Kamis, Desember 08, 2011

Jodohnya di Facebook


Asisten rumah tangga terakhir ibu saya canggih. Tidak bisa lepas dari hp-nya. Sampai harus ada peraturan, kalau kerja, tinggalkan hp; bukannya apa-apa, beberapa kali terjadi kecelakaan, gara-gara si asisten ini terlalu asyik dengan hp. Masakan gosong? beberapa kali, pakaian gosong? Nyaris. Lupa angkat jemuran, sampai pakaian yang kering jadi basah lagi? Beberapa kali. Ibu saya sampai frustasi. Setelah diomeli, akhirnya ia menurut, tidak 'mainan' hp saat kerja. Tapi tetap saja ia tidak bisa jauh-jauh dari hp. Minimal ia memutar lagi di mp3 player hp qwerty murahnya. Lagu yang sering dipasangnya ya lagu-lagu SM*SH, Justin Bieber, ST12, Armada, lalu apa tuh, yang ada lirik 'Gak gak kuat'? Ya pokoknya itulah. Ia suka semua lagu-lagu yang diputar di acara musik di TV Swasta pagi-pagi. Oh well.

Sebut saja namanya Usi.

Iseng saya pernah bertanya, kenapa sih dia nggak bisa lepas hp?

Dia bilang, facebook-an.

Wah, Usi memang canggih :)

Saya tanya 'Twitteran nggak?' dan 'ngeblog nggak?' . Dia nggak tau twitter, dia nggak tau blog; dan penasaran, tapi saya putuskan untuk tidak memberi tahunya. Ya gimana dong, hanya dengan facebook-an saja semua makanan dan pakaian hampir gosong, gimana kalau dikasih tau? :D

Sebulan yang lalu mendadak Usi meminta izin pada ibu saya. Izin apa? Izin resign. Alah, resign. Ia meminta izin untuk keluar.

'Saya mau menikah.'

Sewaktu mendengar itu, ibu saya mengerutkan kening. Nikah? Pacarnya yang mana? Karena selama setahun kerja di rumah kami, tidak sekalipun kami melihatnya 'diapeli'. Dan duluu, ibu pernah bertanya, apa ia punya pacar? Katanya sih nggak.

Nah, jadi, menikahnya sama siapa dong?

'Ada. Orang Subang.' jawabnya.

Kapan dan bagaimana ketemunya? Tanya ibu saya.

Usi bilang, ia berpacaran dengan 'calon' suaminya sudah sebulan. Ketemunya di... Facebook.

Saya dan ibu saya berpandangan. Ketemu di facebook, katanya. Saya pun bertanya, sudah pernah bertemu?

Dia bilang, belum.

Aduh. Baiklah.

Ya, serta-merta saya dan ibu saya melarangnya. Oh, bukan, bukan kami melarangnya keluar untuk menikah, tapi kami melarangnya mengambil keputusan secepat itu. Kami meminta agar ia bertemu dulu, penjajakan dulu. Ya gimana ya, kan ada istilahnya, on the internet, nobody knows that you are a dog. Kami takut saja, Usi ternyata ketipu; ternyata sang calon saiko, misalnya. Kan serem? Sebagai sesama perempuan, kami hanya berusaha melindungi dengan memberikan beberapa pandangan.

Namun Usi kekeuh-jumekeuh. Yaa, namanya orang sedang jatuh cinta ya, mau dikasih tau apa saja, pasti masuk kuping kiri, keluar kuping kanan. Dia malah marah. Dia, sambil berkaca-kaca, berusaha memberitahu kami bahwa sang calon itu pria yang luar biasa baik dan bertanggung jawab. Bahwa ia jatuh cinta padanya.

Ya wiiisssss, dilarang nggak bisa, ya monggo.

...

Selama beberapa saat, kami berusaha menahan Usi, tapi yang ada perempuan berusia duapuluh tahunan awal tersebut malah manyun-semanyun-manyunnya.

Ibu saya pernah bertanya dengan bingung, kok bisa ya jatuh cinta dari internet? Sama orang yang belum ketemu?

Ibu saya --- yang males internetan --- menganggap bahwa hal ini terjadi karena pendidikan Usi yang (maaf) nggak tinggi. Jadi mudah dikibulin, kata ibu.

