Selasa, Januari 13, 2009

Si Lajang : Jadi, Kalo mau Kawin Nikah, Buruan!

"Susul dong, Mbak!" seru Bubi, sepupu saya yang umurnya masih tujuh belas. Sedari tadi ia berisik banget mengomentari cara menyetir saya yang santai. Bawel! Padahal sudah sempat saya ancam, kalau misalnya komentarnya nggak berhenti, saya turunin di tengah jalan.
"Bentar ah, masih penuh." saya berusaha memunculkan sedikit kendaraan dari balik truk pantura yang baknya bertuliskan 'Birahi Tak Tertahan.' Oh ya, sekarang kami menuju Bandung, setelah merayakan tahun baru keluarga dan ulang tahun Oma di Jogja. Keluarga kami semua melanjutkan kunjungan keluarga ke Jawa Timur, sedangkan saya punya rencana untuk ketemu Marco di Jakarta, dan lanjut ke Togian. Sedangkan Bubi, katanya sih, banyak tugas kuliah (tapi saya curiga, dia itu nggak tahan jauh-jauh dari pacarnya. Dasar ABG)

Whoops. Ada truk dari arah yang berlawanan. Saya kembali ke belakang truk.

"Iiiih... segitu mah masih sempat nyelip kaleeee..." celanya,""Payaaaah... payaaaah... payahhh..."
"Biaaaar... biaaaar... Biaaaar..." balas saya nggak mau kalah.
"Udah rentaaa... udah rentaaa... udah renta...."
"Berarti makin bijaksana... bijaksanaa... bijaksana..."
"Sini, biar gue yang nyetir aja..."
"GAK! Ntar tabrakan! Situ kan kalo nyetir suka ga bisa bedain antara boom boom car sama mobil beneran."
"Hmpf." Ia pun menyilangkan lengan di dada dan membantingkan punggungnya ke sandaran kursi penumpang,"Jogja-Bandung kalo lo yang nyetir bisa seminggu, Mbak."

Saya hanya nyengir.

Ehm, kalau dipikir-pikir, akhir-akhir ini saya semakin berhati-hati dalam bertindak. Selalu berpikir jauh ke depan, terutama soal risiko. Apa pun yang hendak saya lakukan, saya harus memastikan bahwa itu nggak membahayakan/merugikan diri saya sendiri dan orang lain. Bahkan kadang-kadang saya, sebelum bergerak, membuat SWOT Analysis dulu untuk rencana saya. :D

Padahal, dulu, waktu seumur Bubi. Duh. Jangan ditanya. Saya suka segala hal yang menyerempet bahaya. Kalau kata si Mamah, saya tuh ora nduwe udhel (nggak punya udel, sih artinya --- tapi itu semacam istilah kalau seseorang nggak punya rasa takut.). Jangankan mikir risiko --- masih pakai otak saja sudah sukur.

Euh, mungkin pertambahan umur membuat saya lebih bijaksana.

Atau...

jadi penakut yang nggak berani ambil risiko?

......

Seperti layaknya reuni keluarga di tahun baru, pertanyaan kapan kawin nikah membabi buta memberondong saya. Dan tahun ini, tidak seperti tahun sebelumnya, di mana saya selalu punya jawaban asal...

("santai, menopause masih jauh". Atau "Nikah? Yuk! Sekarang?". Atau *ini khusus buat yang terlalu reseh* "Ah, gue sih nungguin situ siap aja." -buat penanya cowok-, atau "Ah, gue sih nungguin laki situ siap aja" -buat penanya cewek-)

...saya memilih hanya tersenyum dan tidak berkomentar apa-apa.

Lalu, saya berbincang dengan Nesta (Ingat? Sepupu saya yang dicela-cela sepupu lain gara-gara parah dalam urusan keterampilan domestik?). Dia masih dua puluh tiga tahun. Menikah umur dua puluh satu.

"Mbak, emang Mbak nggak mikirin nikah?" tanya Nesta.
"Hm, kadang-kadang mikir, kadang-kadang nggak." saya nyengir.
"Kok bisa sih?"
"Ya bisaaa laaah."
"Sementara cewek-cewek di luaran, bahkan temen-temenku tuh pengen married banget."

Teman-teman Nesta. Artinya, cewek-cewek seumurannya.

