
Setahu saya, teman perempuan saya yang berusia 24 tahun ini sudah jalan cukup lama dengan teman saya yang lain, pria umur 25 tahunan.
Oke, sebelum penyebutan dua tokoh ini jadi ribet gara-gara saya nulis, 'teman saya yang pria' dan 'teman saya yang perempuan', kita beri nama saja; yang pria sebut Indra dan yang perempuan, sebut Citra, keduanya bukan nama sebenarnya, jadi kalau ada yang mendadak GR merasa ini kisah mereka, bukan tanggung jawab saya.
Oke, sampe mana tadi? Oh ya, Indra dan Citra. Kalau nggak salah sih, mereka bareng sudah cukup lama ya, tiga tahunan lah. Selama ini saya pikir mereka memang pacaran. Eh taunya, menurut Citra, dia sendiri nggak ngerti, sebenarnya bentuk hubungannya dengan Indra seperti apa.
"Eh? Lupa ingatan lu?" tanya saya.
"Bukaaan, pokoknya gue sama Indra itu sama sekali nggak pernah ngomongin, sebenernya kita pacaran apa nggak, tapi kelakuan kayak orang pacaran aja gituu..."
"Ya udah, kalo gitu, kalian pacaran..."
"Yaa, itu sih emang jawaban gue menghibur diri setiap otak gue dipenuhi oleh pertanyaan 'hubungan gue dan Indra tuh apaan sih?' . Terus satu lagi, Indra itu nggak pernah macem-macem, jadi ya sudah, gue anggep gue sama dia pacaran, walaupun hati gue bertanya-tanya..."
"Bok, tiga tahun gitu loh? Halo?"
Citra cengar-cengir,"Terdengar bodoh gitu, tiga tahun bareng, tapi hubungan nggak jelas?"
"terdengar... er... entah ya, tapi... hubungan kalian nggak jelas gituu..."
"Iyaaaa... "
Yes, bilang saya basi, tapi saya pikir 'nembak' dan 'ditembak' itu perlu. Eh bukan berarti tembak-menembak ala remaja 'Mau ga kamu jadi pacar aku.' - loh ya, tapi setidaknya kudu ada kejelasan, itu hubungan mau dibawa ke mana. Biar masing-masing pihak bisa bersikap sesuai dengan hubungan tersebut.
Soalnya kalau nggak jelas jaya gitu, ya tentu aja nggak ada komitmen-komitmen tertentu ya? Jadi kalau salah satu mendadak bosen dan ninggalin, ya bisa melenggang santai dan berdalih,'Loh emang kita pacaran?' :D
Eh, bukan artinya kalau udah ada komitmen (pacaran) jadi nggak bisa melenggang ninggalin gitu aja juga sih, lha wong nikah aja bisa. Tapi setidaknya, untuk melenggang ninggalin gitu aja agak lebih susah, lah. Lebih repot, soalnya pasti ada drama-drama 'Teganya kamu ninggalin aku yang udah setia selama ini' yadda-yadda. Kalau tanpa kejelasan status, kan tinggal bilag 'Emang kita pacaran? Kan nggak satupun dari kita pernah ada yang nembak dan diiyain yang lain?' dan pasangan pun terdiam, lalu garuk-garuk tembok di rumah. Hihi.
"Dan lo nggak pernah menyinggung arah hubungan kalian?" tanya saya.
"Gue... nggak berani, cowok kan suka ngeri sama cewek yang suka nanya-nanya arah hubungan?"
"Eh, cuma tanya aja, kalian pacaran apa nggak,oy! Bukan ngajak kawiiin..." saya terkekeh.
"Tapi gue agak ngeri..."
"Eh gimana sih? Katanya gerah sama status hubungan yang nggak jelas, disuruh melakukan tindakan biar jelas nggak mau?"
"Aduh... jadi tanya aja ya?" Citra menggigit bibir.
"Ya, tergantung elu, nyaman ga sama ketidak jelasan?"
"Nggak."
"Ya udah nanya."
"Gimana nanyanya?"
"Ya pinter-pinter elu lah. Cobain yang standar 'honey, kita udah lama kan bareng, menurutmyu, akyu apamyuu?'
"Tsk, nggak pernah serius!" Citra manyun,"..eh tapi kapan nanyanya?"
"Ntar, pas lebaran kadal."
...
Beberapa minggu setelah pertemuan saya dan Citra ini,perempuan itu ngajak saya ketemuan lagi. Kami langsung mengobrol, begitu ketemuan di salah satu kedai kopi kapitalis tempat kami berjanjian. ngobrolin ini dan itu.
Setelah sekitar satu jam ngobrol, kemudian tercetuslah soal hubungannya dengan Indra.
"... gue nggak berani nanya hubungan gue sama dia..." kata Citra.
"Karena?"
