Senin, Mei 03, 2010

Yang Hamil, Yang Pusing.


Jadi, salah satu teman saya hamil. Oh, tentu sudah menikah, jangan curigaan dulu ah! :D Usia kandungannya sekitar 3 bulan-an. Sebenarnya ia mengetahui bahwa ia hamil sejak usia kehamilannya sekitar 4 mingguan, cuma dasar teman saya percaya mitos, ia memutuskan untuk menunda membagikan kabar gembira ini pada saya.

Eh pada tahu kan, ada mitos yang bilang, kalau usia kehamilan masih di bawah tiga bulan, belum boleh ember bilang ke mana-mana?

Anyway, mukanya berbinar-binar saat menceritakan itu pada saya. Saya ikut senang lah, soalnya dalam waktu 1.5 sampai 2 tahun ke depan saya punya 'mainan' baru yang bisa memanggil 'Tante.'

Eh, pasti nanya deh, kenapa 1,5 tahun sampai 2 tahun, padahal yang namanya hamilton itu cuma 9 bulan. Ya kan?

Begini... uhm, soalnya... i am scared of babies, bayi-bayi yang terlalu kecil itu sedikit mengerikan buat saya --- bukannya apa-apa, bayi-bayi yang umurnya masih hitungan bulan itu tampak ringkih banget dan saya, sebagai orang yang sering menjatuhkan dan merusakkan barang-barang tanpa sengaja, sumpah takut banget kalau deket-deket mereka, takutnya kecerobohan saya mengakibatkan hal yang fatal bagi bayi-bayi tersebut.

Sepanjang ketemua itu, teman saya ini sangat bersemangat menceritakan tentang kehamilannya.

'Rasanya ajaib deh, hamil. Ada kehidupan dalam badan gue.' katanya.
'Iyee, gue juga nggak bisa berhenti kagum sama proses hamil ini. Bisa ya ada kehidupan dalam badan seorang perempuan. Tuhan memang keren! Hail, God!' jawab saya.

Dan kami pun tertawa-tawa.

'Benar-benar deh, yang namanya kehamilan itu membuat gue bahagia banget. Bahagia. Banget.' katanya lagi.
"I can see that...you are glowing." saya tersenyum.
"Makanya hamil deh..."
"Sekarang?"
"Iya..." ia terkekeh.
"Et dah, lu gila, nikah aja belum disuruh hamil. Apa kata kaum-kaum beriman itu, Nyet?'

Kawan saya ngakak.

"And, please don't say makanya nikah." saya mendelik.
"Kagak lah... gue kan bukan sejenis mahluk basi yang suka merongrong dengan pertanyaan 'kapan nikah?'" ia berkata dengan kocak.

Dan hari itu ia terus bercerita dengan riang. Saya benar-benar bisa merasakan kebahagiaan di dirinya.

...

Di kesempatan yang berbeda, tidak lama sesudah pertemuan tersebut, saya bertemu dengan suami kawan saya, ia kebetulan sedang terlibat dalam satu project dengan saya. Hari itu kami janjian ketemu di sebuah cafe kapitalis, yang kopinya terasa ecek-ecek, tapi tempatnya ber-wifi. Dengan spontan saya memberinya selamat.

"Selamaaaaat! Ciyeee, yang mau jadi bapak..." goda saya.
"Hehe, thanks." ia tersenyum, saya bisa melihat kegembiraan di wajahnya, tapi reaksinya tidak sesemangat kawan saya. Yah, kali karena dia cowok ya, cowok kan suka sok cool.
"...tapi.. please, kalau kandungan istri lo membesar dan lo iseng nyoba USG 4D, terus upload di FB, jangan tag gue!" kata saya, karena tiba-tiba teringat, ada kawan yang lain, yang pernah menge-tag foto hasil USG 4D kandungannya. Itu sumpah asli, saya serem. Bo, the baby looked like an alien! Aduh, USG yang biasa-biasa aja deh!

Yang mau liat gimana penampakannya USG 4D ini, silahkeun klik : http://ow.ly/1GkEt

Lalu kami pun ngupi-ngupi sore sambil membahas soal pekerjaan kami.

"Oh shit. I need more jobs!" mendadak suami kawan saya berkata demikian.
"Eh, loh, apaan sih?" saya bingung.
"Iya, gue butuh banyak side job nih. Lu kalo punya gawean, kasih gue ya? Kasihanilah calon bapak ini..." ia cengar-cengir kocak.

Kening saya berkerut-merut tanda tak mengerti.

