Tampilkan postingan dengan label Cerita Kiriman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerita Kiriman. Tampilkan semua postingan

Selasa, November 22, 2011

Dicari : Family Man

SITTA KARINA

“wow! cowok seganteng itu ternyata family man?”

“Nggak apa-apa deh dia nggak sekeren Ario Bayu, yang penting kan family man.”

“Katanya Eja tipe family man ya? Dia kasih surprise untuk ultah neneknya lho. So sweet banget ya!”

“Wuiiiih! Family man ya? Mau dong dikenalin. Kayaknya OK tuh jadi suami!”

Harus saya akui bahwa hati tiap kali melihat, mendengar, atau sekadar mendapatkan berita tentang laki-laki tipikal family man, hati langsung “meleleh”. Terbayang masa depan yang aman dan bahagia seperti happy ending di kebanyakan dongeng Disney’s. Tidak ada lagi sakit hati yang menyesakkan dada, tidak ada lagi malam ditemani film romance plus sekotak es krim dan cokelat sebagai “obat penenang”, dan tidak ada lagi retail therapy yang belakangan malah bikin makin stres karena tagihan kartu kredit yang melambung.

Intinya, bersama si family man, hidup kita pasti aman.

Such a funny thought, pikir saya, terutama setelah sekarang melihat contoh family man ini dalam kehidupan nyata. Saya jadi teringat definisi family man ketika pertama kali berkhayal tentang pria macam ini—cowok pencinta keluarga, cowok rumahan, atau jangan-jangan cowok yang malah tergantung melulu sama keluarganya.

Family man adalah istilah yang saya dapatkan ketika menonton film dengan judul sama awal 2000 silam yang dibintangi Nicholas Cage. Saat itu saya masih seliweran di kampus dan cukup “ketampar” dengan kenyataan pernikahan dan seperti apa kehidupan setelah menikah (terutama setelah berkeluarga). Oh, jadi anak nantinya menjadi prioritas? Oh, jadi nggak waktu untuk clubbing? Oh, jadi kita yang saat masih pacaran merupakan pasangan wangi, neat and clean akan jadi kucel karena sibuk mengurus keluarga dan urusan rumah tangga?

Salah besar kalau menganggap family man identik dengan cowok rumahan. Ia adalah pria yang sadar dan ingin menjalani kehidupan—to grow old—bersama keluarganya. Bukan sekadar pria yang hapal quote epik The Godfather, bukan sekadar pria yang bekerja demi bisa “dandanin” mobilnya, bukan juga pria yang masih sibuk tweeting di saat istri butuh pertolongan menjaga si kecil lantaran nanny cuti.

Family man menjalankan perannya sebagai suami dan ayah dengan hati lapang. Selain itu, ia akan terus belajar untuk menjadi pemimpin yang baik agar dapat membawa keluarganya ke kebaikan. Dalem banget kan makna si family man ini. Gimana cewek-cewek nggak pada “ngiler” mengejarnya!

Lalu, gimana dong cara dapetinnya? Pasti jumlahnya nggak banyak, kan? Rebutan dong dengan cewek-cewek sejagat yang juga menginginkan hal sama? Setelah menonton The Family Man, saya tahu bahwa saya ingin kehidupan berkeluarga yang chaotic namun hangat seperti keluarga Jack Campbell dalam kondisi “what-if”-nya. Saya juga menyadari bahwa ada proses yang berlangsung dibaliknya sebelum seorang pria menjadi family man. Nah, sebelum hunting jenis pria seperti ini, yuk lihat dulu ke dalam diri: apakah selama ini kita sendiri sudah pantas, atau setidaknya mempersiapkan diri, untuk jadi pendamping pria seperti itu? Kasihan kan kalau ternyata si family man mendapatkan istri yang cuma “cari aman” tapi tidak memahami kebutuhannya, tidak mendengarkan aspirasinya?

Oh, jadi kalau mau dapetin family man kita harus jadi family woman dulu? More or less, yes. Si dia ada untuk keluarga, terus kitanya keluyuran melulu? Big no, darl. Yakin deh bahwa sesuatu yang baik bisa kita jemput dengan kebaikan juga. Seperti kata Paulo Coelho, when you want something, all the universe conspires in helping you to achieve it.

*untuk blog lajangdanmenikah.com

Sumber ilustrasi : superstock.co.uk

www.sittakarina.com
blog: sittakarina.posterous.com
twitter: @sittakarina
FB : facebook.com/sittakarina

Selasa, Mei 24, 2011

Yang Lajangers Ingin Tahu Tentang Menikah Pt.1

Cerita Kiriman dari Icha Rahmanti

Berawal dari keisengan pada suatu sore, saya mengajukan semacam survey kecil via Twitter dengan pertanyaan: Apa sih yang paling ingin diketahui oleh para lajang mengenai dunia pernikahan atau kehidupan berumah tangga? Berikut ini hasil copy-paste nya dan jawaban asal kala itu (terbatas oleh 140 karakter dan semaksimal mungkin menghindari Twitlonger) dan pemaparannya dengan semangat berusaha lebih serius kali ini. Semoga bermanfaat. Terutama untuk lajang-ers yang ingin tahu bagaimana sih rasanya ada di sisi sebelah situ…

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @paxxx: Bagaimana mengatasi rasa bosan(apabila timbul) Kak Icha? >> Pick a fight, throw some plates.

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @adixxxf: Ga bosen tiap hari mukanya itu aja yg diliat?>>Pasti bosen. Alami kok. Untung ada BB :p.

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @disxxx: how to avoid boredom?>> Pick a fight/make love/watch smallville more me-time/ get a puppy

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @pakxxxxx: Bgm atasi tersedak krn perasaan terjebak seumur hidup kak Icha?>>ikut kelas terjun payung.

Mengenai Bosan dan Terjebak
Rupanya, topik ini jadi top of mind para lajang-ers mengenai kehidupan pernikahan. Seperti jawaban di atas, bosan pasti akan terjadi dan sangat alami serta natural. Bayangkan, sepanjang sisa umur kita, menghabiskan pagi dengan bangun melihat muka yang sama, malam pun tidur dengan muka yang sama, orang yang itu-itu juga. Merasa terjebak hingga terasa pengap? Natural juga. Tapi justru jangan ditakuti, kalau ditakuti ya alamat takut nikah terus deh. Terima dan jalani sebagai satu paket dari “menikah”, bisa membantu melewatinya dengan ikhlas. Bagaimana mengatasi kebosanan? Ya lakukan saja hal-hal yang membuat kita senang; main twitter, nonton dvd, baca buku, dan lain-lain. Cukup punya waktu untuk diri sendiri. Tips ini, sejauh ini berhasil untuk saya. It might not take away the boredom but it helps you to be happy. And happy people tend to see the glass half full.

