Selasa, Desember 20, 2011

Gelisah Umur

7 komentar
'Haduuuh, gue bentar lagi ulang tahun, gue udah tuaaaaa!'

Satu saat, tak berujung pangkal, seorang kenalan mengeluarkan kalimat demikian, dari mimiknya saya menangkap kegelisahan. Kayaknya sih pengin ditanya 'ultah lo kapan sih?' - er, ih saya suudzon aja ya? Penyakit. :)) Mungkin dia memang benar-benar gelisah dengan umurnya.

Dan alih-alih bertanya 'Kapan sih ultah lo?', saya bertanya 'Emang lo ultah yang ke berapa?'. Ya, karena memang kenalan, ya saya nggak taulah umurnya.

'Dua puluh satu tahun.'

Dan saya terdiam.

Kalau dia bilang umur dua puluh satu itu tua..... APA KABAR SAYA YANG BERUMUR.... TIGA PULUH EMPAT TAHUN? *ga sante*. Iya, kalau 21 tahun itu tua, maka tiga puluh empat tahun itu manula? Lalu empat puluh tahun ke atas itu apa? Fosil?

Eh mendadak ingat, putri seorang kawan yang berusia 30-an - er, maksudnya kawan saya yang berusia 30-an, bukan putrinya, pernah bertanya,"Ibu, waktu Ibu masih SD kayak aku, Dinosaurus masih ada?"

Anyway, hal ini sempat jadi pembicaraan di antara saya dan beberapa kawan berusia 30++ lain. Kami menertawakan dia (dan beberapa orang yang berusia 20-an awal lain) yang sudah merasa usia mereka tua. Ya biasalah, generasi yang lebih tua, kan pasti selalu mencela generasi yang lebih muda, kayak nggak pernah berusia muda (dan mungkin bertingkah lebih parah :D )

Selama beberapa hari, kejadian ini sempat membuat saya berpikir. Pernahkah saya gelisah soal umur?

Ternyata pernah dong! Tapi kegelisahan itu datang ketika saya berumur 28-an tahun. 'Mampus, udah setua 28 tahun dan belum melakukan apa-apa'.

Waktu itu saya melihat orang di sekeliling saya seperti sudah tahu mau apa; hidup mapan dan tenang (dengan versi masing-masing). Dan semua melakukan banyak hal untuk mencapai tujuannya, ada yang menikah, ada yang mengejar karir, ada yang wirausaha, ada yang nyicil rumah atau mobil, ada yang buka deposito. Ada yang investasi emas, tanah dan US$.

Saya? Main-main aja, melakukan segala sesuatu atas nama lucu-lucuan.

Oh saya kerja sih, kerja utama dan sampingan lancar, tapi ya itu dilakukan dalam rangka bertahan hidup saja. Nggak ada tujuan. Boro-boro investasi, nabung aja nggak pernah. Setiap bulannya saldo saya selalu berjumlah minimal. Kawin? Ogah! Wirausaha atau mengejar karir? Males.

Hidup mapan di masa tua nggak pernah jadi tujuan saya. Saya hanya punya satu impian sejak remaja : ingin mengajar di pelosok atau di daerah konflik. Gaya ya? Ini akibat semasa remaja saya mendengar dan melihat aksi heroik para relawan-relawan tersebut.

Lalu, kenapa saya nggak melakukan usaha untuk meraihnya? Karena saya kerap berpikir 'Masih ada waktu'. Dan ketika mencapai umur 28, saya belum melakukan apapun untuk mewujudkan keinginan saya, paniklah saya. Bagaimana nanti kalau... tidak sempat lagi? Pasti saya menyesal seumur hidup.

Secara impulsif, beberapa bulan setelah umur saya memasuki 28, saya pun melamar menjadi relawan (serela-relanya tanpa dibayar) ke sebuah LSM radikal yang bergerak di bidang perdamaian dan ditempatkan di Timor Leste. Semua orang bilang saya gila.

Ya... maab. :P

Saya melewati masa kerja selama satu setengah tahun di sana --- senang, walaupun hidup mendadak ribet, tapi kegelisahan saya sirna sudah. Saya sudah melakukan mimpi saya sejak remaja. Walaupun pada akhirnya, setelah masa kontrak berakhir, saya kembali ke kota dan bekerja seperti sebelumnya karena *uhuk* butuh duit. :))

Pada intinya, kegelisahan umur untuk kasus saya berkaitan dengan pencapaian. Sudah melakukan apa di umur sekian?

Mendadak saya nggak jadi mencela mereka-mereka yang baru berumur 20an awal tapi sudah merasa tua. Mungkin mereka gelisah juga soal pencapaian --- dan mereka lebih keren, nyadar untuk nggak buang-buang waktu di usia yang lebih muda dari saya. :)

Oh, seperti biasa, iseng saya melempar pertanyaan ini di twitter :

Sebenernya apa sih yg membuat orang ga nyaman dengan menua?

