Ternyata ya, saya nggak perlu banget ngidupin televisi kalau mau nonton sinetron. Serius. Cukup hanya dengan log in ke dalam Facebook sahaja; di halaman 'home'-nya pasti saja ada drama ala sinetron yang terpampang.Yep, kadang-kadang status-status yang ada mengindikasika bahwa ada (drama) permasalahan domestik yang terjadi dalam kehidupan sang pemilik. Sudah gitu,seringnya berseri pula,pagi di status cerita tentang masalah I, siang di status cerita masalah I.1, sore I.2. Kalau itu buku, jadi kayak bab dan sub-bab-nya. :D
It makes me wonder, kok mau sih buka-buka isi perut di tempat umum? Status itu kan bisa dibaca oleh semua orang yang ada di friend list yang bersangkutan. Mending kalau orang-orang yang ada di friend list-nya sedikit, lah orang Indonesia,kan,most likely punya teman lebih dari seratus, ya toh?
Well, okay. Iyee, orang beda-beda. Ada yang memang nggak masalah bersikap super terbuka seperti itu, ada yang memilih untuk berhati-hati.
Anyway, sebulan ini saya 'mengikuti' dua kisah drama domestik dua orang yang ada di dalam friend list saya. Sebenernya bukan cuma dua drama aja sih yang ada; tapi dua inilah yang 'selalu' kelihatan setiap saya log in.
Yang satu menceritakan tentang seorang ibu rumah tangga yang mengalami kekerasan dalam rumah tangga, memutuskan untuk bercerai ; eh dalam proses cerai ia kerap menerima teror dari sang (calon) mantan suami. Teror-teror yang dilakukan ngeri boook! Saiko.
Yang satu lagi, tentang seorang perempuan awal duapuluhan, mempunyai seorang pacar yang (kalau dibaca dari statusnya sih) playboy. Yang ini rada lucu sih, soalnya dia kayak lagunya BBB, putus-nyambung. Yep, selain dari status, ada kali sehari sekali dia gonta-ganti relationship status, dari in relationship, it's complicated kemudian single. Kalau sedang 'in relationship' statusnya penuh kemesraan dan berbunga-bunga ala gadis sedang jatuh cinta. Kalau sedang 'it's complicated' dan 'single', statusnya penuh benci dan makian yang terkadang jahat banget.
Nggak, saya nggak mau ngebahas tentang apa yang terjadi dalam kehidupan mereka, karena saya nggak tahu (walaupun sering saya mendadak mengarang cerita sendiri dalam benak, berdasarkan dari rangkaian status-status mereka.Hihi, maafkeun daya imajinasi saya).
Kesimpulan (imajinatif) saya, sang (calon) mantan suami di kasus drama pertama pasti benci banget pada sang (calon) mantan istri sampai segitunya buang-buang energi meneror. Dan di kasus kedua, si perempuan itu pasti benci banget pada apapun yang dilakukan pacarnya sampai ia tega memaki-maki sedemikian rupa.
But they do remind me of myself,tho.
Yup, saya pernah berada dalam fase benci banget pada (mantan-mantan) pasangan saat hubungan saya dengan mereka bermasalah. Pernah sih sekali, jaman saya masih muda (hihi), saya sengaja meribetkan salah satu pasangan saya. *tersipu malu*. Kagak usah diceritain lah ya, itu aib bok! Maklumlah,gelora perempuan yang labil gara-gara quarter life crisis. :))
Cuma sekali itu saja, sekarang-sekarang tampaknya saya berubah menjadi perempewi berspesies GENGSIANUS BANGETUS, saya gengsi kalau menunjukkan bahwa saya bermasalah - saya cenderung ingin menunjukkan bahwa saya baik-baik saja dan nggak butuh. Meneror itu bukti bahwa saya nggak baik-baik saja. Memaki-maki sama saja. GR banget itu (mantan-mantan) pasangan saya kalau tahu saya nggak baik-baik saja. :D
Anyway, seringnya setelah masa benci lewat (artinya saya sudah punya pacar baru,hehe), saya jadi berpikir, ih kok bisa-bisanya saya heboh benci pada mantan(-mantan) saya? Lalu saya tarik mundur lagi ingatan saya, sampai ke masa di mana hubungan saya dan mereka baik-baik saja.
Wuih, masa-masa itu, banjir kata 'I love you so much'. Dan saya ingat juga berapa saya (merasa saya) sangat mencintai mereka.
Ke mana perginya perasaan-perasaan seperti itu saat hubungan bermasalah ya? Kok kayak nggak nyisa, cuma rasa benci-benci-sebel-kesel-marah saja yang ada?