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @emoxxxt: gmn melewati cobaan2 yg pasti ga gampang&bertahan utk terus bkomitmen >> makan sepiring b2

@emotiPont: cara lewati cobaan2 yg ga gampang&gmn bertahan utk terus berkomitmen >sholat&doa, #jawabanserius. Klise tp insha لله manjur.

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @re2_rexxx: Apa yg bikin awet? 'Cinta'/ 'Terbiasa'?/'Rasa Nyaman'?>>Beda2.Tp kebanyakan BUKAN cinta.

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @dinoxxxxa: how they tolerate small annoying things?>> U don't tolerate. U suck it up,period.
Mengenai Komitmen dan Bertahan
Everybody I know is getting divorce. And believe me, the temptation to just get out was calling, and the thinking, “if everybody’s doing it, why don’t I?”is haunting you. They look so much fun after getting divorce. Jaman sekarang cerai menjadi sangat jamak dan lumrah. Berbeda sekali dengan jaman orang tua kita yang cerai adalah aib sehingga cap dari keluarga “berantakan” bisa cukup membuat si anak mengalami depresi di sekolah. So why suck it up?
Karena sesungguhnya menikah memang bukan untuk seru-seruan. Saya dan sahabat lajang saya, yang kerap saya curhati, menyebut menikah “The Impossible Dream”—terinspirasi dari lagunya Luther Vandross, karena penggambaran akurat mengenai pernikahan itu ibarat liriknya, “to march into hell for the heavenly cost…”

Tapi sebagaimana ada ‘possible’ dalam ‘impossible’, ada harapan agar komitmen tetap terjaga. Kacamatanya harus ibadah, karena kalau tidak, sulit sekali menalarnya. Jadi sekalipun klise, berdasarkan pengalaman, doa dan sholatlah (karena saya muslim) akhirnya yang meredakan pikiran-pikiran menuju kata “exit”. Dan percayalah, saat menulis ini, perjuangan belum selesai, Jendral… Karena pernikahan adalah perjuangan panjang hingga ajal menjemput atau akhirnya memang ketok palu pengadilan agama/ pembatalan pernikahan yang jadi akhir ceritanya.

Karenanya dari mengamati, menurut saya yang pada akhirnya membuat pernikahan langgeng seringnya bukan cinta. Kalaupun cinta, biasanya lebih karena cinta pada status, cinta pada anak-anak, cinta pada harta (tajir bow), dll. Bilang saya pesimis, tapi cinta yang a la Desmond and Molly di lagu Obladi Oblada… hanya sedikit yang beruntung di jaman sekarang memiliki cinta seperti itu.

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @tya139: R they happy w/ their wedding?>>Klo bukan kawin paksa, weddingnya happy. Marriagenya blm tentu.

#YgLajangersInginTahuTtgMenikah RT @anovita: Pas 'akhirnya menikah'.Rasanya gimana?>Seneng dong. Kan bukan kawin paksa. Euforia malah.


Tentang Bahagia
Ya, selama bukan kawin paksa ala Siti Nurbaya, rasanya kebanyakan pasangan menikah dengan keadaan bahagia di hari pernikahannya (wedding). Bahagiakah pernikahannya (marriage)? Belum tentu. Karena waktu dan kata menikah seperti punya kekuatan besar menggerus cinta jadi benci akut, gairah jadi basi, sopan jadi asal dalam sebuah pernikahan. Melihat bahagia atau tidak juga tergantung dari definisi bahagia orang itu. Kita bisa saja bilang, “gila ya bo, si Z, sekarang bini-nya Hitler banget, lehernya udah disetir bininya.”Bahagiakah si Z? Dari kacamata kita tampak sengsara. Tapi tahukan kita kalau si A senang didominasi dan diperlakukan seperti itu adalah kebutuhannya?

Bilang saya pesimis, tapi bahagianya menikah adalah justru tentang “growing pains” dan “growing old” (karenanya lagu Grow Old with You, jadi pilihan saya dan suami saat resepsi pernikahan kami). We don’t believe in those kind of happiness with happily ever after. Mostly and, or occasionally happy is good for us. The rest is life.
Segini dulu ya. Masih panjang sih pertanyaannya. Tapi nanti malah bikin jiper yang tanggal pernikahan sudah diambang pintu hahaha… lain kali disambung lagi ya.

Xoxo,
Icha Rahmanti / Follow me on twitter @cintapuccino ya kakaaa, thx. #ajimumpung


Sumber gambar : dreamstime.com

Senin, November 30, 2009

Cerita Kiriman : Manajemen Mantan Pacar

Banyak hal yang saya pelajari ketika dulu pacaran dengan pria yang sekarang menjadi suami saya. Salah satu diantaranya adalah tentang manajemen obsesi terhadap mantan-mantan pacarnya.

Sekarang sih saya sudah berhasil melewati fase sulit itu, dan sudah berada dalam fase "bisa menertawakan" kebodohan yang saya lakukan dulu waktu pacaran. Tapi kalau disuruh memilih kembali, sebagaimana saya ingin bagi kepada sesama wanita, terutama yang masih lajang dan terutama sekali yang belum punya pacar, saya akan lebih memilih untuk tidak tahu sama sekali tentang:

1. Siapa saja nama mantan-mantannya
2. Seperti apa penampakkan mantan-mantannya
3. Apa saja yang mereka lakukan dulu

Saya berpikir mungkin secara tidak sadar kebanyakan wanita adalah makhluk yang gemar berkompetisi untuk selalu jadi yang nomor satu di hati pasangan, namun sekaligus mudah merasa tidak aman. Nah, karena pengen selalu jadi yang nomor satu itulah maka kadang wanita suka penasaran "Seperti apa sih orang yang pernah jadi ratu di hati pasangan kita?". Beranjak dari situ, pertanyaannya biasanya jadi lebih kreatif: "Dulu putusnya kenapa ya?" atau "Masih cinta nggak ya sama dia", dan lain sebagainya.

Selesai?

Tergantung orangnya. Repotnya kalau si wanita punya sifat bawaan seperti saya: Ahli sejarah sejati yang bisa mengingat detil setiap peristiwa, detil setiap perkataan, detil waktu kejadian, dan kemudian saya cari hubungan sebab dan akibatnya secara logis. Hehe, mungkin kalau saya benar-benar jadi ahli sejarah, karir saya bisa melejit. Sayangnya, saya mempergunakan bakat saya itu untuk sesuatu yang salah: saya menjadi terobsesi sekali sama salah satu mantan pacar suami saya dulu, setelah suami saya (dulu pacar) cerita detil tentang mantannya.

Saya sendiri nggak tahu kenapa awalnya saya bertanya duluan tentang mantan pacarnya. Mungkin sekali karena saya cemburu dan saya merasa nggak aman.