Well, dulu waktu saya masih berumur awal dua puluhan, saya merasa sangat siap untuk menikah. Bahkan saya sempat tunangan. Tapi karena satu dan lain hal, bubar. Nah, keinginan menikah yang menggebu itu mulai padam saat saya melewati dua puluh tujuh --- terutama karena secara objektif saya melihat keadaan teman-teman saya yang menikah.

Menikah itu rumit. Buat saya. Dan saya nggak siap menanggung kerumitan itu. Kalau isu menikah diangkat, yang ada di benak saya, ya sejuta 'What if...".

Kalau ntar begini. Kalau entar begitu. Kalau entar begono.

Yah itu lah, sama dengan bertingkah gila-gilaan, saya jadi terlalu banyak mikir, untung-rugi, bahkan sampai bikin SWOT menikah dan melajang *yang mana sampai sekarang saya tetep ngerasa S dan O-nya lebih menyenangkan di melajang* :D

Ehm, jadi.. pointnya... kalau mau kawin, buru-burulah kawin. Makin muda umur makin baik, soalnya kau belum banyak mikir. *hahahaha.... saran menyesatkan*. Dan ketika kau menghadapi permasalahan dalam pernikahan, setidaknya kau sudah kawin dan harus menghadapi itu. Jangan seperti saya, menunda-nunda, jadi males kawin.

*bertanduk*

BTW, kenapa sih, orang-orang meributkan diksi menikah dan kawin? Sama aja, bedanya tipis. Kawin kan proses prokreasi, sedangkan menikah, proses prokreasi yang bersurat :D *pis ah*

Yah, Jogja Bandung kami capai dalam waktu 6 jam. Cepat? Oh tentu, soalnya begitu memasuki daerah Jawa Barat, kemudi diambil alih oleh Bubi.

Gila, cara Bubi nyetir ngebikin saya menyerukan Doa Bapa Kami berulang-ulang!

Haduh. Gusti. Tobaaaaat!

8 komentar:

Anonim mengatakan...

ora ndhuwe udhel apa rtinya bukan orang yang ga punya rasa cape ?

alexa mengatakan...

ehehe... ga tau juga, soalnya dengernya sih gitu (nggak punya rasa takut) artinya

bee mengatakan...

Aduh bo'... mau kawin, eh nikah, atau lajang, sama aja kale! Sama2 punya resiko, masing2 punya kelebihan dan kekurangan. Tinggal kitanya aja, lebih siap menerima resiko yg mana, cuma masalah pilihan aja. Wong diem aja juga punya resiko kok, apatah lagi menikah. :P

alexa yang jelas nggak bloon. mengatakan...

Aduh bo', ya iyalaah semua hal ada risikonya (pake 'i', bukan ‘e’, kalo kata temen saya yang editor), gue kan nggak bloon sampe nggak tau ini.. hehehe.

tapi bukannya emang ini reaksi yang wajar, kalo seseorang ada dalam satu kondisi/situasi yang menyamankan, mikirin kondisi yang belum dialami sama sekali, pasti ada rasa serem sama risiko. Pasti ada pertanyaan, ih ntar kalo begini, jadinya gimana? etc. Dan sikap ini (kalau saya pribadi sih) semakin parah begitu semakin dewasa. Jadi banyak mikir.

Gini deh, coba kalo situ, dari menikah, tiba-tiba disuruh mikirin bercerai? Oh, too harsh, misalnya, situ, dari kerja enak nyaman, disuruh mikirin tiba-tiba dipecat?

Yah, gitu deh mungkin, inti entri ini.

cipung mengatakan...

ya, bisa juga dipake 'rasa takut', tapi malah seringnya dipake buat 'rasa malu' jadi gak duwe udel maksudnya, tidak punya malu. hmm, baru ini malah aku dengar yang artinya 'gak punya rasa takut' hihi.. geser daerah dikit aja udah beda pengertiannya.

alexa mengatakan...

hihihi, ntahlah .. gw sih dengernya artinya seperti itu, beda daerah, beda arti kali, mungkin ada pembauran budaya *apa cobaaa*

Anonim mengatakan...

Kayanya pas saya ABG dulu juga tetep aja 'males' (gak kaya tmn2nya Nesta itu.. ;p) buat nikah! Hehehe..

-Lily-

faRiZqi mengatakan...

hehe, beda diksi menikah dan kawin emang rancu mbak...
adanya undang-undang perkawinan bukan pernikahan..
cuman adanya juga surat nikah bukan surat kawin, hehehee,,,

Blog Widget by LinkWithin