Kemudian saya jadi meragukan perasaan saya di masa-masa indahnya hubungan kami (huek!). Jangan-jangan waktu itu saya salah tafsir? Waktu itu saya merasa saya mencintai mereka, padahal sebenarnya enggak --- saya mencintai diri saya sendiri.
Yes, saya--- sebagai manusia--- kan punya kecenderungan egosentris, memusatkan segala hal pada diri sendiri. Pokoknya diri sendiri nyaman, aman, tentram dan semua hal lain yang menyenangkan diri sendiri.
Sewaktu saya bilang 'I love you so much' pada mereka, itu karena saya berada dalam masa di mana hubungan kami menyenangkan dan menyamankan. Kenapa bisa menyamankan dan menyenangkan? Karena mereka masih berperilaku tepat seperti yang saya harapkan. Dan mereka mengatakan 'I love you too' pada saya, karena saya masih tepat seperti yang mereka inginkan.Masih ada timbal-balik. Take and give.
Lalu ketika mereka mulai bertingkah di luar apa yang saya mau, misalnya mereka bosan, atau mereka terlalu mengikat, atau mereka ngelirik yang lain, saya mulai kecewa. Sama juga kejadiannya pada mereka, ketika saya berlaku tidak sesuai dengan yang ia mau, misalnya saya bosan, saya cuek, atau saya ngelirik yang lain (hihi), mereka kecewa. Tidak ada timbal balik. Pincang.
Mulailah terjadi friksi-friksi akibat mempertanyakan 'Kenapa lu jadi begini sih?' (Yang sebenarnya kalau diterjemahkan : kenapa lu nggak berlaku sesuai dengan ekspektasi gue sih?), yang ujung-ujungnya jadi saling menyakiti.
Seperti (calon) mantan suami di kasus drama status pertama, tega ya bok, meneror sedemikian rupa? Seperti juga perempuan di kasus drama status facebook kedua yang makiannya sadis nian itu.
Entahlah, sekarang setiap saya bilang 'I love you' dan merasa mencintai pasangan saya yang sekarang, saya jadi mikir, apakah benar saya mencintai dia? Atau saya cinta diri saya sendiri?
Karena saya tidak (belum) terluka olehnya,maka saya (merasa seolah-olah) mencintai dia. Nanti-nanti kalau ternyata ia melukai saya, apakah masih ada 'I love you?', apakah masih ada perasaan cinta itu?
Entahlah.
“Pure love is a willingness to give without a thought of receiving anything in return.”
(Peace Pilgrim quote)
sumber gambar : gettyimages.com
11 komentar:
hahaha... saya juga punya pengalaman begini, ketika dua orang teman -yang tidak terlalu dekat dengan saya- baru saja putus dan saling memaki, saling curhat, butuh pasangan, dll, dengan terlalu gamblangnya! hehehe... mereka selalu saja ada di Home facebook saya. jadi mau nggak mau, jadi suka menerka sendiri :D
Kesenggol pisaaan nih sama postingan inih heheheh :D
Love the quotes.. Punten, pinjem buat jadi status facebook yak.. wakakakaka :D
kita ga pernah mengenal orang sebaik yang kita kira ...
ahahaha, lucu sih, lumayan buat hiburan.. *lah kok?
First hand experience: indeed. Seperti yg Wuri bilang: kita nggak pernah mengenal orang sebaik yg kita kira.
Dalam keadaan bersebrangan, orang tersebut sanggup mengatakan atau menuliskan apa aja. Dan sungguh dibutuhkan kepala dingin + hati beku buat nggak nanggepin, hehehe :D
ya kadang ada yg lebay banged dgn statusnya. Dan dengan tidak disengaja, sy jadi menghakimi *ga ada niat loo, tp statusnya klewat lebay dan sering bgt*
hahaha well itu hak2 mereka sih, try not to judge ;)
postingannya bagus. :D
masuk akal :D
hahahaaa iya bener....
gw juga ada bbrp tmn di pesbuk & twitter yang gitu.. itung2 hiburan gretong ;P
hihihi... kalo saya mah anti ngumbar2 kedengkian di facebook, mungkin sama juga karena saya masuk dlm spesies gengsianus bangetus LOL
-F-
FB itu juga buat sarana hiburan
tapi hiburan dari dunia nyata
kisah nhyatanya teman kita
kadang menggelikan
tapi kadang juga memprihatinkan
salam
(^__^)
Hahahaha
kadang gue juga heran yg pada pameran status begitu.
Doooh kadnag yg baca juga risih :)
btw apa kbr mbak?
Sibuk ama wardrobe nya ya?
Poskan Komentar