Nggak aman kenapa? karena pasangan saya termasuk kategori pria yang baik hati yang selalu ramah kepada setiap orang, termasuk kepada mantan-mantan pacarnya yang pada saat itu masih sering telepon-telepon suami saya. Setelah suami saya jawab dengan jujur dan detil tentang mantannya dan apa saja yang mereka lakukan dulu, bukannya saya menghargai kejujurannya dengan mengakhiri saja topik tentang mantan, eh malah saya kelimpungan nggak bisa terima dosa-dosa masa lalu mereka. Waktu itu saya bener-bener nggak siap mendengar cerita masa lalu yang seburuk itu. Saya nggak menyangka perbuatan mereka dulu hina sekali.

Antara cinta banget sama suami (waktu itu masih pacar) dan benci setelah mendengar cerita itu, saya jadi suka kepikiran sendiri. Endingnya, karena saya terlalu mencintai suami saya, jadinya saya malah benci banget sama mantannya. No mater what, pokoknya benci!

Setelah itu saya melewati hari-hari nggak menyenangkan karena selalu curiga sama suami (waktu itu masih pacar), termasuk jadi suka cek-cek HP nya yang ujungnya malah membuat dia makin nggak nyaman ada di dekat saya karena bawaannya saya pengen marah-marah melulu. Akhirnya? Mantannya yang emang masih ngebet BUANGET sama suami jadi sempet deket lagi!! Duuuhhh, mau mati nggak sih looo... Makin jauh aja saya dan pasangan secara emosional walaupun berstatus pacar.

Tapi mungkin karena kami memang berjodoh, akhirnya saya dan suami (waktu itu masih pacar) jadi menikah. Sebelum menikah kami sepakat untuk benar-benar tutup buku masa lalu kami. Dan feeling saya sih mengatakan kalau suami saya benar-benar jujur dan tulus mencintai saya.

Meskipun Alhamdulillah berakhir bahagia, tapi untuk melupakan masa lalu suami, saya butuh 2-3 tahun lamanya setelah menikah. Apalagi kalau mau berintim-intim sama suami, jadi kepikiran mereka berdua. Nggak banget kan ya? Tapi saya belajar, kalau saya percaya diri, maksudnya percaya kalau suami benar-benar cinta sama saya seorang, maka sikap saya kepada suami akan lebih hangat. Dan itu terbukti! Itu membuat suami makin betah di rumah, makin perhatian sama saya. Akhirnya memperkuat cinta kami.

Skemanya begini:

Kita pede bahwa pasangan cuma cinta ke kita seorang ---> bawaannya jadi nggak curigaan ke pasangan dan nggak pengen ngecek-ngecek HP atau FB atau e-mail ---> sikap kita jadi lebih hangat ke pasangan ---> Pasangan merasa nyaman sama kita

Makanya, untuk para wanita, terutama yang masih lajang, saya sih menyarankan dua hal:

1. Nggak perlu tahu deh masa lalu pasangan. BIG SWEAR: Nggak perlu!
2. Satu lagi, please repeat after me: PEDE aja lagi!!

Sekarang kalo inget dulu saya pernah stres setengah mati gara-gara cerita masa lalu itu, saya suka geli sendiri, kenapa saya dulu begitu nggak percaya diri sampai-sampai butuh cerita detil tentang suamu dan mantannya. Hiihihi.

Kiriman : seseorang yang pengen identitasnya disamarkan.


Sumber gambar : gettyimages.com

Rabu, Oktober 21, 2009

Cerita Kiriman : Miss A(nnoying)


Saya bukan orang yg rese dengan cerita nostalgia soal mantan pasangan, mengingat saya pun pernah punya cerita dengan mantan-mantan yg (mungkin) sulit saya lupakan. Rasanya saya sangat toleran terhadap masa lalu. Tapi saya paling sebel kalau ada orang dari masa lalu yang terang-terangan datang dan mengganggu 'masa sekarang'.

Tersebutlah 1 teman suami yg hobi sekali mengupdate info tentang saya, esp waktu saya dan suami masih pacaran. Kita sebut saja dia Miss A(nnoying). Setiap dia online di messenger, pasti dia akan sok ramah menyapa saya dan bertanya ini-itu. Dimana saya bekerja, berapa gaji saya, fasilitas business trip saya, sampai dimana tempat gaul saya. Hohoho.. penting yaaa?

Mengingat dia teman suami dan lebih tua beberapa tahun di atas saya, saya selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan dia dengan ramah. Tapi setelah pertanyaan-pertanyaannya berubah menjadi pernyataan-pernyataan berbau kompetisi, saya mulai terganggu.

Rasanya sebel setengah mampus dengar cerita soal ibu suami a.k.a mertua saya yang suka banget sama dia, sampai pengen banget menjadikan dia sebagai menantu waktu itu. Juga soal suami yg dulu semasa SMA rajin banget mengupdate dia soal info chart lagu indonesia, sampai bela-belain kirim surat ke negara tetangga. *ceritanya waktu SMA dia sempat ikut pertukaran pelajar.

Karena sebel dengan cerita rese yg diulang-ulang hampir di setiap chat, secara tidak langsung saya mengkonfirmasi cerita-cerita itu, baik kepada ibu mertua maupun kepada suami. Dan hasil yang saya dapatkan tidak se'berbunga' ceritanya.

Ternyata, ibu mertua malah mengatakan kalo keluarga Si Miss A-lah yang gencar ngajak besanan. Sedangkan suami mengatakan kalo dia ga penah membayangkan menjadi seorang anak SMA yg pergi ke kantor pos untuk rajin berkirim surat. Moreover waktu itu si suami udah punya pacar. Well, saya tidak berminat untuk berkomentar lebih jauh. Saya hanya menyimpulkan kalo mungkin si Miss A naksir suami (yang waktu itu masih berstatus sebagai pacar saya).

Kemudian dari cerita teman-teman suami (yg notabene para pria), saya jadi tahu kalo si Miss A ini memang punya hobi ngarang cerita, seolah-olah semua pria di dunia pernah naksir sama dia. Sakit jiwa menurut saya. Saya sempat heran, si A ini cantik dan pintar. Benar-benar tidak ada yg salah dengan dia. Saya yakin (kalo dia anteng, ga kebanyakan ngarang cerita) yg naksir dia juga banyak. Kok ya bisa-bisanyaaa.. Anyway, itu bukan urusan saya.

Waktu berlalu. Sekarang si Miss A sudah menikah. Begitupun saya dengan suami. Tapi saya sungguh heran mendapati habit si Miss A tidak berubah.

Dia masih suka mengarang cerita soal suami saya yg kata dia dulu ‘blablabla’ sama dia. Lalala.. saya tidak terlalu peduli hingga suatu hari, menjelang lebaran, dia mengarang cerita yg menurut saya sudah menjurus ke arah adu domba suami istri. Disinilah saya mulai membencinya setengah mati.

