Meskipun saya nggak begitu senang nongkrong, tapi sesekali saya iyakan juga ajakan nongkrong beberapa kawan; yaaa, supaya saya tidak terlalu ketinggalan Jadi di sesi pernongkrongan terakhir dengan sekelompok kawan, saya mendengar bahwa kelompok yang itu sedang meributkan pacar salah satu dari mereka yang ketahuan selingkuh. Oh, yang dimaksud tentu saja tidak ada di sana yah. Biasanya kalau nongkrong kan begitu, curhat atau menceritakan tentang orang yang tidak ada di sana. Ngaku nggak? :))
Konon, perselingkuhan sang pacar diketahui lewat... e-mail-nya. Tidak diceritakan bagaimana si kawan ini bisa log in ke inbox sang pacar. Tapi canggih ya? Mendadak saya nggak mau cari gara-gara dengan si Mbak itu. Serem. Bisa buka-buka e-mail.
Lalu terbahaslah topik : pentingnya mengetahui password segala akun internet pasangan.
Salah satu dari mereka bilang, e-mail (dan akun-akun internet lain) adalah perkara pribadi dan rahasia individu; menurutnya, mau sudah pacaran atau suami istri, tidak berarti semuanya harus dishare, kita harus menyediakan satu ruang 'rahasia' untuk kita sendiri. Makanya orang ini menolak untuk memberitahukan password semua akun internet pribadinya pada pasangan; dan sekaligus juga tidak pernah meminta password akun apapun milik pasangannya.
"....bukan berarti dengan begitu gue berniat berselingkuh, ya? Tapi kalau semua dibagi, nanti lama-lama kita bisa kehilangan jati diri."
Ada yang menimpali, bahwa hubungan itu adalah masalah keterbukaan. Dengan memberi password akun internet adalah salah satu bentuk keterbukaan itu; untuk menunjukkan, tidak ada apapun yang disembunyikan di antara mereka. Orang ini, tentu saja memberikan password semua akun internetnya, dan mewajibkan pasangan untuk memberikan password akun-nya sebagai balasan. Dan secara berkala mengeceknya.
"... ya ini sih cara gue ya, untuk menjaga keterbukaan sekaligus mengantisipasi segala bentuk perselingkuhan..."
Lalu, yang lain membagi kisahnya. Ia dan pasangan membuat akun berdua, dari e-mail sampai facebook sampai blog. Twitteran saja yang nggak, karena mereka nggak twitteran.
Nah, kalau saya?
Baik-baik saja, terima kasih. Kamu? :D
Partner saya tahu sih password saya, gara-garanya ada yang mengirim e-mail pekerjaan, tapi saya tidak sedang berada di tempat di mana koneksi internet itu mudah. Ya sudah, saya minta tolong partner membukakan e-mail tersebut buat saya. Oh, saya pun tahu password e-mailnya, kasusnya sama, ada e-mail penting untuknya, tapi ia sedang tidak bisa bersentuhan dengan internet.
Jadi kami saling tahu password e-mail masing-masing tidak semata atas nama keterbukaan juga sih, atas nama ada sedikit kepentingan pribadi. Daripada kehilangan pekerjaan gara-gara telat buka e-mail ya bok? :))
Tapi saya nggak tahu password akun-akun lain miliknya. Dan merasa nggak perlu tahu. Paling kalau ada perlu, dia bakal kasih sendiri. :D Dan sebaliknya, dia juga nggak pernah tanya-tanya, dan jelas saja kalau semisal satu saat nanti saya perlu, ya saya kasih juga. :)
Nggak takut partner macem-macem lewat akun-akun itu? Yaaa, itu cuma e-mail. Itu cuma akun internet, sementara sebenarnya 'media' untuk macem-macem itu banyak, bukan cuma e-mail dan akun-akun internet saja, ada ponsel misalnya. Atau ada hotel *eh*
Trik-nya juga banyak, gimana pintar-pintarnya pelaku saja. Misal, menghapus jejak setelah mengirim-ngirim pesan yang tidak-tidak. Membeli ponsel khusus. Membuat e-mail baru. Dan sejuta trik lain.
Mengetahui password nggak menjamin keamanan hubungan dari orang ke-tiga juga sih. Mau dibilang meminimalisir kemungkinan, kata saya juga nggak, ini sih gimana orangnya dan ada banyak jalan menuju ke sana, buat yang memang pengin dan niat. Dan perkara keterbukaan, ah sutralah, nggak jamin juga kan kalau pasangan mau memberikan password-nya berarti ia sudah terbuka? Karena bikin e-mail dan akun-akun lain itu mudah, Kamerad! :)
Ya tapi nggak berarti boleh saja sembarang ngasih password juga sih ke pasangan, lihat dulu lah orangnya, kasih waktu beberapa lama untuk mengamati pacar. Yang namanya manusia, kan, tak luput dari kekhilafan, siapa tau satu saat kita khilaf milih pacar. :D
Kalau semisal berasa 'ada yang nggak beres', seperti cemburuan, insecure, manipulatif, saiko dan lain-lain, mending nggak dikasih, daripada tau-tau dia menyalah gunakan akun-akun kita untuk merugikan kita?
Jadi intinya, tau password akun-akun pasangan, nggak berarti aman dari perselingkuhan, tapi sembarangan ngasih password ya jangan juga.
Oh, selain hati-hati ngasih password akun-akun tersebut, hati-hati juga ngasih password ke.............. hati kita.
*EAAAAAAA*