"Ih, lemot amat sih lu?" suami kawan saya terkekeh.
"Laaah, ini coba ya, lu mendadak ngomong gitu, ga ada angin ga ada ujan. Nenek-nenek koprol juga nggak ngerti kali..." protes saya.
"Anjis, nenek-nenek koprol. Makin lama kosa kata lu makin lenong aja." ia tertawa,"Iya, istri gue hamil, butuh banyak biaya dong ya untuk memastikan bahwa kehamilannya sehat, belum lagi biaya melahirkan yang mahal banget . Mending kalo lahirnya normal, kalo kudu operasi? Alamak."
"Nah, gitu dong, pake intro. Oh oke. Ntar kalo gue tau ada job, gue kasih tau lo."

Lalu kami membahas pekerjaan kami lagi.

"Duh, kayaknya gue ambil full time job aja kali ya? Lebih jelas penghasilannya, sukur-sukur dapat asuransi kesehatan dan lain-lain dan lain-lain buat keluarga." mendadak ia ngelantur lagi.
"Eh lah? Balik lagi. Ini ada apa sih?" saya kembali mengerutkan kening.

Saya memerhatikan dirinya. Ia terlihat sedikit risau.

"Begitu gue tau istri gue hamil, rada pusing juga gue soal pengeluaran-pengeluaran yang pastinya bertambah..."
"Ya risiko bukan sih? Risiko atas pilihan lu untuk menikah dan punya anak." saya mencibir.
"Iya, nenek-nenek koprol juga tau itu risiko," balasnya,"...dan bukan berarti gue nggak siap, cuma sedikit was-was aja. Takutnya gue nggak bisa memenuhi kebutuhan keluarga."
"Lah istri lu kan kerja juga."
"Iye, iye," ia tersenyum,"... cuma sebagai kepala rumah tangga, harus gue dong yang bertanggung jawab memastikan bahwa seluruh kebutuhan keluarga bisa tercover dengan baik."
"Kenapa harus lo? Kenapa nggak istri lo aja yang bertanggung jawab atas kebutuhan keluarga lo?" celetuk saya iseng.
"Bukan berarti ntarnya istri gue nggak ikut berperan serta loh ya, dalam urusan finansial, cuma tetap aja, gue sebagai penyokong utama, dia yang memberi tambahan."
"Kenapa nggak di balik? Dia yang penyokong utama, terus lo yang nambah-nambahin." saya melanjutkan lagi, masih atas nama iseng.
"Terus gue yang di rumah, ngerawat anak, dan ngurusin urusan domestik, gitu?" tanyanya,"Apa kata dunia kalau gitu?"
"Kenapa nggak?"
"Ya enggak aja..."

Saya tertawa, bukannya saya nggak tau ya, saya cuma iseng saja. Saya tahu kok kita ini hidup di masyarakat patriarki, yang 'memaksa' pria untuk menjadi 'nomor satu', yang harus tabah (laki-laki nggak boleh nangis), laki-laki harus kuat, laki-laki harus ini-itu, termasuk : laki-laki penunjang kehidupan keluarga. Untuk yang terakhir, saya sering mendengar seloroh 'Gaji suami untuk istri (dan keluarga), gaji istri ya buat istri.'

Tentu saja hal ini membuat para pria wajib untuk melakukan itu, kalau tidak, masyarakat akan mencemoohnya sebagai pria 'impoten'. :D Berat amat ya hidup jadi laki. Dan siapa bilang jadi perempuan nggak enak melulu?

Iya, emang (masih) banyak terjadi ketidakadilan terhadap perempuan, cuma kalau dipikir-pikir, banyak juga keuntungannya kok. :D

Kalau misalnya kaum perempuan protes gara-gara mendapat ketidakadilan dinomor-duakan dalam ---- misalnya ---- soal pekerjaan - karena berjenis kelamin perempuan dianggap tidak mumpuni untuk menjadi pemimpin, di saat yang sama, laki-laki juga mendapat ketidakadilan harus (terus menerus) jadi nomor satu sampai susah nyante-nyante.

Juga untuk soal penghasilan, di saat perempuan kadang-kadang mendapat cemoohan 'kurang pintar' : 'perempuan ngapain sekolah tinggi-tinggi sih, ujungnya dapur juga kan?' atau 'jangan sibuk berkarir sampai tinggi, ntar laki minder', di saat yang sama pula, laki-laki mendapat tuntutan kewajiban untuk ngoyo sekolah tinggi, berkarir tinggi-mapan.

Di saat perempuan tidak dipermasalahkan bahkan dimaklumi jika berhenti kerja dengan alasan 'ingin fokus merawat anak' --- apa laki-laki bisa menggunakan excuse yang sama?

Heyah, jadi panjang!