Kali ini si Miss A mengarang cerita kalo suami saya mengajaknya berbuka puasa bersama di luar sepengetahuan saya. Waktu saya mengetikkan 1 kalimat “Oh iya?”, dia langsung semangat mengeluarkan kalimat-kalimat pengundang depresi seperti "Oh, kamu ga tahu ya? Aduh, maaf. Aku kira suami kamu cerita", atau "aduh, aku jadi ga enak nih. uhm.. nanti aku tanya suami kamu lagi aja", “Uhm.. atau kamu aja yg tanya. Aduh, aku beneran jd ga enak, nih” etc. Waktu itu pengen banget saya membalas “Aduh, kamu lucu banget sih mba, jadi pengen nabokin”. Hehe..

Well, pada waktu itu akhirnya saya memilih untuk segera memasang status “busy” dan tidak lagi menanggapi window messenger yg terus berkedip-kedip, tapi saya langsung marah-marah pada suami. Bukan menuduhnya ini-itu karena termakan omongan si Miss A tadi, tapi karena saya butuh tempat untuk ngomel panjang lebar sebagai pelampiasan agar saya tidak menyemprot si Miss A secara langsung atas nama sopan santun (selain males ribut sama orang gila). Suami saya tentu saja hanya tertawa. Dia malah membodoh-bodohkan saya yg gampang banget menjadi emosi, padahal saya sudah tahu bagaimana habbit si Miss A.

Saya tahu dan sepenuhnya sadar kalo saya bodoh. Membuang-buang energi untuk marah-marah dan sebel, bahkan sampai benci setengah mati sama orang gila. Tapi saya rasa kebanyakan perempuan yang ada di posisi saya akan melakukan hal serupa, ngomel-ngomel dan memaki-maki untuk menumpahkan kekesalan. Apalagi kali ini cerita si Miss A sudah menjurus ke arah adu domba. Itu yg membuat saya (bodohnya) jadi benci sama dia. Coba kalau saja saya belum tahu bagaimana ‘kondisi kejiwaan’ si Miss A. Ada kemungkinan terjadi percekcokan rumah tangga kan? Apalagi usia pernikahan saya dengan suami baru jalan 3 bulan.

Setelah emosi saya reda, saya jadi berpikir betapa mudahnya saya ter-provokasi dengan kegilaan si Miss A. Nyaris saja saya tertular jadi ikut gila (dengan ngomel-ngomel ga berujung). Benarkah semua wanita mudah ter-provokasi oleh orang-orang seperti Miss A, atau jangan-jangan hanya saya?

Btw, kalo dipikir-pikir saya jahat sekali ya memvonis si Miss A sakit jiwa. Hehe..

Sumber gambar : sxc.hu

Rabu, September 23, 2009

Cerita Kiriman : Ternyata Saya Hanyalah Istri Kedua!

Dikirim oleh : Swastika Nohara

“Jadi, boleh nggak beli tiketnya?” suara suami saya terdengar membujuk, eh, memaksa namun dengan nada membujuk.

“Emang bisa dilarang?” jawab saya pasrah.

“Beli dua ya? Kamu mau juga kan?”

Pletaaaak! Saya menjitak Ucup. Ehm, pelan sih. Tapi dia tahu itu artinya ‘TIDAK’.

Enak aja! Cukup 90 poundsterling (kurs saat itu kira-kira 1,5 juta rupiah bo!) melayang buat beli satu tiket pertandingan sepak bola. Saya sih mending dikasih mentahnya aja, trus bisa menjelajah gerai Miss Selfridges atau Top Shop lah… *tanduk belanja mulai nongol dikiiit *

Kami berjalan bergandengan tangan *tsaaah!* di luar stadion tempat derby Manchester United vs Manchester City akan berlangsung sejam lagi. Stadion udah penuuuh banget sama manusia-manusia penggila bola, dan Ucup udah gatel aja pengen cepat-cepat gabung sama mereka.

Maka dalam hitungan detik Ucup segera melipir ke pojokan entah mana bareng si calo tiket. Yeah, di Inggris pun ternyata ada juga yang namanya calo tiket. Bedanya, mereka jualannya lebih ati-ati dari yang jual narkoba! Kasak-kusuk nawarin barang lalu transaksinya secepat kilat sambil ngumpet di tempat yang nggak keliatan polisi.

Ucup pun jejingkrakan memamerkan tiket di tangannya sebelum melesat masuk ke stadion. Hhhm… dua jam lebih nih saya harus nunggu. Apakah saya sengsara? Tentu tidak. Saya pun memacu langkah ke sebuah shopping mall tak jauh dari stadion. Window shopping, lalu duduk di coffee shop. Saya bersedia pergi nemenin Ucup ke stadion kan setelah liat peta dan menemukan ada shopping mall dekat stadion! Hehehe…

Setahun awal menikah kami habiskan di London. Tepatnya saya tinggal di London (sepenuhnya atas biaya pemerintah Inggris, cihuy!) sementara Ucup tinggal di Budapest, Hungaria. Ini terpaksa, setelah Ucup cari-cari kerja di London malah dapetnya di Budapest. Mungkin pikirnya, mending ambil kerjaan di Eropa Timur itu dari pada tinggal di London dengan status ‘ikut istri’. Apalagi uang beasiswa yang saya terima memang ngepas banget. Penerbangan London-Budapest cuma sekitar 2 jam, plus ada Easy Jet yang harga tiketnya murah meriah dan mudah (bookingnya). Okelah. Saya pun senang.

Jadwal kunjungan kami atur sesering mungkin. Saya yang waktu itu mahasiswa S2, jelas lebih fleksibel waktunya. Sementara Ucup harus cuti atau membujuk rayu rekan kerjanya untuk tukar shift. Dasar namanya gila bola, saban kali datang ke Inggris Ucup selalu mengisi waktu dengan nonton sepak bola, mengisi tujuan plesir dengan mendatangi stadion sepak bola, dan pergi ke pub yang ngadain nonton bareng sepak bola!

Baru belakangan saya tahu, Ucup selalu nyocokin jadwal kunjungannya ke Inggris biar pas sama jadwal pertandingan klub yang ia suka. So seeing me wasn’t his priority at all! Belum juga setahun kawin, saya harus menerima kenyataan kalau saya ternyata adalah istri kedua.

“Please meet my first wife. Her name is football… and darling, just never get jealous if I spend more Saturday nights with her,” kira-kira gitu deh kalimat yang muncul di kepala saya saat terpaksa rela ‘dikacangin’ Ucup demi nonton sepak bola.

Berikut kronologis proses penyadaran bahwa saya hanyalah menduduki tempat kedua di hatinya, setelah sepak bola *ooh… * :

Munich.

Pertama kalinya saya bengong melihat Ucup jejingkrakan gak karuan setelah tiba di Olympia Stadium untuk nonton Bayern Muenchen vs Dortmunt (cukup ajaib bahwa saya masih inget klub mana yang main). Saya pun segera beranjak ke pusat kota Munich, jalan-jalan sambil menunggu pertandingan selesai.

Amsterdam.