Ada yang bilang 'keriput dan ubanan'. Okay. Untung sampai sekarang saya tidak pernah kuatir soal keriput dan uban. Kenapa musti takut sama hal yang nggak mungkin dihindari? Walaupun tetap aja sih saya senang kalau ada yang nanya 'Kuliah di mana Dik?' - baru kejadian dong! *bangga*

Tapi kebanyakan menjawab : Pencapaian, apa yang sudah dilakukan untuk mencapai cita-cita. TUH KAN!

Eh tapi ada satu jawaban menarik dari @agenmossad : makin dipaksa jadi dewasa, susah mo nakal :P. INI BENER BANGET! Semakin menua, tuntutan dan tanggung jawab makin gede ya bok! Males banget. :))

Kalau kamu, apa sih yang membuat kamu gelisah ketika umurmu bertambah?

Life is too short to compromise time and resources... it may be tempting and more comfortable to just keep your head down, plod along, and appease those who demand: "Sit down and shut up," but that's the worthless, easy path; that's a quitter's way out. And a problem in our country today is apathy. It would be apathetic to just hunker down and "go with the flow." Nah, only dead fish go with the flow.
(Sarah Palin)

Sumber gambar : gettyimages.com

Kamis, Desember 08, 2011

Jodohnya di Facebook

2 komentar

Asisten rumah tangga terakhir ibu saya canggih. Tidak bisa lepas dari hp-nya. Sampai harus ada peraturan, kalau kerja, tinggalkan hp; bukannya apa-apa, beberapa kali terjadi kecelakaan, gara-gara si asisten ini terlalu asyik dengan hp. Masakan gosong? beberapa kali, pakaian gosong? Nyaris. Lupa angkat jemuran, sampai pakaian yang kering jadi basah lagi? Beberapa kali. Ibu saya sampai frustasi. Setelah diomeli, akhirnya ia menurut, tidak 'mainan' hp saat kerja. Tapi tetap saja ia tidak bisa jauh-jauh dari hp. Minimal ia memutar lagi di mp3 player hp qwerty murahnya. Lagu yang sering dipasangnya ya lagu-lagu SM*SH, Justin Bieber, ST12, Armada, lalu apa tuh, yang ada lirik 'Gak gak kuat'? Ya pokoknya itulah. Ia suka semua lagu-lagu yang diputar di acara musik di TV Swasta pagi-pagi. Oh well.

Sebut saja namanya Usi.

Iseng saya pernah bertanya, kenapa sih dia nggak bisa lepas hp?

Dia bilang, facebook-an.

Wah, Usi memang canggih :)

Saya tanya 'Twitteran nggak?' dan 'ngeblog nggak?' . Dia nggak tau twitter, dia nggak tau blog; dan penasaran, tapi saya putuskan untuk tidak memberi tahunya. Ya gimana dong, hanya dengan facebook-an saja semua makanan dan pakaian hampir gosong, gimana kalau dikasih tau? :D

Sebulan yang lalu mendadak Usi meminta izin pada ibu saya. Izin apa? Izin resign. Alah, resign. Ia meminta izin untuk keluar.

'Saya mau menikah.'

Sewaktu mendengar itu, ibu saya mengerutkan kening. Nikah? Pacarnya yang mana? Karena selama setahun kerja di rumah kami, tidak sekalipun kami melihatnya 'diapeli'. Dan duluu, ibu pernah bertanya, apa ia punya pacar? Katanya sih nggak.

Nah, jadi, menikahnya sama siapa dong?

'Ada. Orang Subang.' jawabnya.

Kapan dan bagaimana ketemunya? Tanya ibu saya.

Usi bilang, ia berpacaran dengan 'calon' suaminya sudah sebulan. Ketemunya di... Facebook.

Saya dan ibu saya berpandangan. Ketemu di facebook, katanya. Saya pun bertanya, sudah pernah bertemu?

Dia bilang, belum.

Aduh. Baiklah.

Ya, serta-merta saya dan ibu saya melarangnya. Oh, bukan, bukan kami melarangnya keluar untuk menikah, tapi kami melarangnya mengambil keputusan secepat itu. Kami meminta agar ia bertemu dulu, penjajakan dulu. Ya gimana ya, kan ada istilahnya, on the internet, nobody knows that you are a dog. Kami takut saja, Usi ternyata ketipu; ternyata sang calon saiko, misalnya. Kan serem? Sebagai sesama perempuan, kami hanya berusaha melindungi dengan memberikan beberapa pandangan.

Namun Usi kekeuh-jumekeuh. Yaa, namanya orang sedang jatuh cinta ya, mau dikasih tau apa saja, pasti masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Dia malah marah. Dia, sambil berkaca-kaca, berusaha memberitahu kami bahwa sang calon itu pria yang luar biasa baik dan bertanggung jawab. Bahwa ia jatuh cinta padanya.