"Karena... gue takut sakit ya bok, kalau ternyata dia menjawab tidak seperti yang gue inginkan."
"Jadinya, lu jalanin aja dengan ketidakjelasan ini?"
"Yup. Biar aja. Gue menikmati kebersamaan gue dengan Indra. Agak nggak bisa ngebayangin kalau ternyata gara-gara pertanyaan gue tentang kejelasan hubungan malah ganggu itu."
Dan saya pun berhenti berkomentar.Kalau nurutin pikiran saya ya hubungan kayak gini, nggak banget deh ah.
But then again, siapalah saya? Saya nggak berani memberikan teori tentang kejelasan hubungan lagi, karena saya adalah orang di luar mereka, yang tidak bisa merasakan kedekatan emosional di antara keduanya, yang bisa mengerti bagaimana kenyamanan mereka saat bersama-sama. :)
Lagian, siapa yang berani jamin ntar-ntarnya saya nggak begitu juga? Bertahan dalam hubungan yang tidak "konvensional" (dalam segala artian, ya, bukan soal tanpa status doang, pokoknya bukan hubungan adem-ayem-standar ala hubungan-hubungan orang lain), yang menurut orang-orang 'nggak banget', karena hal yang disebut cinteeeh.
Kan cinta itu memang buta dan cinta itu nggak pake mikir! :)
Untuk menutup entri ini, saya persembahkan :
Anjiss, lagunyaaa.. :D
7 komentar:
Eh mirip banget sama saya loh! Saya juga pernah ngalamin deket sama cowok (nggak sampe 3 tahun sih :P). Sama kayak Citra, saya penasaran dan butuh kejelasan, tapi saya juga gengsi mau nanyain gimana hubungan saya dan dia.. Alhasil, saya minta bantuan temen deket saya (yang juga kenal sama dia). Saya minta tolong aja, gimana caranya biar cowok itu kasih kejelasan ke saya, tanpa saya duluan yg nembak.
Trus temen saya bilang ke cowok itu, "Saya capek deh liat kalian berdua.. Please make it clear, tomorrow or never."
Setelah itu, saya pura-pura nggak tahu sama 'ulah' temen saya barusan. Eh, besoknya, dia nembak saya. Sampai sekarang saya dan temen saya tutup mulut soal ini, jadi kesannya dia duluan yg penasaran, bukan saya. Hehehe, kali aja saran saya bisa jadi pertimbangan buat Citra dan temen-temen lain yg ngalamin beginian juga.. Uhuhihi.. :P
wa jadi mengingatkan saya dulu mbk, hehe nggak ada deklarasi pacaran tapi sekitaran udah nganggep kalo kita pacaran,saya nggak pernah nanya ke dia soal deklarasi tersebut karena saya nggak nganggap itu pacaran :D , tapi ya nyatanya dia juga nggak nanya-nanya, kadang saya takut juga kalo ditanya, karena saya tipe orang yang asik diajak nggak serius tapi pas diseriusin saya malah kabur, apa dia udah ngerti saya ya ? :D
seringnya juga kayak gitu, dan emang ga enak banget dah :(( Tapi maslaahnya, kita jugatakut mastiin, karena takut nantinya jadi canggung (padahal kalo emang sama-sama sih kayaknya gapapa ya?)
wih saya pernah banget mba punya hubungan kayak gitu. dan gesture cowok itu memang sudah seperti orang pacaran bangeeeet ke saya, sehingga semua orang disekitar kami banyak yang bertanya tanya.
hingga akhirnya saya mutusin "it's gotta end now. i want everything or nothing at all".
dan akhirnya saya nanyain kejelasannya ke dia (sebelum berdoa memohon keberanian dulu sehari semalam haha) dan sialnya ternyata dia menghindar dan tidak mengakui semua kedekatan yg kami punya selama ini.
oh well, setidaknya pada akhirnya saya tahu sifat dia sebenarnya dan bisa mulai mencari pria lain yang lebih berani berkomitmen :D
p.s: selain itu dia mengilhami saya untuk menulis ini:
http://andreakusuma.blogspot.com/2009/12/hubungan-interpersonal-tidak.html
hehe :D
oh, sial. kenapa gw baca postingan yang ini? Jadi teringat... hehehe
ahaii.... been that kind of situation, tapi krn kita sama2 ngga punya temen yg bisa dijadiin "penghubung" akhirnya ya, selesai sudah, titik.
eits,ini ceritanya persis seperti yang dialami sahabat saya...cuman sahabat saya lebih parah, dia "jalan" 11 tahun sama cowok tanpa ada kejelasan...setiap kali ditanya selalu menghindar dengan segala macam alasan dan akhirnya sahabat saya itu menikah dengan cowok lain hanya selang waktu 3 bulan sejak mereka bertemu...sementara si cowok yang takut komitmen itu,sampai sekarang masih single fighter...hehehe...
Poskan Komentar