Ucup berfoto di setiap sudut stadionnya Ajax, di depan semua logo Ajax yang dia temui. Karir saya sebagai fotografer privat buat Ucup pun dimulai. Beberapa hari kemudian, Ucup tanpa sengaja mengover write foto-fotonya itu dengan foto lain! Dan saya pun bengong ngeliatin dia gulung-gulung dilantai menangisi foto-fotonya yang terhapus...

London.

Bersama ribuan England football fans, di sebuah taman yang luaaas kami nonton layar tancep pertandingan Inggris vs Paraguay di World Cup 2006. Namanya lagi summer gitu ya, saya pake rok dong! Summer dress ceritanya. Eh, ternyata rusuh! Para suporter itu berantem, sampe mecahin pintu kaca dan chaos total. Duuuuh…. Sumpah deh, enggak banget mesti mengevakuasi diri dari puluhan suporter bola yang ngamuk, sementara saya pake rok span!

Jakarta

Sudah jam 00.30 ketika kami parkir di halaman EP, sebuah pub di area Kemang. Ucup sekali lagi bertanya, “Beneran gak mau ikut masuk?” Saya hanya menggeleng, lalu mengatur sandaran jok mobil supaya enak buat rebahan dan mulai memejamkan mata. Ucup pun menyerahkan kunci mobil, segera melompat keluar mobil untuk nonton bola di pub itu.

Saya? Seperti biasa, tidur di mobil sambil nunggu pertandingan selesai… Much better than sitting with a bunch of guys who pay no attention to anything but the game and their beers!

With all its wicked ups and downs, I'm enjoying this ride!

Sumber gambar : sxc.hu

Jumat, Agustus 21, 2009

Cerita Kiriman: (setengah) lajang dan (setengah) menikah

Yup, that’s me!

Seingat saya, Saya selalu ingin menikah muda sejak SMP. Jangan tanya kenapa dan bagaimana bisa karena sebenarnya saya sendiri tidak tahu, yah mungkin karena ingatan manusia (baca: saya) seringnya tidak bisa menjangkau masa yang terlalu jauh di belakang dan tidak terlalu dramatis. Tapi kalau saya tahu efeknya pada kehidupan saya sekarang, saya pasti akan sangat mengingat alasan kenapa saya ingin menikah muda.

Mungkin… ini karena orang tua saya. Ibu saya menikah saat dia berusia 19 tahun (saat itu ayah saya berusia 29 tahun), lalu dia melahirkan kakak saya di usia 20 tahun, melahirkan saya di usia 22 dan adik saya yang paling kecil di usia 27. Saat kami – seluruh anak gadisnya – menginjak remaja, ibu saya terlihat seperti kakak saya yang paling tua. Walaupun tetap ada gap pemikiran (tentu saja! dia ibu dan saya anak kan?!?) tapi dia termasuk ibu yang sangat mengerti anak-anak gadis abege-nya ini.

Melihat rumah tangga orang tua saya, saya selalu berpikir kalau menikah muda itu menyenangkan. Ibu saya adalah seorang full time wife and mother, ayah saya pekerja di sebuah perusahaan yang memonopoli penyediaan listrik negara (kenapa sih ga bilang PLN aja?!), kami –anak perempuannya- juga punya prestasi yang cukup membuat orang tua saya bahagia dan moral kami juga baik, pokoknya semuanya serba keluarga bahagia versi jendela rumah kita, rumah masa depan, atau yah sinetron keluarga macam itulah.

Setelah cinta-cinta monyet masa SMP dan di awal-awal SMA, akhirnya sayapun jatuh cinta pada kakak kelas yang usianya dua tahun lebih tua dari saya, masa pacaran itu berlanjut terus sampai saya kuliah tingkat satu.

Empat tahun berpacaran, kekasih saya saat itu sudah lulus kerja dan bekerja di perusahaan milik orang tuanya sendiri (oh, saya belum bilang ya kalau pacar saya saat itu termasuk golongan “the man who has everythin, tapi setidaknya sekarang sudah tahu kan…) lalu mulailah “wejangan” dari orang tua yang…” sudah empat tahun pacaran, mau ngapain lagi?” dan “jangan kelamaan pacaran, nanti ada apa-apa” dan juga, “menikah itukan ibadah, kenapa harus takut? Udah yakin kan? Atau masih mau cari yang lain?”

Saya dan sang pacar saat itupun berpikir, “Ini sama sekali bukan ide yang buruk, malahan sangat baik…” dan dengan niat baikpun kami menikah.

Sangat benar kalau lajang dan menikah sama senangnya, sama repotnya. Tapi untuk saya saat itu, pernikahan bukan sebuah hal yang saya asumsikan dengan kebahagiaan apalagi cinta. Saat itu yang ada adalah permasalahan, air mata dan rasa sakit. Ya, ternyata masa pacaran hampir lima tahun tidak jadi jaminan kalau pernikahan akan bertahan lama dan cinta serta niat baik saja jauh dari cukup. Permasalahan yang dulu ada saat pacaran dan terlupa begitu saja karena rasa rindu, rasa takut ditinggalkan dan rasa tidak mau sendirian, kini jadi sangat sulit untuk dipecahkan. Apalagi saat anak kami lahir, anggota keluarga baru yang harusnya menjadi sumber kebahagiaan baru malah menjadi sumber rasa sakit dan masalah yang baru.

Akan butuh satu buku – yang depresif- kalau saya harus menceritakan masa pernikahan. Yang pasti, saya kemudian mengambil langkah untuk bercerai. Dengan wajah tegak dan hati yang dikuatkan dengan doa, saya mengurus segala urusan perceraian dan memperjuangkan pengasuhan anak, tanpa menuntut harta gono gini, tanpa meminta tunjangan ini itu.

Masa berlalu, dan inilah saya 7 tahun kemudian. Perempuan berusia 27 tahun dengan seorang anak laki-laki berusia 8 tahun yang terbiasa untuk hidup hanya dengan maminya yang (setengah) lajang karena tak punya partner hidup namun juga (setengah) menikah karena tetap hidup dengan tanggung jawab, kewajiban dan tentunya juga kebahagiaan seorang wanita yang sudah menikah.

Sekarang saya sering berpikir tentang saat dimana saya melajang dan juga saat dimana saya menikah. Pernah terlintas, kenapa saya tidak memilih untuk melajang lebih lama? Mungkin saat ini saya baru akan heboh mengurus pernikahan saya setelah sebelumnya menikmati masa muda bersama teman-teman saya. Mungkin saya kuliah lebih tinggi (walaupun sekarang saya juga lulusan dari Universitas Indonesia dengan IPK nyaris sempurna), mungkin saya bekerja lebih keras dan karir saya lebih tinggi.

Atau seharusnya saya berjuang lebih keras mempertahankan pernikahan saya, seharusnya saya bersabar, seharusnya saya percaya kalau orang akan berubah. Mungkin saat ini saya sudah mencapai impian terbesar hidup saya, menjadi istri, ibu rumah tangga dan penulis!

