'Haduuuh, gue bentar lagi ulang tahun, gue udah tuaaaaa!' Satu saat, tak berujung pangkal, seorang kenalan mengeluarkan kalimat demikian, dari mimiknya saya menangkap kegelisahan. Kayaknya sih pengin ditanya 'ultah lo kapan sih?' - er, ih saya suudzon aja ya? Penyakit. :)) Mungkin dia memang benar-benar gelisah dengan umurnya.
Dan alih-alih bertanya 'Kapan sih ultah lo?', saya bertanya 'Emang lo ultah yang ke berapa?'. Ya, karena memang kenalan, ya saya nggak taulah umurnya.
'Dua puluh satu tahun.'
Dan saya terdiam.
Kalau dia bilang umur dua puluh satu itu tua..... APA KABAR SAYA YANG BERUMUR.... TIGA PULUH EMPAT TAHUN? *ga sante*. Iya, kalau 21 tahun itu tua, maka tiga puluh empat tahun itu manula? Lalu empat puluh tahun ke atas itu apa? Fosil?
Eh mendadak ingat, putri seorang kawan yang berusia 30-an - er, maksudnya kawan saya yang berusia 30-an, bukan putrinya, pernah bertanya,"Ibu, waktu Ibu masih SD kayak aku, Dinosaurus masih ada?"
Anyway, hal ini sempat jadi pembicaraan di antara saya dan beberapa kawan berusia 30++ lain. Kami menertawakan dia (dan beberapa orang yang berusia 20-an awal lain) yang sudah merasa usia mereka tua. Ya biasalah, generasi yang lebih tua, kan pasti selalu mencela generasi yang lebih muda, kayak nggak pernah berusia muda (dan mungkin bertingkah lebih parah :D )
Selama beberapa hari, kejadian ini sempat membuat saya berpikir. Pernahkah saya gelisah soal umur?
Ternyata pernah dong! Tapi kegelisahan itu datang ketika saya berumur 28-an tahun. 'Mampus, udah setua 28 tahun dan belum melakukan apa-apa'.
Waktu itu saya melihat orang di sekeliling saya seperti sudah tahu mau apa; hidup mapan dan tenang (dengan versi masing-masing). Dan semua melakukan banyak hal untuk mencapai tujuannya, ada yang menikah, ada yang mengejar karir, ada yang wirausaha, ada yang nyicil rumah atau mobil, ada yang buka deposito. Ada yang investasi emas, tanah dan US$.
Saya? Main-main aja, melakukan segala sesuatu atas nama lucu-lucuan.
Oh saya kerja sih, kerja utama dan sampingan lancar, tapi ya itu dilakukan dalam rangka bertahan hidup saja. Nggak ada tujuan. Boro-boro investasi, nabung aja nggak pernah. Setiap bulannya saldo saya selalu berjumlah minimal. Kawin? Ogah! Wirausaha atau mengejar karir? Males.
Hidup mapan di masa tua nggak pernah jadi tujuan saya. Saya hanya punya satu impian sejak remaja : ingin mengajar di pelosok atau di daerah konflik. Gaya ya? Ini akibat semasa remaja saya mendengar dan melihat aksi heroik para relawan-relawan tersebut.
Lalu, kenapa saya nggak melakukan usaha untuk meraihnya? Karena saya kerap berpikir 'Masih ada waktu'. Dan ketika mencapai umur 28, saya belum melakukan apapun untuk mewujudkan keinginan saya, paniklah saya. Bagaimana nanti kalau... tidak sempat lagi? Pasti saya menyesal seumur hidup.
Secara impulsif, beberapa bulan setelah umur saya memasuki 28, saya pun melamar menjadi relawan (serela-relanya tanpa dibayar) ke sebuah LSM radikal yang bergerak di bidang perdamaian dan ditempatkan di Timor Leste. Semua orang bilang saya gila.
Ya... maab. :P
Saya melewati masa kerja selama satu setengah tahun di sana --- senang, walaupun hidup mendadak ribet, tapi kegelisahan saya sirna sudah. Saya sudah melakukan mimpi saya sejak remaja. Walaupun pada akhirnya, setelah masa kontrak berakhir, saya kembali ke kota dan bekerja seperti sebelumnya karena *uhuk* butuh duit. :))
Pada intinya, kegelisahan umur untuk kasus saya berkaitan dengan pencapaian. Sudah melakukan apa di umur sekian?
Mendadak saya nggak jadi mencela mereka-mereka yang baru berumur 20an awal tapi sudah merasa tua. Mungkin mereka gelisah juga soal pencapaian --- dan mereka lebih keren, nyadar untuk nggak buang-buang waktu di usia yang lebih muda dari saya. :)
Oh, seperti biasa, iseng saya melempar pertanyaan ini di twitter :
Sebenernya apa sih yg membuat orang ga nyaman dengan menua?
