bisa dibatasi hanya untuk ngumpul sesama ibu-ibu aja, atau kumpul sama temen-temen perempuan melulu. Kadang juga perlu untuk tetap bergaul dengan teman-teman gila masa SMA yang notabene banyaknya lelaki. Di lain hal, kadang kita terkadang punya urusan bisnis atau pun cuma pengen sekedar ngobrol dengan teman laki-laki kan.

Si teman saya yang barusan itu sebetulnya nggak terlalu ambil pusing sama gosip ini itu, tapi dia sedikit merasa khawatir akan cara pandang orang terhadap suaminya. “kasihan suami gua kalo orang bilang istrinya tukang nongkrong sama orang lain”, katanya. “Gua sih sebodo amat, tapi laki gua kan yang orangnya tertib dan lurus banget gitu ya, kesian juga kalo orang berpandangan begitu. Sementara laki gua kan bukan selebritis yang bisa bikin konferensi pers soal saya-tidak-keberatan-kalo-istri-saya-sekali-kali-pergi-makan-dengan-teman-lelakinya.

Saya juga termasuk perempuan menikah yang masih suka nongkrong sana nongkrong sini cekakak sana cekikik sini. Ya di dalam kesibukan yang segunung, bisa juga cuma chatting sana chatting sini :) Sebenernya beban saya sedikit lebih berat, kan udah punya anak. Se-hobby-hobbynya bergaul, di saat punya waktu kosong tak bekerja, ya juga pengen pergi atau pokoknya quality time sama anak semata wayang.


Beberapa kali saat jalan sama temen (lelaki), eh ketemu juga dengan temen yang juga temen suami, atau bahkan dengan sanak saudara sekalian. Saya sih suka santai aja, “hai”. perihal udahnya mereka mau ngomongin di belakang ya terserah-terserah aja. Tapi udahnya saya suka buru-buru bilang ke suami duluan. Soalnya cerita yang nyampe pertama kan biasanya cerita yang masuk ke hati :). Dan memang ngga bisa juga mengelak kan kalo pas ketemu orang, eh kita nya lagi cium-cium, hehe. Masa iya mau lapor sama suami, “iya, jadi tadi pas aku cium-cium sama si Reno, eh Tante Ida nongol”. Bwahaha, menghayal.

note : gambarnya 'pinjem' dari www.datingche.blogsome.com

Rabu, Februari 24, 2010

Pinternya Anak Anak




Siapa bilang punya anak itu perkara gampang, sini ta' kemplang. Eh apa sih baru mulai posting udah ngomel :). Jadi ceritanya saya ini ingin mencoba menjadi seorang ibu modern. Yang nggak nakut-nakutin anaknya, yang nggacerita-ceerita bohong sama anaknya, dan beberapa hal lain yang saya pandang kuno, tapi cukup mendarah daging di masyarakat kita.

Salah satunya adalah kebiasaan orang tua yang suka nyalahin orang lain atau bahkan barang ketika anaknya kejeduk. Misalnya kejeduk pintu, ketika anak nangis, serta-merta untuk meredakan, si ibu menyalahkan pintu, "dasar pintu nakal". Biasanya kata-kata ini disertai dengan gerakan memukul pintu. Oh.

Buat saya, membiasakan diri membuat bahwa selalu ada kambing hitam dalam setiap hal jelek yang menimpa dia tentu bakal terbawa sampai besar. Kelak ada hal jelek yang beneran terjadi, dia akan selalu dengan mudah mencari kambing hitam. Kenapa sih ga bilang aja, supaya ngga kejeduk ya harus hati-hati. Jadi anak juga dibiasakan berpikir untuk hati-hati supaya ngga ada hal buruk menimpanya.

Contoh lain ketika anak susah makan. Kata-kata yang mudah keluar adalah, "ayo cepet makan kalo engga nanti ibu guru marah". Ehm. Emang apa urusannya anak ngga mau makan sama ibu guru marah sih? Perkataan seperti ini menurut saya malah bisa membuat sosok guru sebagai sosok yang menyeramkan di mata anak2. Nanti anaknya males sekolah, ibunya juga lho yang pusing.

Satu kali saya makan di food court, seorang ibu nampak kesulitan menyuapi anaknya. "ayo cepet makan", katanya. "Nanti mangkoknya mau diambil yang jualan", lanjutnya. Hihihi, menurut saya kali ibu ini keseringan jajan baso yang lewat depan rumah.

Dan yang menyebalkan adalah ternyata suami saya suka begitu juga. Oke, pernah, bukan suka. Satu kali kami pergi ke kantor pake taxi karena mobil lagi di bengkel. Freiya, tumben-tumbennya kepengen ikut, bahkan sampe nangis segala. Saya sih anteng aja, tetep bilang bahwa kita mau kerja, dan ngga bisa ikut dong Freiya nya. Tangisan semakin menjadi sampai akhirnya suami saya bilang, "jangan ikut Freiya, nggak boleh sama Bapak Supir Taxi".

Doenngggggg ......

Saya spontan marah. Lah, apa urusannya Bapak Supir Taxi melarang anak ikut bersama kita kan ? nanti si anak pikir hajat kita ditentukan sama Bapak Supir Taxi kan repot.

Saya mendebat suami saya dan mungkin karena lumayan masuk akal, dia pun mengalah.

Kita sebagai orang tua seringkali nggak menyadari bahwa anak-anak itu dilahirkan pintar. Apalagi anak jaman sekarang yang gizi nya jelas. Kata siapa anak nggak bisa ngerti apa yang kita sampaikan ? Udah nggak jamannya lagi anak-anak dibohong-bohongin. Atau malah jangan-jangan kebanyakan dibohong-bohongin, anaknya malah kurang pinter beneran. Saya inget dulu mama saya melarang saya berdiri di samping kuda dengan alasan nanti kudanya nendang. Di umur saya yang dua puluhan kemudian saya baru tau bahwa kuda itu nggak bisa nendang ke samping, sodara-sodara. Yah semacam itulah, kebohongan yang disampaikan semasa kecil bisa menerap dan kita pikir betul sampai udah gede.

Saya membiasakan Freiya untuk tahu jelas apa alasan dia nggak boleh ini dan nggak boleh itu. YAng lucu, satu kali lampu di dapur kedip-kedip. Memang sudah harus diganti. Pas dia tanya, "mama itu kenapa?". Saya mengerahkan kemampuan otak saya yang cuma segini-gininya untuk menerangkan, berhubung nggak nemu penjelasan tepat, tanpa sadar saya melantur sana sini, "Jadi Frei, lampu itu kan setiap hari beberapa kali dinyala-matikan, ada kumparan di dalam lampu itu yang.... blablablablabla......" Yeah, i'm lost in while I'm talking. Di luar dugaan, Freiya angguk-angguk, "Ya itu namanya RUSAK, mama".

Tuh kan.

Anak-anak tuh pinter kok, dan biasakan mereka jadi pinter deh :)

Postingan ini nampak ibu-ibu sekali ih, biarin deh.

Gambarnya pinjem dari www.walcoo.net :) Thanks !
Blog Widget by LinkWithin