Tapi kemudian saya mengerti kalau segala sesuatu terjadi karena alasan dan selalu ada hal indah dibalik segalanya. Kalau saya memutuskan untuk tidak menikah, mungkin saya akan mengalami masa muda yang bergejolak dan penuh tawa, tapi saya tidak akan memiliki anak laki-laki yang kini jadi alasan saya untuk tetap berjuang dan tersenyum.

Kalau saya memutuskan untuk tetap menikah apapun alasannya, mungkin sekarang saya sedang menjadi pecandu kopi untuk meredakan beban pikiran (dulu saya sempat begitu), kurus karena tidak pernah napsu makan dan terus menerus merasa tidak bahagia. Mungkin saya tidak akan bekerja di tempat saya bekerja sekarang dimana saya bisa bertemu banyak orang-orang luar biasa yang menginspirasi hidup saya. Dan saya tidak akan pernah menyadari satu kalimat dengan pasti, “cobaan, rasa sakit, kekecewaan, apapun itu, kalau itu tidak bisa membunuh kamu, itu hanya akan membuat kamu makin kuat”

Saya telah memilih jalan hidup saya. Saya pernah menikmati senang dan repotnya jadi lajang dan juga hidup dalam sebuah pernikahan, dan kini saya sedang menjalani masa saya sebagai si (setengah) lajang dan (setengah) menikah. Sedikit lebih berat memang, saat tak ada pendamping sementara sang anak harus masuk rumah sakit (bahkan masuk sekolah pun cukup menegangkan bagi si setengah lajang dan setengah menikah), saat orang-orang senang menjadikan kita bahan diskusi atau obrolan di sela minum kopi atau saat ingin mendiskusikan kemana langkah saya akan dibawa (tentunya bersama seorang anak kecil dalam genggaman tangan).

Masa lajang dan menikah, sama senangnya, sama repotnya dan juga sama – sama harus disyukuri nikmatnya. Saya mungkin tidak akan pernah lagi bisa merasakan masa melajang, tapi saya tidak sabar untuk bisa menikmati lagi senang dan repotnya menikah. Saya tidak trauma kok, dan saya percaya Tuhan akan mengizinkan saya bahagia dalam pernikahan, satu kali lagi.

Picture credit : svilen001. Taken from : http://sxc.hu

-amila si (setengah) lajang dan (setengah) menikah-

Sabtu, Agustus 01, 2009

Cerita Kiriman Pembaca : The Chef

Aku menatap cermin. Good, you’re just look like ninja, Dinari! Kataku dalam hati. Baju lengan panjang, kaos tangan kulit punya Guruh-suamiku-dan scarf Armani oleh-oleh papa dari Milan yang kuikat menutupi setengah wajahku. Sorry pap, tapi aku memang gak pernah suka sama motifnya. Well, I guess I’m ready. Kutarik napas dalam-dalam dan kulangkahkan kakiku. Pelan-pelan kunyalakan apinya, dan ketika semakin panas, kurasakan tetes-tetes keringat mulai membanjiri. Oke, rileks Dinari, you can do it! Aku ambil tupperware di atas meja, kutuang isinya, dan langsung meloncat ketika mendengar suara “Sreeeeeeeeeeeng….” dari penggorengan. Nyaring sekali, dan oh percikan minyaknya begitu banyak, sampai-sampai aku tidak berani mendekat. Apalagi kemudian terdengar suara-suara letupan dari ayam yang kugoreng , sangat menakutkan. Makin lama, makin banyak percikannya dan semakin nyaring letupannya. I’m scared, I admit it. Dan Setelah suara percikan dan letupan mereda, aku mulai mendekat, dan langsung kumatikan apinya. Dengan takut-takut aku mulai membalik ayamnya, dan …gosong aja gitu ayamnya, sementara sisi sebaliknya masih mentah. Aku menghela napas, Honey kayanya malam ini kamu akan makan spaghetti bolognaise lagi.

Berawal dari status. Status facebooknya Guruh maksudku. It quite irritated me.

Guruh Satyawardana : Mom, you’re still the best chef, ever!

Apalagi teman-teman kami mulai berkomentar macam-macam, dari testimoni teman-teman Guruh yang memuji kepiawaian nyokapnya Guruh dalam memasak, ungkapan kekangenan sepupunya sama masakan nyokapnya. Dan tidak ketinggalan temen –temenku yang menyindir ketidakbecusanku di dapur. Aku sih cuma berkomentar singkat:

Dinari Andarany : @winda, eka, marina, teguh, lo tau kan gue ratunya tempat tidur, bukan di dapur ;p

Weekend kemarin aku sama Guruh menginap di rumah orangtua Guruh di Cibubur. Dan memang, Bunda Alya, nyokapnya Guruh bener-bener memanjakan lidah kami. Dari semur lidah, iga panggang, gurami asam manis, termasuk sambel goreng hati pete favoritnya Guruh terhidang di meja makan. Belum lagi camilannya, Bunda bikin Kroket, baked potatoes, chicken wings. Haduh pokoknya maknyus gila. Bayangkan aja selama 2 hari penuh 3x makan dalam sehari menunya beda-beda terus. Yang hebatnya lagi, kayanya Bunda tuh gak kelihatan repot meskipun hampir 3 jam sekali masak. Masaknya pun cepet banget, kayanya cuma sreng-sreng-sreng, plung-plung-plung, jadi deh, gak lama gitu masaknya. Kalo aku? Hehehe, aku memang kurang enjoy di dapur, kayanya kok repot, ribet, panas, apalagi kalo soal goreng menggoreng, gak bisa banget. Buktinya ya ayam gosong itu tadi. Sebenarnya bukan sekali dua kali aku mencoba untuk masak, dulu waktu trying to impress Guruh, untuk pertama kalinya aku masuk dapur.

Setelah berkonsultasi sama Nitya, bestfriend of mine, dia menyarankan aku bikin spaghetti bolognaise, gampang bgt masaknya. Cuma tinggal beli spaghetti, daging cincang, bumbu spaghetti botolan, saus tomat, sama keju, aku bahkan gak perlu ngiris-iris bawang,karena rasa bumbu botolannya udah oke banget menurutku. And I did it, Guruh terpesona. Dan akhirnya spaghetti bolognaise selalu jadi menu andalanku kalo lagi pengen manjain Guruh. Soal bosen sih, itu urusan dia, hehehe, yang jelas aku selalu ngeles dengan bilang…”Sayang, aku lagi pingin nostalgia masa pacaran niy, jadi aku bikinin spaghetti bolognaise …” alasan itu udah 3 kali aku pake selama 9 bulan ini kami menikah. Dan malam ini akan jadi keempat kalinya.