Ada yang bilang 'keriput dan ubanan'. Okay. Untung sampai sekarang saya tidak pernah kuatir soal keriput dan uban. Kenapa musti takut sama hal yang nggak mungkin dihindari? Walaupun tetap aja sih saya senang kalau ada yang nanya 'Kuliah di mana Dik?' - baru kejadian dong! *bangga*
Tapi kebanyakan menjawab : Pencapaian, apa yang sudah dilakukan untuk mencapai cita-cita. TUH KAN!
Eh tapi ada satu jawaban menarik dari @agenmossad : makin dipaksa jadi dewasa, susah mo nakal :P. INI BENER BANGET! Semakin menua, tuntutan dan tanggung jawab makin gede ya bok! Males banget. :))
Kalau kamu, apa sih yang membuat kamu gelisah ketika umurmu bertambah?
Life is too short to compromise time and resources... it may be tempting and more comfortable to just keep your head down, plod along, and appease those who demand: "Sit down and shut up," but that's the worthless, easy path; that's a quitter's way out. And a problem in our country today is apathy. It would be apathetic to just hunker down and "go with the flow." Nah, only dead fish go with the flow.
(Sarah Palin)
(Sarah Palin)
Sumber gambar : gettyimages.com
6 komentar:
Dear Okke,
Jadi inget dulu waktu SD, gw pernah ngomong gini sama sepupu yang (cuma) 6 taun lebih tua:
"Nanti kalo aku udah SMA, mba astrid pasti udah nenek-nenek."
Maklum anak SD, logikanya belon jalan.
Omong2 gw ulangtaun hari ini, yang ke duapuluhenam. Yak.
Khawatir tentang?
Hmmm... Iya betul, pencapaian dan tuntutan/beban hidup *alah*
Oya, menikah itu termasuk pencapaian?
Berarti gw belum mencapai apa2 :p
Saya berumur 23 tahun dan yang membuat saya gelisah ketika umur bertambah adalah pencapaian. Apalagi kalo melihat teman disekeliling yang sudah mulai mapan secara finansial, ada yang sudah menggendong anak, sedangkan saya? Masih bersenang-senang kerjaannya.
Umur dua puluh lima tahun dan ngerasa belum bisa menjadi produktif dengan karier,,,bla-bla lah sama saja pencapaian.
Tapi, mungkin lebih sepertinya galau datang pas saya mbandingin dengan teman-teman yang secara sosial sering disebut-sebut lebih sukses.
kadang bisa diabaikan, kadang tidak :D paling sedih kalau sudah begitu saya jadi tidak fokus,,,,nikah kali aja ya??? hahaha :P
empat bulan lagi saya juga 21 huehehehe, blum merasa tua sih. Tapi mulai mikir juga apa sih yang sudah dilakukan selama ini.
Kebanyakan hidup juga masih soal main-main (wong masih kuliah juga. hahaha)
Kalau memikirkan apa yang ditakutkan, yahh saya memikirkan mengenai pencapaian dan 'jodoh' tipikal.. tipikal..
Perasaan takut bakal jadi apa nantinya kalau sudah lulus dan apakah bakal dapat pekerjaan yang sesuai dengan hati dan kemampuan dan juga apakah akan dapat jodoh yang tepat pada waktu yang tepat. Itu semua kadang-kadang yang bikin diri sendiri gak berani untuk mikirin hal-hal lain.. :(
Sebenernya saya ini model manusia-manusia yang nyante-nyante aja jalani hidup walo umur da seperempat abad. tp lingkungan, tuntutan dan harapan2 mereka yang bikin saya jadi gelagapan sendiri. apalagi usia gini lagi rame-ramenya keluarga omongin harapan lepas dari lajang. o ow..., yang mulanya nyante jadi berkilat pake jurus silat beribu alasan, hghghgh :-p
hmm, saya 26 tahun tp terus terang belum kepikiran kapan mau ngelepas lajang. bukan gak pernah kepikir sama sekali sih, tp mencoba utk menjalani hidup apa adanya aja. ngikutin arus gt, gak mau ngelawan arus.
tp emang sih yg ribet adalah orang2 di sekitar. soalnya gak menutup mata & telinga deh, di Indonesia ini pencapaian terbesar seorang perempuan adalah menikah. jadi kl belum menikah padahal umur udah lewat dr seperempat abad, ya mau gak mau harus siap 'dirusuhi' oleh orang2 sekitar.
begitu bukan sih??
Poskan Komentar