Ya wiiisssss, dilarang nggak bisa, ya monggo.

...

Selama beberapa saat, kami berusaha menahan Usi, tapi yang ada perempuan berusia duapuluh tahunan awal tersebut malah manyun-semanyun-manyunnya.

Ibu saya pernah bertanya dengan bingung, kok bisa ya jatuh cinta dari internet? Sama orang yang belum ketemu?

Ibu saya --- yang males internetan --- menganggap bahwa hal ini terjadi karena pendidikan Usi yang (maaf) nggak tinggi. Jadi mudah dikibulin, kata ibu.

Terus terang saya nggak setuju. Karena saya pernah melihat banyak kasus, orang-orang yang jatuh cinta via internet; ada yang ketipu pula, dan para korban, ada yang berpendidikan tinggi!

Saya sih merasa, hubungan-hubungan antar-individu via internet sangat memungkinkan tumbuhnya perasaan 'suka' secara instan. Kita secara cepat masuk dalam 'keintiman'. Dan ini nggak (terlalu) ada hubungannya dengan tingkat pendidikan.

Okaay, jadi, saya sempat bikin survey kecil-kecilan di twitter, tapi kayaknya saya salah bikin pertanyaan.

Menurut kamu, apa sih penyebabnya orang bisa jatuh cinta online (tanpa harus ketemu dulu)?
Sebenarnya yang saya tanyakan, ada proses atau apa yang terjadi, sampai orang bisa jatuh cinta online. Tapi jadinya banyak banget yang menjawab 'karena nyambung', 'ngobrolnya asyik', 'cocok' dan jawaban sejenis.

Cuma dari jawaban-jawaban survey, saya mendapat gambaran - orang bisa jatuh cinta dengan orang lain karena merasa nyambung, cocok. Ya, untuk mencapai fase 'cocok', sebelumnya ya harus merasa 'nyaman' berada dekat-dekat dengan orang itu, menjadi apa adanya.

Di dunia online, merasa 'nyaman' itu mudah, ya tinggal duduk depan PC/laptop masing-masing, pakai daster atau baju gombal dekil, lalu ngobrol deh. Belum mandi, bau, ya nggak masalah. Atau kalau memanfaat fasilitas webcam, ya bedakan/sisiran dikit lah ya.

Sementara di dunia nyata, untuk mencapai tahap 'nyaman', prosesnya relatif lebih panjang/lama. Ih ngaku aja deh, kalau dekat-dekat dengan kecengan kita jaim kan? :P

Mau ketemuan bingung cari baju apa (jangan keliatan terlalu usaha, tapi jangan asal). Mau ketemuan bingung dandan gimana (harus keliatan tjantik, tapi jangan menor. no make up make up deh.). Takut salah omong. Takut melakukan hal bodoh. Takut kentut. Takut ini - itu.

Lalu ada permainan pikiran. Apa sih yang bisa kita andalkan dari interaksi secara maya dengan seseorang? Yang ada hanya jendela cakap maya, teks dan emoticons, kan? Karena tidak bertemu sosoknya secara langsung, memerhatikan gerak-gerik non verbal-nya, pikiran seseorang kemudian mengkonstruksi gebetan mayanya berdasarkan apa yang ditemukan selama proses interaksi maya tersebut. Dari kumpulan foto-foto aktivitasnya di facebook, cara ia menulis, cara ia menanggapi opini, gerak-gerik tundanya via webcam (yang kadang membeku), seseorang menciptakan 'dia' berdasarkan pikirannya.

Buat yang jatuh cinta online, siapa sih sebenarnya sosok yang 'dijatuhi-cinta' itu? Selama belum ketemu dan berinteraksi secara intensif di non dunia maya, jelas 'dia' itu sekedar 'ide/konsep'. (Sudah pasti ide/konsep-nya indah ya bok!)

'Merasa nyaman' pada '(konsep) orang yang keren' ya pasti ujungnya jatuh cinta.

Ya gitu deh, saya sama sekali nggak mencela orang yang jatuh cinta secara online, karena hal ini mungkin banget kejadian, di era di mana --- mencuplik kata kawan saya, Jensen Yermi --- orang kebanyakan hangout di dunia maya dibanding di dunia nyata

Oh, saya sendiri pernah kok, jatuh suka (dan jatuh cinta. ahaaay) sama sosok yang saya temui di internet. Itu sih duluuu banget, zaman-zaman saya baru kenal internet dan akteip chatting. Biasalah, euforia.

......

Akhirnya, Usi keluar. Ia pulang membawa barangnya dengan wajah sumringah. Ya miriplah seperti pada umumnya perempuan yang sedang jatuh cinta.

Kami cuma berharap, orang tersebut memang beneran jodohnya.

Blog Widget by LinkWithin