“ Waks? Lo mo bikin spaghetti lagi, gak naik kelas banget sih lo, disitu-situ aja, pantes Guruh masih adore banget masakan nyokapnya..” nitya mengejekku saat aku curhat lewat telepon

“ Aaaargh rese banget loo, gue lagi sensi nih, emang segitu pentingnya ya punya istri yang bisa masak? Lagian sepinter-pinternya gue masak tetep aja gak bakalan bisa nyaingin masakannya Bunda, she will always be the best chef ever..” kataku merajuk.

“ Duuh gitu aja ngambek, apa sih yang lo pikirin? Lo tuh beruntung banget punya mertua kaya Bunda Alya, baik banget orangnya, gak pernah marah sama menantu, gak pernah sok ikut campur, gak suka ngomentarin ini itu, jago masak lagi. Emang gue, punya mertua rese…” kata nitya lagi.

“Lhah kok elu jadi curcol sih? Walopun mertua lo rese, laki lo kan gak pernah banding-bandingin elu sama nyokapnya…” ujarku lagi. gini nih penyakit perempuan suka membanding-bandingin,dan justru seneng kalo merasa paling menderita, hahaha.

“hehehe, mumpung lo telpon bo, keceplosan curcol akhirnya..eniwe, selama ini kan elo nyante-nyante aja walopun lo gak suka masak. Guruh juga gak complain kan? Lagian kalo Guruh bikin status FB itu, I think, it doesn’t mean anything, gak berarti dia minta lo masak kaya nyokapnya. Dia cuma bilang, nyokapnya jago masak, that’s it. “

“tapi dua hari weekend kemarin tuh tiap saat dia muji-muji masakan nyokapnya mulu,dan dia lahap banget makannya, kaya orang kalap. Terus waktu dia bikin status fb itu, gue jadi makin teriritasi, apa iya penting banget kalo gue bisa masak?” uangkap ku lagi

“Halah ampun deh FB itu gara-gara status bisa bikin salah paham suami istri. Emang bener tuh kalo diharamin, gue dukung deh! Bok, tiap orang kan punya kelebihan dan hobi, hobi dan kelebihan lo adalah bikin accessories, dan gak semua orang bisa sekretif elo, and you make a lot of money from it.terus elo juga jagonya beberes, apartemen lo selalu rapih. Cuma elo gak hobi masak, itu aja. Gue yakin lo sebenarnya bisa, tapi kalo emang gak enjoy di dapur ngapain maksa. Kalo Guruh keliatannya lahap banget makannya ya wajar lah, kan jarang makan masakan rumahan, lo juga lahap kan makannya. Emang Bunda Alya jagonya…ya kan?” cerosos Nitya panjang lebar

“mungkin…” kataku tidak yakin.

“eh, aku tadi coba bikin ayam goreng asam manis…kayanya gampang, abis cuma ayam digoreng trus ditumis sama sausnya. Tapi bok, gila perjuangan banget goreng ayamnya. Sumpah gue kapok goreng ayam lagi, kaya gunung mau meletus..” lanjutku lagi.

“Hahaha bo, elu kan paling anti penggorengan, kebayang gue lo pasti make masker,malah klo ada helm lo pake helm deh buat ngegoreng” kata Nitya lagi

“hehehe tau aja lo…Nit, laki gue telpon nih, I’ll catch you later oke hun? Thanks a lot ya bok. Apalah gue ini tanpa elo, hehhee, muaaah”

“iyeeee…oke bye say..”

“yes honey..” jawabku begitu menyambar telepon.

“sayang, aku punya order besar buat kamu, Mbak Fibri punya klien yang suka banget mengoleksi kalung dan gelang etnik, pas dia lihat Mbak Fibri pake Kalung buatan kamu, dan nunjukin website kamu, dia langsung jatuh cinta, dan mau pesen banyak sekaligus. Dia minta kamu buat hubungi dia. Kata Mbak Fibri, dia juga punya koneksi ibu-ibu pejabat yang doyan banget sama kalung batu-batuan kaya yang kamu bikin.”

“Aaaaah…yang bener? senangnya…makasih ya hun, bilang makasih banyak juga buat Mbak Fibri…oke berapa nomernya?”

“aku sms in aja deh ya nomernya..udah ya, aku mau miting. Luv u”

“oke, luv u to”

Suddenly aku merasa happy lagi. Yep, I’m a jewelry artist, sebenarnya udah dari smp aku bikin-bikin accessories, kalung gelang, dan yang awalnya cuma untuk dikasih teman-teman, akhirnya jadi bisnis beneran. Tapi begitu sma, aku tergila-gila sama majalah, terutama fashion magazine, aku tertarik untuk melay out majalah, mendesign, dan fotografi. Akhirnya aku putuskan untuk masuk kuliah design grafis. Sempat satu tahun kerja di majalah fashion terkemuka, aku keluar. Karena tersiksa sama tekanannya. Apalagi kalo disuruh mendesign hal-hal yang berurusan sama iklan, bolak balik revisi tuh klien, dikiranya bikin design gampang apa? Apalagi kalo AE (advertising executive) nya iya-iya doang ama kliennya. Pengen gue cekek tuh AE. Anehnya disela-sela stress karena kerjaan itu, aku justru bikin accessories untuk menenangkan diri. Sampai akhirnya Mama dan kak Upi, kakakku menyarankan aku untuk lebih memperdalam hobiku. “Daripada Mama liat kamu ngeluh mulu, sering sakit, Mama juga ikutan stress..mending kamu tekuni aja hobi kamu, mama yakin bisa mendatangkan uang..” Dan sebagai support Mama dan Papa mengirimku ke Perancis untuk kursus perhiasan. Dalam perjalanan ke Perancis itulah, aku berkenalan sama Guruh yang mendapat beasiswa arsitektur di Perancis. Aku cuma setahun di Perancis, sementara Guruh dua tahun. Begitu dia pulang aku langsung dilamar dan enam bulan kemudian kami menikah.

Tit..tit..BB ku bunyi, sms dari Bunda ternyata,

“Dinari sayang, makasih ya satu set perhiasan yang km ksh kemarin bnyk bgt yang muji. Hari ini bunda pke ke Arisan, wah rame deh tmn2 bunda mujinya. Katanya bunda untung bgt punya menantu yg pinter bikin perhiasaan, namanya jg ibu2 paling semangt klo soal perhiasaan. Sebagai barteran nanti bunda suruh pak marno buat anterin cumi saus tiram.”

Aku tersenyum lagi, aaah kayanya gak penting aku bisa masak apa engga… as long as I can make my family happy with who I am…

Sumber gambar : Sxc.hu

Pengirim : Nina. S Subagyo

Jumat, Juni 26, 2009

Cerita Kiriman : "Curhat Tentang Menikah"

Ini sih sedikit mau berbagi cerita, siapa tau bisa menjadi bahan diskusi yang menarik. Emmm…ketika aku memutuskan untuk menikah ya karna sudah ada yang melamar aku pastinya, sudah merasa cocok dan aku merasa secure. So? Tunggu apa lagi kan???

