Di akun media sosial miliknya, ia bilang "Kalau kamu sudah lewat dari 18 tahun, masih tinggal sama orangtua, malu dong sama KTP"Kali lain ia menyebutkan"Tinggal sendiri itu melatih kemandirian seseorang sebagai manusia dewasa. Kasihan yang sudah dewasa tapi belum pernah ngerasain gimana hidup sendiri, kapan dewasanya?"
Baru juga tiga bulan dia keluar dari rumah orang tuanya, tapi lagaknya sudah sejuta. Duh, lama-lama saya beli juga deh!
Tentu saja saya tahu dia baru 3 bulan tinggal sendiri, di umurnya yang ke 30, karena memang dia heboh sekali membicarakan soal ini di akun media sosialnya. Dan sialnya, selalu status dia yang terjembreng di newsfeed saya setiap saya login di FB.
Ya seharusnya saya abaikan saja lah status-statusnya, tapi terus terang saya terganggu.
Apa sih 'menjadi mandiri' itu? Apakah dengan tinggal di luar rumah orangtua otomatis menjadikan seseorang itu mandiri? Bisa jadi sih, karena berada jauh-jauh dari rumah ortu, artinya kita harus pandai memanage diri. Er, kalau misalnya tinggal di luar rumah tapi masih sering disupport orangtua atau pacar, mandiri nggak? :D
Iya, saya masih tinggal bersama orangtua. Di usia yang ke-34. Mungkin buat si Mbak yang baru tiga bulan tinggal di luar rumah orangtua, kondisi saya menyedihkan.
Oh, tapi jangan salah, saya pernah kok, tinggal di luar rumah, ketika saya mendapat pekerjaan (sampingan atau project tambahan) di luar kota tempat saya tinggal, paling lama 2 tahunan. Dan berhubung pekerjaan utama saya semuanya di kota ini, ya begitu pekerjaan atau project tambahan tersebut selesai, ya sudah, pulanglah saya.
Apa saya ngerasa mandiri saat di luar rumah? Ya, biasa aja sih.
Alasan saya untuk tidak keluar dari rumah adalah karena orangtua saya punya prinsip, selama belum menikah, seorang anak --- kalau masih tinggal di kota yang sama--- tidak perlu tinggal berbeda rumah.
Saya pernah dalam satu titik merasa sudah waktunya saya keluar rumah, biarpun masih tinggal di kota yang sama. Di percobaan pertama, ketika saya kemukakan hal tersebut, eh ibu saya sedih dong! Bok! Saya sih paling nggak bisa ya melihat ibu (dan orang-orang terdekat) sedih. Jadi percobaan pertama gagal. Nggak tega.
Percobaan kedua, saya sedikit lebuh kekeuh, biarpun melihat ibu saya sedih, saya tetapkan pendirian. Akhirnya, beliau merelakan --- sambil mengatakan 'Sebenarnya nggak bagus juga, apa kata orang ntar, disangkanya hubungan kita nggak harmonis.'
Sempat deg. Tapi saya berkeras.
Dan benar dong, saya dengar selentingan bahwa hubungan keluarga kami tidak harmonis, yadda-yadda-yadda, dan orangtua saya diomongin. Eh saya juga diomongin sih, tapi bodo amat lah ya. Saya nggak terima kalau orangtua saya diomongin - disebut sebagai orangtua yang nggak bisa bikin anak betah di rumah, orangtua otoriter, orangtua inilah-itulah. Kampret. Sempat saya konfrontasi sih, tapi orangnya nggak ngaku. Tipikal. Namun, sungguh, hal tersebut membuat saya sedih. Nggak rela ya bok, orangtua diomongin yang nggak-nggak. jadi saya pulang lagi.
Lalu, suatu saat saya diberi kesempatan ke luar pulau. Mereka nggak masalah kalau soal itu. Jadi saya pergi dengan tenang. Eh, ditengah-tengah masa saya jauh dari mereka, kok ya mendadak saya mendengar mereka sakit --- dan saya nggak bisa pulang. Oh tentu, seluruh isi rumah bilang semua baik-baik saja, tapi hati saya nggak tenteram.
Ya pada akhirnya, saya memutuskan untuk sementara waktu tidak mau pergi jauh-jauh. Saya tidak mau membuat orangtua saya sedih. Saya tidak mau membuat orangtua saya diomongin. Saya tidak mau panik kalau ada apa-apa di rumah, dan saya tidak ada di sana.
Walaupun masih ada kemungkinan saya bakal pergi-pergi temporer lagi ke luar pulau sih. Ya kalau dapat kesempatan, kenapa nggak? :)
Begitu deh.
Kalau misalnya kemandirian hanya dinilai dari 'tinggal di luar rumah orangtua', ya tentu saja saya tidak mandiri.
Tapi sekali lagi, apa cuma itu parameter kemandirian?
Bagaimana dengan memenuhi seluruh pengeluaran sendiri yang sudah sejak lama saya lakukan, biarpun tinggal di rumah orangtua? Bagaimana dengan peran serta membantu pengeluaran rumah tangga? Bagaimana dengan pengambilan keputusan dalam hidup yang saya lakukan sendiri, sudah sejak lama (PLUS menerima segala konsekuensinya)? Bagaimana dengan memecahkan masalah sendiri setiap mendapatkan masalah? Dan masih banyak 'bagaimana' yang bisa saya tulis di sini, tapi tidak saya lakukan, karena bisa-bisa nggak selesai-selesai. :)
Apakah semua itu tidak dihitung sebagai aspek kemandirian?