Terus terang saya nggak setuju. Karena saya pernah melihat banyak kasus, orang-orang yang jatuh cinta via internet; ada yang ketipu pula, dan para korban, ada yang berpendidikan tinggi!

Saya sih merasa, hubungan-hubungan antar-individu via internet sangat memungkinkan tumbuhnya perasaan 'suka' secara instan. Kita secara cepat masuk dalam 'keintiman'. Dan ini nggak (terlalu) ada hubungannya dengan tingkat pendidikan.

Okaay, jadi, saya sempat bikin survey kecil-kecilan di twitter, tapi kayaknya saya salah bikin pertanyaan.

Menurut kamu, apa sih penyebabnya orang bisa jatuh cinta online (tanpa harus ketemu dulu)?
Sebenarnya yang saya tanyakan, ada proses atau apa yang terjadi, sampai orang bisa jatuh cinta online. Tapi jadinya banyak banget yang menjawab 'karena nyambung', 'ngobrolnya asyik', 'cocok' dan jawaban sejenis.

Cuma dari jawaban-jawaban survey, saya mendapat gambaran - orang bisa jatuh cinta dengan orang lain karena merasa nyambung, cocok. Ya, untuk mencapai fase 'cocok', sebelumnya ya harus merasa 'nyaman' berada dekat-dekat dengan orang itu, menjadi apa adanya.

Di dunia online, merasa 'nyaman' itu mudah, ya tinggal duduk depan PC/laptop masing-masing, pakai daster atau baju gombal dekil, lalu ngobrol deh. Belum mandi, bau, ya nggak masalah. Atau kalau memanfaat fasilitas webcam, ya bedakan/sisiran dikit lah ya.

Sementara di dunia nyata, untuk mencapai tahap 'nyaman', prosesnya relatif lebih panjang/lama. Ih ngaku aja deh, kalau dekat-dekat dengan kecengan kita jaim kan? :P

Mau ketemuan bingung cari baju apa (jangan keliatan terlalu usaha, tapi jangan asal). Mau ketemuan bingung dandan gimana (harus keliatan tjantik, tapi jangan menor. no make up make up deh.). Takut salah omong. Takut melakukan hal bodoh. Takut kentut. Takut ini - itu.

Lalu ada permainan pikiran. Apa sih yang bisa kita andalkan dari interaksi secara maya dengan seseorang? Yang ada hanya jendela cakap maya, teks dan emoticons, kan? Karena tidak bertemu sosoknya secara langsung, memerhatikan gerak-gerik non verbal-nya, pikiran seseorang kemudian mengkonstruksi gebetan mayanya berdasarkan apa yang ditemukan selama proses interaksi maya tersebut. Dari kumpulan foto-foto aktivitasnya di facebook, cara ia menulis, cara ia menanggapi opini, gerak-gerik tundanya via webcam (yang kadang membeku), seseorang menciptakan 'dia' berdasarkan pikirannya.

Buat yang jatuh cinta online, siapa sih sebenarnya sosok yang 'dijatuhi-cinta' itu? Selama belum ketemu dan berinteraksi secara intensif di non dunia maya, jelas 'dia' itu sekedar 'ide/konsep'. (Sudah pasti ide/konsep-nya indah ya bok!)

'Merasa nyaman' pada '(konsep) orang yang keren' ya pasti ujungnya jatuh cinta.

Ya gitu deh, saya sama sekali nggak mencela orang yang jatuh cinta secara online, karena hal ini mungkin banget kejadian, di era di mana --- mencuplik kata kawan saya, Jensen Yermi --- orang kebanyakan hangout di dunia maya dibanding di dunia nyata

Oh, saya sendiri pernah kok, jatuh suka (dan jatuh cinta. ahaaay) sama sosok yang saya temui di internet. Itu sih duluuu banget, zaman-zaman saya baru kenal internet dan akteip chatting. Biasalah, euforia.

......

Akhirnya, Usi keluar. Ia pulang membawa barangnya dengan wajah sumringah. Ya miriplah seperti pada umumnya perempuan yang sedang jatuh cinta.

Kami cuma berharap, orang tersebut memang beneran jodohnya.

2 komentar:

Anonim mengatakan...

mudah2an usi gak diculik

okke 'sepatumerah' mengatakan...

@anonim
Nah itu dia.

Blog Widget by LinkWithin