Daripada pacaran jarak jauh terus, huh!!! Sangat melelahkan, dan penuh ketidakpastian.

Trus kata orang tua nggak baik pacaran terlalu lama. Mana di gosipin macem-macem lagi sama tetangga. Kalo udah nikah kayaknya aman dan tenang hatinya cie…..(so tau ya)

Dan yang paling penting sudah ada yang bertanggungjawab. Mau beli apa aja (perlengkapan wanita) ngga usah mikir-mikir lagi. Tinggal mengajukan proposal aja. Begitu pikirku saat itu.

Basically aku bahagia setelah statusku berubah. Suamiku baik banget dan sangat menyayangi aku.Tapi ada sedikit sesuatu yang terlintas dalam benakku. Ternyata menikah tuh kayak gini ya. Mesti bisa membawa diri saat berada di anatara keluarga suami. Nggak bisa sepenuhnya menjadi diri sendiri. Rada-rada so manis gitu dech. Menahan amarah dan tertawa lepas hahaha. Apalagi di awal menikah aku orangnya ngga biasa sarapan dan ngga terlalu suka banyak makan. Jadi suamiku kelaparan di pagi hari ya aku nggak ngeh hahaha

Aku memang dulunya cewe pemalas, nggak bisa masak, nggak suka di perintah dan nggak suka di atur. Ehh setelah menikah ya banyak banget task-task yang harus aku tunaikan. Dan memang sudah kewajibanku kan?Penyesuaianya lumayan lama sampai berat badanku turun lumayan drastis. Waktu lajang kan aku bekerja. Mungkin aku shock dengan new daily activity dan new environment and place. Ribet banget dech pokoknya.

Oya, samapai aku juga nggak memikirkan untuk punya anak loh. But gradually, naluri ku sebagai seorang wanita dan seorang istri tumbuh dengan sendirinya. Jadi lebih wise lah, meski kadarnya berbeda-beda ya. Finally, aku berfikir lagi kalo manusia itu memang harus berubah. Mungkin kalau aku sampai saat ini masih lajang aku akan tetap menjadi aku yang seperti dulu atau mungkin lebih buruk lagi. Singkatnya I just wanna say that I never regret with my decision.

People must change to be better. I’m married and very happy.

Warmth regards for “lajang dan menikah sama ribetnya club”

Erna

Minggu, Mei 31, 2009

Cerita Kiriman : “Saya Bukan Super Mama”


Saya, perempuan, 31tahun, menikah, 1 suami, dan 1 anak perempuan usia 2 tahun 4 bulan. Saya perempuan bekerja (working mom) juga ibu rumah tangga (full time mom).

Sebagai perempuan dengan status ganda, saya harus punya 'simpanan energi' untuk melalui hari-hari saya, yang panjang, padat, dengan sederetan to do list seharian.

Mulai bernyawa subuh-subuh dan terlelap tengah malam. Bersiap mengerjakan urusan rumah tangga, memberi makan si kecil hingga rapih, berkemas dengan tergesa-gesa untuk menuju tugas selanjutnya, ke kantor. Untung saya bukan perempuan pesolek, yang harus menyediakan waktu khusus untuk menggambar alis, menggambar bibir, memperindah wajah. Untunglah… hehe…

Ups....., setiap to do list yang selesai memberikan energi baru buat next list. Baik itu sederetan tugas rumah juga tugas di kantor. Selesai satu, menarik nafas dulu, atau meregangkan pinggang yang sedikit kaku, meneguk secangkir kopi, siap-siap untuk tugas selanjutnya. Itu pun, kalau tidak mendapat hardikan dari bos, untuk merevisi kerjaan. Tega deh si pak bos!!!

Yup... mungkin aktivitas saya –yang notabene bekerja, bersuami, beranak- bagi sebagian orang adalah standard, cetek, biasa aja, dan ga ada apa apanya. Mungkin, perempuan lain, punya aktivitas yang lebih wah, lebih oke, lebih keren, dan lebih mendatangkan decak kagum..

Hehe,.. Saya ga mentingin pendapat orang lain,kog. Saya, hanya mencoba bercerita sedikit saja bagian dari saya, yang mungkin bisa menjadi gambaran ibu bekerja yang harus membagi waktu 24 jam sehari. Kamu juga punya waktu 24 jam, kan?

Saya sangat bersyukur. Saya bahagia dengan hidup saya, yang sering tampak sebagai rutinitas biasa. Dari hari Senin ke Minggu. Dari subuh hingga tengah alam. Semua sama. Tidak ada hal yang istimewa. Mungkin, sesekali bisa ada perbedaan, itu pun kalau papa mengalah dengan rengekan dan rayuan saya, atau si kecil dea, untuk melenggang ke mall, sekedar cuci mata atau membeli kebutuhan rumah. Bisa juga, sekedar mengantar dea bermain kuda-kudaan di mall dekat rumah, naik bajaj pula.

Puji Tuhan. Saya selalu menjalaninya. Selalu berusaha lebih baik tiap hari. Mencoba tidak bersungut-sungut jika ada list yang terlompati, tak terlaksana, karena sesuatu hal. Juga, saat terkena siraman omelan di kantor, oleh si bos berkumis tebal. *tak boleh membawa kekesalan ke rumah*


Dari tugas sebagai istri dan ibu, saya masih pemula, yang harus banyak belajar. Belajar menjadi perempuan. Belajar menjadi ibu. Belajar menjadi istri.

Kendati, masakan saya belum lolos sensor dari lidah suami, tak membuat saya putus asa. Hari ini tak nikmat, coba lagi menu lain besok… Jika besok masih terasa hambar, berusaha terus semangat. Lusa masih terasa “dekat dengan laut” (alias keasinan), pantang mundur, coba terus.

Hehe.. Secara, saya tidak rutin memasak buat papa. mungkin mengakibatkan jam terbang memasak masih belum banyak. Tentu, istilah practice makes perfect, berlaku juga dalam hal ini, kan?

Belum lagi jika menyediakan masakan buat dea. Pfiuh...ini lagi kerjaan yang menguras energi tiap pagi jikalau week days , dan sepanjang hari jika week end. Mencoba resep ini itu, dilepeh disembur, dilahap habis, sudah menjadi warna tersendiri.. Ga apa, saya masih punya energi buat lebih baik lagi.. Komitmen untuk selalu belajar dan belajar, mudah-mudahan membuat saya tetap memiliki energi.

Saya bukan super mama. Saya masih terus belajar. Keinginan saya hanya sederhana. Saya hanya mau menjadi perempuan terindah di mata suami dan menjadi mama tersayang buat dea. Papa dan dea, dua manusia, penambah energi saya, yang sangat saya cintai.

gambar : http://gettyimages.com
Blog Widget by LinkWithin