Nggak ya, Mbak?
Ya wislah, kalau begitu. :)
sumber gambar : gettyimage.com
9 komentar:
paramater mandiri bagi setiap orang memang berbeda. Kalau menurut saya sih simple banget..., selama tidak merepotkan siapapun dan yang kalaupun ada yang direpoti dia tidak kerepotan dan happy.., ya sutralaahh..!! Daripada bicara tentang mandiri yang beda-beda ukurannya bagi setiap orang, saya pribadi lebih suka melakukan bagaimana membahagiakan lingkungan terdekat terutama keluarga...:-). Oya keluarga terutama orang tua biasanya malah senang loh kalau direpoti oleh anak (dalam beberapa hal). karena bagi mereka di situ mereka merasa dibutuhkan oleh anaknya :-)
GN : iya, bener. suka salah paham di sini, karena maksud kita ga mau repotin ortu, tapi yg ada mereka ngerasa ga dibutuhin :D
Hmm..kayaknya si "itu" memang udah kepengen "bebas" dari dulu, mbak, makanya ngomongnya begitu. Selama ini yang aku temui dari teman-teman yang ngomongnya "begitu" itu ya karena sebenarnya pengen bilang "enak lho tinggal sendiri. bebas."
Saya lebih sepakat dng parameter di paragraf terakhir, mandiri itu ga harus selalu tinggal di luar rumah ortu. Kecuali bagi mereka yg memang merantau jauh ke negeri orang.
Sudah 4 tahun pisah sama ortu karena kuliah, saya ndak merasa mandiri karena uangnya juga masih dari rumah.
Setelah lulus kerja di luar kota juga masih ngerasa sering ngerepotin. Kalau kepengen masakan mama pasti minta kirim.
Kayaknya kalo tinggal di rumah dan bekerja di area situ, baru bener-bener bisa mandiri dan ga nyusahin.
intinya: Hidup sendiri itu, bukan indikator utama mandiri. :)
*malah curhat
Empat bulan yang lalu saya diterima kerja di luar kota, dan senang luar biasa bisa 'bebas' merasakan apa itu mandiri, ya, tentu hanya dengan parameter mandiri = hidup sendiri. Sudah rewel keliling2 cari kost juga, tapi tidak jadi.
Saya akhirnya mikir tentang esensinya lagi dengan kebanggaan saya berada di luar kota dengan 'bebasnya' itu. Saya buat perhitungan bahwa keputusan saya sepertinya akan merugikan banyak pihak. Saya tidak bisa nabung buat bantu keluarga saya. Tinggal di kota sendiri bisa ngirit :P
Jadi, memutuskan mandiri pun bagi saya bukan saja tentang hidup buat diri sendiri saja, tapi tentang orang-orang yang dekat kita juga*ceritanya sih ppkn banget pke rela berkorban segala :P
Saya nge-kos sejak 3 tahun terakhir, Justru sejak ortu dateng ke Jakarta. Yang tinggal sama mereka justru kakak saya .. saya, si perempuan bungsu malah memilih untuk keluar. Bukan kerena mo mandiri, tapi karena jarak yang kelewat jauh dengan trafic jakarta yang bikin stess. So, klo parameternya hanya mandiri atau nggak, brarti temennya mba' Okky yg bawel soal mandiri itu, hanya mendambakan keluar rumah. Seperti burung yg baru pertama kali keluar sangkar ... senengnya bukan main .. klo dah ketemu elang, baru deng ngumpet lagi .. hihi .. biarken aja mba .. blon kena' batunya tuh dia .. hehe ..
btw, coba cek status updatenya, liat ada segitiga kecil di pojok kiri atas gak? .. klo ada, klik deh .. biar gak sering muncul .. atau, ke pojok kanan atas ada drop down list, bisa pilih unsub dari org tsb atau unsub dari update statusnya dia .. biar bersih news feednya .. hehe ...
Mandiri menurut saya ukurannya tidak dibatasi apakah seseorang didalam atau diluar rumah. Tapi tergantung sikap dan cara pandang seseorang mengatasi setiap persoalan dihidupnya. Disitulah dia bisa memilah, mana persoalan yg bisa diatasi sendiri tanpa melibatkan orang lain, dan mana yang harus melibatkan orang lain... kalo semua hal untuk urusan hidupnya dari hal kecil sampe hal besar mengandalkan orang lain, hehehhehehheh..kebayang gak bok?..misalnya pipis, harus dibukakan pintu dan celana. (balita bolehlah).kagak mungkin khan?.... atau masih ada ortu kita , untuk mandiri,kita blm nikah terus kita ngontrak rumah disekitar rumah ortu, ya anehlah..minimal menurut aku... jgn salahkan org kalo jadi muncul pandangan negatif dari kasus tersebut.... pasti mubazirlah tindakan hal yg seperti itu... Kita tercipta dari kerja sama laki-laki dan perempuan, terlahir dengan bantuan tangan-tangan lain, Makanya hidup kita bukan milik kita sendiri... milik orang lain juga..terutama yang mengasihi kita..hehehehhehhee...
Ini tahun ke 6 saya gak tinggal sama orang tua, dan entah berapa taun lg, gara2 tuntutan penempatan kerja. Kalo itu yg dibilang mandiri, rasa rasanya saya mau deh ngelakuin apaaa aja untuk tidak jadi mandiri
Poskan Komentar