Mungkin itu juga ya yang membedakan 'reaksi' kawan saya dan suaminya tentang kehamilan ini? Berasa banget, beda 'aura'nya, kalau kemarin kawab saya terus menerus ngomongin kehamilannya dengan bahagia, kalau pun ada kekhawatiran, tentu kekhawatiran soal kesehatan kehamilan dan janin, nah sekarang, saat mengobrol dengan suaminya, saya mendengar kekhawatiran soal kemampuannya memenuhi kebutuhan keluarga.

Sebelum saya dan suami kawan saya kembali membahas pekerjaan, saya sempat berkata,"Berat amat ya jadi laki, isunya sih harus jadi yang terhebat dan nomor satu. Untung gue perempuan, bisa nyantai."

Dan dibalas dengan cengiran darinya,"Tapi elu konon selalu jadi nomer dua."

A woman worries about the future
until she gets a husband,
while a man never worries about the future
until he gets a wife.
Proverb

Sumber gambar : Gettyimages.

16 komentar:

Nuniek Tirta mengatakan...

temen lo hamil Ke? ajak belanja di butik gw dong, hihihi...

Mirna mengatakan...

gw juga takuuut kalo harus gendong new born baby.... hahahaha

Anonim mengatakan...

ini ceritanya yang lajang ya? kamu capricorn ya? kok kayak temen aku si kalo ngomong suka nyablak

doena mengatakan...

nice quote..

Edo Belva mengatakan...

aku setuju ma yang si calon bapak...
laki-laki harus bisa jadi itu-nya keluarga,...hehe

ngomong2 quote nya bagus juga..

lajangdanmenikah mengatakan...

@nuniek
Sip, tar gue bilangin. :)

@mirna
hihi, iya, ngeliatnya ringkih bener, takut kecengklak kalo digendong2.

@anonim
emang ciri capricorn nyablak? :)

@doena
makasih, gw juga dapet dari hasil googling kok :)

Edo
hehe, yaa, emang harus setuju krn yg di masyarakat 'aturan'nya gitu, klo beda ntar dianggep orang aneh :D

Anonim mengatakan...

iya ciri capricorn nyablak mbak,,mbak capricorn bukan?

Dunia Wedding mengatakan...

waah....asik juga neh ceritanya....

Arief mengatakan...

Tepat sekali uraian dan quotes nya.....tidak dapat disangkal lagi bahwa semua suami yang "bertanggung jawab" pasti mengalami "Worries" saat istrinya sedang hamil atau akan melahirkan. "worries" yang tertanam dalam pikiran sang suami seringkali menjadi penyebab Stres bagi sang suami disebabkan biaya yang harus tersedia untuk melahirkan maupun perawatan bayi yang ideal. Beberapa kasus menunjukan sang suami mengalami depresi saat beban biaya yang harus dikeluarkan melebihi kemampuannya....adapun tanda-tanda stres yang muncul pada sang suami adalah : kepala pusing, sulit tidur, sulit untuk konsentrasi, penegangan otot/ pegal-pegal.

lajangdanmenikah mengatakan...

@anonim
bukan.:)

@duniawedding n @arief
Beriklan ni ye..

Indah'cmoet Wahyuningsih mengatakan...

mang kalo dipikir2 kasian cow sebagai kepala kluarga dia mempunyai tanggung jawab yg sangat besar untuk menghidupi kluarganya tapi ya itu tadi thats life dah ada proporsi jobdesknya masing2 gmn mreka bisa take and give ajah biar bisa tercipta keharmonisan kehidupan berkeluarga, jiaaah bahasaku kyk apa ajah ^_^

Anonim mengatakan...

nampak riweuh yah....
well, tiap orang -laki2- beda-beda kali pendapatnya yah :))

'solitudetimes' mengatakan...

Hihi.. Jaman sekarang emang ada2 saja. Hasil USG mau di-upload segala :D

Anonim mengatakan...

pertanyaan pertanyyaannya... sepertinya... tidak biasa terkesan...
hasilnya juga jadi aneh...

fleur mengatakan...

paling suka sama quote bagian akhir,,, *senyum-senyum sendiri* :D

Edo Belva mengatakan...

entah kenapa waktu maen ke blog ini, malah nyasar ke postingan ini yang ternyata gw pernah ngomen di sini, hehe...

Bukan gara2 udah dianggep gitu sama masyarakat, gw gak pernah masalah kalo dianggep beda, karena pada dasarnya tiap orang emang beda kan?\
tapi gw setuju sama si bapak yang harus ini-itu tu gara2, menurut gw, ada suatu kepuasan pribadi jika gw yang insyaAllah suatu saat kelak akan menjadi seorang ayah. bisa memenuhi kebutuhan keluarga dari keringat gw...
That's cool!
Pendapat pribadi sih, hehe

Blog Widget by LinkWithin